Semoga, rilis.
Hai..
Apa kabar? Sudah lama tidak menuliskan patah dan tumbuh pada laman ini.
Rasanya, mencari hal baru untuk merilis kecemasan yang ku punya tidak pernah berhasil. Maka ku putuskan untuk menulis kembali.
Setelah banyak teman-teman yang "memaksa" untuk kembali menuliskan sajak-sajak lugas ataupun romantis.
Setelah patah yang tidak berkesudahan, rasanya aku ingin menggantikan tangis dengan tawa. Ingin secepat mungkin tertawa bersama tubuh lain yang sudah ku tau hanya tubuh, nama dan suaranya saja yang berbeda. Selebihnya sama!
Manusia dengan banyak luka sepertiku rasanya tidak cukup dewasa untuk memaksakan jatuh cinta dengan cepat. Semata-mata hanya untuk merasa di temani, tapi pada akhirnya luka lagi yang di tawarkan.
Rasanya, membohongi diri dengan "enggak, aku mau selflove dulu" sudah tidak relevan lagi untuk ku jadikan alasan untuk tidak menerima tawaran hati yang ingin mendekat. Atau, alasan ingin bersenang-senang hanya menjadi bumerang. Ternyata sepi tidak akan pernah bisa terobati dengan mendatangkan sosok baru untuk menemani.
Haha, lucu sekali ya ternyata..
Mengobati luka memang harus dengan membiarkan lukanya nampak dan terkena angin. Lalu di bersihkan dan di beri obat, biar lekas kering dan membaik. Bukan dengan terus-terusan di tutupi, yang ada malah membusuk.
Sedangkan, saat luka dengan sengaja di biarkan terbuka, ketakutan sekali untuk tersenggol orang, terbentuk meja atau hanya sekedar terkena air dan debu.
Lalu bagaimana caranya? Sepertinya aku tidak pernah tega untuk menyakiti diri sendiri, yang ada aku membiarkan orang lain memberi rasa sakit yang ku buat sendiri.
Semesta, bahagia adalah sejatinya datang dari diri sendiri bukan dari tubuh yang lain. Hati ku sendiri yang harus merasa bahagia, sampai pada akhirnya aku membagikan bahagiaku sendiri dengan porsi yang adil.
Luka hatiku ternyata masih terlalu dalam, rasanya ingin sekali di hargai dan di cintai tapi semua tidak akan pernah terjadi kalau aku tidak menghargai dan mencintai diriku sendiri.
Pada telinga yang berkata selalu ada, nyatanya hanya mulutnya yang dengan entengnya tidak mau untuk berdiam. Pada tubuh yang selalu ku belai, nyatanya sentuhannya tak pernah benar-benar terasa hingga aku mampu meletakkan kepalaku pada dada bidang mu.
Sesungguhnya, aku belum mampu menemukan telinga yang sejadi-jadinya mendengarkan keluh ku. Peluka yang sejatinya bisa membuatku tenang. Senyum yang bisa membuatku luluh. Atau bahkan tatap matanya yang membuat ku berdebar.
Hatiku melemah, rasanya tidak ada keuntungan yang bisa aku dapatkan saat bersandar pada manusia yang masih kuat di penuhi ego.
Selayaknya manusia lain, aku ingin teman berbagi. Memberi dan menerima, bukan hanya saja mau di dengarkan tanpa ingin di dengarkan.
Terimakasih banyak-banyak, aku belajar sendiri dari banyak yang hal yang pernah terjadi. Maaf jika pada akhirnya aku menarik jarak untuk membatasi telingaku untuk mendengarkan. Karena untuk mu, mendengarkan bukan menjadi kegiatan yang sangat di gemari.
Comments
Post a Comment