Korban dendam persahabatan (cerpen)
Kring Kring Kring
Belum kubuka mataku tetapi HP ku sudah berbunyi dan membuatku terbangun
"halooo..."
"hay, entar siang jalan yuk?" sahut suara itu yang membuatku segera terbangun dan ku lihat di layar HPku siapa dia
"hah? Dimas?" batinku ternganga
"hah? buat apa? ganggu ya lo!" jawabku penuh kejengkelan
"pokoknya gak entar jam 2 aku jemput ya?" ucapnya dan sembari mematikan Telphonenya
"aaaa Dimas ngajakin gue jalan!!! Yes yes yes" ucapku kegirangan sembari melonjak-lonjak diatas kasurku
Dimas sosok laki-laki idaman, namun aku tak pernah mau dianggapnya gampangan maka dari itu aku lebih memilih bersikap ketus kepadanya ya walaupun sejujurnya aku sangat senang saat bersama dengannya. Sosoknya sering dihujat oleh sebagian wanita dikampus, entah kenapa atau karena mereka menyukai Dimas tetapi Dimas menolaknya atau karena ada sesuatu hal yang membut mereka berfikir jelek tentang Dimas.
Pukul 2 siangpun telah tiba aku menunggu kehadiran Dimas. Lebih dari 1 jam aku menunggu dan dia blm kunjung tiba, kulirik jam tanganku yang telah menunjukan pukul 15.36
"dan seharusnya gue gak sebegok itu ngira dia mau jalan sama gue! ih Kian begok" gumalku karena kekecewaanku menunggu Dimas yang tak kunjung datang sembari berjalan menuju kamar ku dan saat aku membuka pintu kamar aku mendengar klakson mobil bergegas aku berlari menuju pintu dan sedikit kuintip dari balik jendela dan ternyata cunguk itu baru saja datang. Segera ku membuka pintu dan memasang muka marah seperti biasa saat aku bertemu dengannya
"hey udah siap?" ucapnya tanpa bersalah
"lo punya jam gak sih? sekarang jam berapa?" tanyaku sembari menarik tangannya dan menunjukakan jam dipergelangan tangannya
"jam 15.40 "
"terus?"
"maaf telat ya..."
"macet? atau apa?" tanyaku memutus pembicaraannya
"embh..."
"udah deh ah lo pulang aja gue udah males duluan!" jawabku menahan kekecewaanku yang begitu besar
"maaf maaf, janji deh lain kali gak telat lagi ya? Yuk jalan sekarang aja" sembari meraih tanganku dan menarikku keluar rumah
"apaan sih lepasin! lagian juga siapa yang mau lo ajak jalan lagi?! males tauk!" ucapku sembari menutup pintu rumahku dengan terburu-buru.
Dibawanya aku kesebuahpusat berbelanjaan dipusat kota, cukup membuatku kembali tersenyum walaupun sempatku tahan karena gengsi didepan Dimas. Namun caranya memperlakukanku membuatku tak dapat lagi menahan kebahagiaan ini, di bawanya aku keliling pusat perbelanjaan ini dan saat aku melihat sekeliling toko boneka tiba-tiba ada seorang gadis berseragam SMA dengan kedua temannya yang menarik tangan ku dan memakiku
"heh ganjen! Ngapain jalam sama cowok orang? gak punta malu ya lo" ucapnya sadis
"Tika, kamu apa apaan sih" ucap Dimas yang ternyata mengenal gadis ini
"OH! Jadi ini cewek yang lo ceritain ke gue Dim?! Cantik ya, tapi sayang sih songong abis, lo pilih sendiri deh boneka buat cewek lo! gue pulang" ucapku yang kesal dan sangat menahan sakitnya perasaanku yang mengetahui bahwa Dimas memang brengsek seperti yang diungkapkan teman kampus kami
"enggak gue anterin lo pulang ya?" ujarnya sembari menarik tanganku
"jadi, kalian pergi buat nyariin gue kado gitu? aaa beb kamu so sweet banget" ucap gadis itu
"apaan sih?! semua gagal gara-gara kamu! mintak maaf sama Kian sekarang" bentak Dimas
"enggak mau, ngapain sih mintak maaf" jelasnya manja
"lagian gue juga gak mau kok lo mintak maaf. Udah dim gue balik aja, gue pulang sama...."ucapku sembari melirik sekitar dan mencari seseorang yang barang kali aku kenal tetapi NIHIL, akirnya aku menarik lengan seorang laki-laki muda "hay apa kabar lo? baikkan?" ucapku sembari berusaha memberi kode untuk menanggapi sapaanku
"gue pulang sama dia" ucapku sembari menarik laki-laki itu pergi dari tempat itu, lumayan jauh dari tempat itu aku melepas gandengan tanganku tadi
"lo siapa sih sok kenal banget! apaan lagi nganterin lo pulang!" ucapnya sedikit emosi
"sory sory gue gak maksud" sembari menitihkan air mataku karena sudah tak tahan lagi kutahan
"eh eh ngapain lo nangis! jangan nagis disini, entar dikirain orang orang gue ngapa-ngapain lo lagi! yaudah yok gue anter pulang" ujarnya dan sekarang dia yang menggandengku.
