Perselingkuhan membawa Cinta (cerpen)

Mataku tak mampu terlepas darinya, senyumnya yang tak pernah ku lupa. Sorot matanya saat menatapku dari kejauhan selalu terngiang. Senyum manisnya saat kami berpapasan cukup membuat jantungku berhenti berdetak. Aku menyukainya! Sangat menyukainya, harapanku selalu terkikis saat aku menyadari bahwa aku tak lagi sendiri. Aku tau ini salah, aku menaruh perasaan kepada orang lain saat aku telah bersetatus sebagai kekasih laki-laki lain.Dan semua orang disekolah tau akan itu, kekasihku adalah seorang alumnus SMA ku sekarang. Kami berbeda usia sekitar 3 tahun dan hubungan ini sudah lama kami bina. Bukan aku tak sayang dengannya, namun perlakuannya yang tidak menyenangkan membuatku sedikit tak meresponnya. Dia kasar, selalu memaksakan kehendaknya terlebih saat dia sudah kalut. Tak ada yang bisa kuperbuat! Mungkin kehadiran Andre sedikit banyak membuatku berani tersenyum lagi akan sikap Rifki.
Perkenalanku dengan Andre bukan secara langsung, aku duduk dibangku kelas 10 dan Rifki sekarang 2tahun diatasku. Dia seniorku, tak pernah aku bertegur sapa sebelumnya. Aku takut dia takkan merespon teguranku atau bahkan dia akan mengadu kepada Rifki, walaupun aku tak tau Rifki dan Andre saling kenal atau tidak. Andre laki-laki tampan, pendiam dan memiliki pesona yang membuat hampir sebagian wanita disekolah mengaguminya seperti aku ini. Tak dapatku lakukan apa-apa untuk lebih dekat dengannya, aku tak mau mengambil resiko untuk lebih memiliki rasa itu untuknya, sadar atau tidak aku memiliki Rifki.
"halo? beb jadi jemput kan?" tanyaku melalui handphone kepada kekasihku Rifki
"aduh maaf beb, aku masih ada kelas nih habis ini. Kamu mintak tolong anterin siapa gitu ya? maaf banget" ucapnya enteng tanpa memikirkan aku yang sudah 1 jam lebih menunggunya
"oh yaudah gapapa, aku naik taxi aja" jawabku mengalah, aku tak mau akan ada perdebatan yang lebih panjang dan akhirnyapun harus aku yang mengalah.
"yaudah, udah dulu ya? aku masuk kelas dulu. Love u beb" ucapnya danlangsung memutuskan pesawat telpon nya
"love u too...." jawabku walaupun aku tau Rifki tak mendengarkan balasan ini
"lagi-lagi gue ngalah!" ucapku kesal sembari berjalan menuju luar sekolah untuk mencari taxi yang akan mengantarkan aku pulang kerumah namun tiba-tiba ada seseorang yang mengagetkanku. Ditepuknya pundakku sembari berkata "belum pulang?" tanyanya.
Dan saat aku menoleh, ternyata laki-laki itu Andre, aku hanya melihatnya tanpa menjawab apapun. Aku kaget, tak menyangka kalau dia bisa menegurku.
"hey?" sapanya membuyarkan tatapanku untuknya
"emh iya kak belum, ini baru mau pulang" jawabku gugup.
"enggak dijembut bang Rifki?" tanyanya membuatku sedikit kecewa, ternyata dia tau hubunganku dengan Rifki, ini berarti aku memang benar-benar tak boleh mengharapannya dan hanya boleh untuk mengaguminya saja. Hancur rasanya, baru saja aku bisa bertegur sapa dengan laki-laki yang aku kagumi ini dan menyadari bahwa aku milik lelaki lain dan itupun atas bantuan Andre.
"enggak jadi jemput dia, ada kelas lagi katanya"jawabku mulai melemas
"aku anterin aja gimana?" jawabnya tiba-tiba. Jantungku berdegup kencang, kebingungan menyelimuti otakku.
"gakusah kak, lagian aku juga mau cari makan dulu" jawabku kebingungan
"oh yaudah" ucapnya singkat
"ih aaa Sika bego banget! kok kak Andre gak maksa atau gimana gitu ya. oke gue emang bego menyianyiakan kesempatan" ucapku dalam hati
"tapi kayakya ue juga laper deh. makan bareng aja yuk, gue tlaktir"tawarannya kepadaku yang membuatku tak percaya
"hah? seriusan?" jawabku dengan muka tak percaya dan sepertinya membuatnya tertawa kecil
"lo lucu banget sih. lo tunggu sini gue ambil motor dulu oke?" jawabnya sembari mengacak-acak rambutku yang ikal ini.
Aku hanya mengangguk dan segera merapikan rambutku, rasa tak percaya akhirnya aku bisa berdekatan dengannya. Senyumku kembali mengembang, jauh lebih lebar dari biasanya saat aku mencuri pandang saat melihat Andre.
"yuk" ucapnya sembari memberikan helm untukku kenakan
"makasih" balasku dan memakainya walaupun sedikit kesusahan untuk mengancingkan helmnya
"gini caranya" yang memasangkan kacing helmnya dan tak sengaja menyentuh tanganku
"tangan lo dingin banget. lo sakit?" tanyanya penasaran
"enggak kok kak, cuma..."
"cuma kenapa?"
"cuma belum makan aja. hehe" jawabku menutupi kegugupaku dan menaiki motornya. Ya Tuhan belum pernah aku sebelumnya seperti ini, tanganku dingin, gugup bahkan jantungku tak henti-hentinya berdegub dengan kencang.
Diperjalanan aku hanya sering terdiam, aku tak tau apa yang akan aku ucapkan, seakan mulutku terkunci, yang kulakukan hanya memegang jaketnya dan tersenyum malu dibelakang
"mau makan dimana?" tanyanya
"terserah kakak aja deh" jawabku
"emb kamu biasanya makan dimana?"
"dimana aja sih kak, gakmasalah kok" ucapku ya memang tak akan ada masalah jika aku tetap bersamanya, jangankan hanya untuk makan siang bersama.
"kok gue jadi aku kamu gini sih" ucapnya dengan sedikit tertawa
"hehe, gapapa kali kak" jawabku kembali dibuatnya tersipu
"kamu keburu-buru gak?" tanyanya kembali sedikit mengalihka perhatian
"enggak sih kak, gak mau kemana-mana juga kok" jawabku
"ke mall aja yuk sekalian jalan-jalan"
"ayuk. yes!" jawabku yang tak mampu
"haha, kenapa sih?"
"enggak kok kak, udah lama aja pengan ke mall" jawabku menutupi rasa maluku atas kebodohanku didepannya
Dibawanya aku dipusat perbelanjaan didekat sekolah kami, dia menyenangkan. Dia membuatku benar-benar menikmati kebersamaan kami, sikapnya membuatku nyaman. Dia memanjakan aku, sikapnya ini yang takku dapat dari Rifki kekasihku.
Setelah selesai makan dan sedikit berjalan-jalan, bahkan berbelanja dengan ditemani Andre, langkahnya terhenti didepan toko baju wanita
"kenapa sih?" jawabku tak mengerti
"oh gapapa kok, yuk" jawabnya sembari menarikku, ku lihat kedalam toko baju itu dan aku melihat Rifki dengan Nelita kakak sepupuku yang notabene adalah mantan kekasih Rifki.
"kenapa?" tanya Andre
"tunggu disini sebentar" jawavku sembari melihat Rifki dari kejauhan
"udahlah, jangan kayak anak kecil." jawabnya menarikku pergi dari tempat ini
Hatiku tak terlalu sakit, aku tak merasakan kecemburuan saat melihatnya. Bahkan diotakku terbesit untuk memutuskan tali kasih kami agar aku dapat menjalin hubungan yang lebih bersama Andre, namun yasudahlah. Biarkan dia bersenang-senang dibelakangku dan aku bersenang-senang dibelakangya. Itu lebih adil menurutku.
Sejak hari itu, aku dan Andre semakin dekat saja. Dan tanpa canggung kedekatan ini kami umbar didepan seluruh antero sekolah, tak ada yang aku takuti. Rifki? biarkan saja, toh dia juga melakukan ini dibelakangku. Bahkan kedekatan kami berujung dengan hubungan berpacaran, namun yang aku suka dari Andre adalah dia tak mau membahas aku dan Rifki selama kami bersama. Dia benar-benar seperti apa yang aku bayangkan, aku tak pernah menyesali hubungan ini. Walaupun aku melukai perasaan orang lain akan kebahagiaanku ini.
Suatu malam, aku berniat untuk memberi kejutan kecil untuk kekasih baruku, saat aku menyambangi rumah kostnya aku melihat mobil Rifki sedang parkir dihalaman kost Andre, rasa penasaran sekaligus takutku menyeruak. Perlahan ku dekati dan kudengar kata-kata yang membuatku menangis seketika
"gue udah pacarin Sika kayak yang lo mau! sampek kapan lo mau kayak gini, kenapa gak lo putusin Sika bair lo enjoy sama Nelita?" tanya Andre
"gue masih bingung antara Nelita dan Sika, Nelita hamil anak gue. Tapi Sika selalu ada disaat gue butuh. Jangan bilang lo beneran suka sama Sika" balas Rifki
"Sika cantik, dia baik, anis, menyenangkan. ada alesan gue jadi makhluk begok kayak lo?Gue mau stop mainin Sika dgn sekenario lo, gue mau jalanin ini serius sama Sika" jawab Andre
"bajingan lo ndre! kenapa lo embat cewek gue? gue cuma nyuruh lo gantin posisi gue buat ngebahagiain dia selagi gue nentuin pilihan!!" bentak Rifki yang hampir saja memukul Andre namun itu semua terhalang oleh keberadaanku
"CUKUP!"
"kalian kenapa berantem? siapa yang bajingan rif? siapa?! bukannya lo juga?! kamu? jadi ini semua cuma sandiwara? keren kalian banci!"ucapku memaki mereka
"beb, aku bisa terangin!" ucap Rifki
"enggak! lo gak perlu lagi ambil keputusan, gue udah gak butuhin lo! Nelita dan anak yg dia kandung lebih butuhin lo!" balasku membentaknya
"pergi lo sekarang!" ucapku mengusir Rifki.
Rifki pergi meninggalkan aku yang sudah menangis hingga sesak dadaku, sedngkan Andre hanya terdiam dan menunduk.
"kenapa kamu diem aja? udah puas sama situasi kayak gini?! seneng bi?" bentakku
"aku tau aku salah bi, maaf." ucapnya seraih tanganku
"maaf? segampang itu kamu bilang maaf?! kamu tau bi aku sayang sama kamu?! tapi kenapa kamu tega lakuin ini?! kenapa kamu diem aja waktu ada orang yang sengaja nyakitin aku? bahkan kamu ituk buat nyakitin aku?!"
"aku pikir ini jalan satu-satunya buat deketin kamu dan bisa ambil kamu dari Rifki bi. Rifki mintak aku jagain kamu, dan dengan senang hati aku ambil kesempatan itu buat bikin kamu jadi punyaku! Lama bi aku sayang sama kamu, aku ngarepin kamu godain aku kayak temen-temenmu tapi nyatanya? Aku kira kamu sayang banget sama Rifki bi awalnya, tapi setelah kita deket aku tau kenapa kamu gak bisa lepas dari Rifki. Aku salah bi, tapi kasih satu kali kesempatan buat aku buktin semua ini" jelasnya sembari memeluku seakan ingin menenangkanku.
Kata-katanya memuatku luluh, dekapanya membuaku merasa hangat.
Perasaanku tak dapat menahan rasa amarahku kepadanya, aku berikan dia satu kesempatan untuknya. Dan yang paling membuatku bahagia, sampai sekarang 4tahun kami menjalani hubungan ini tak pernah dia membuatku kecewa hingga membuatku menangis, cinta dan perlakuannya sama seperti dulu, saat pertama kali dia memberanikan diri menyentuh tanganku hingga dia mengecup bibirku dengan penuh cinta.
Mungkin ini jalannya untukku temukan cintaku, walaupun hubungan kami berawal dari perselingkuhan hinggga sandiwara. Namun inilah yang terjadi, cinta kita yang membuat semuanya indah pada waktunya :)

Comments

Popular Posts