Didalam mobil perjalanan pulang aku hanya bisa menangis mengingat kejadian tadi, seharusnya aku mendengarkan kata-kata teman temanku namun apa daya jika cinta sudah tumbuh dihatiku.
"gue anterin lo kemana?" tanyanya yang tak ku gubris
"hey, lo gapapa kan?" jawabnya menegurku sedikit bernada keras
"iya apa?" jawabku
"aduh jadi lo gak dengaerin gue. lo mau gue anterin pulang kemana?" tanyanya sekali lagi
"sory sory gue gak denger, ee sampek sini aja gue bisa naik taxi kok" jawabku dan seketika mobil dia berhenti begitu saja
"gue gak kenal lo ya dan gue juga gak tau kenapa lo tiba-tiba sok kenal dan lo juga nangis! tapi lo cewek dan gak mungkin gue tinggalin lo dijalan kayak gini oke! sekarang lo mau gak mau cerita sama gue! Gue Aldi" bentaknya panjang lebar dan membuatku sedikit menghela nafas, entah angin apa yang akhirnya membuatku bercerita kepadanya tentang apa yang aku alami
"jadi cowok tadi itu pacar lo?" tanyanya, dan aku hanya menggeleng kepala
"terus?"
"kita lagi deket aja, tapi udah lama gue suka sama dia" jelasku
"oke gue ngerti ekarang, terus lo mau gue bantuin apa?" tawarnya
"hah? bantuin? maksud lo apaan sih?"
"lo mau diem aja gitu ? gue gaksuka liat cewek disakitin" jelasnya yang mulai terbakar emosi
"kok jadi lo sih yang emosi" tanyaku penasaran
"yaudah ayo pulang, rumah lo dimana?!" tanyanya mengalihkan perhatian
Aku memberikan alamat rumahku kepadanya dan diapun mengantarkanku pulang dengan selamat.
Malam datang bersama angin yang semilir memasuki kamarku lewat jendela yang sengajaku buka sedikit agar aku dapat menghirup udara malam, langit begitu cerah bintang berpijar seakan berpesta dan menaburkan kebahagiaan untuk malam ini. Namun entah apa yang ku rasa, kebahagian itu tak sampai kepadaku rasanya sunyi, dadaku penuh dengan dinginnya udara malam ini. Kurasa memang tidak akan ada lagi cinta untuk siapapaun mulai malam ini. Kurebahkan tubuhku keatas kasur kesayangannku yang selalu membawaku pergi dan tertawa riang didalam mimpi. Kucoba pejamkan mata dan......
Pagipun tiba, suara kicauan burung menemani terbitnya sang surya. Ku buka jendela kamarku dengan lebar, dan kurasakan hangatnya sinar matahari pagi ini, mungkin ini cara Tuhan menopangku dalam pahitnya rasa yang kurasakan semalam. Hari ini harus berjalan seperti rutinitas biasa dan aku mau tak mau harus melewatinya karna harus ku tunjukkan bahwa aku baik baik saja. Ku bergegas menyegarkan tubuhku dan bersiap untuk pergi ke kampus menuntut ilmu yang aku yakin tidak akan ada satupun materi yang akan aku serap hari ini, karena dikhayalku hanya ada Dimas. Setelah aku bersiap aku bergegas turun dan membuka pintu rumahku, alangkah kagetnya aku melihat Dimas yang sudah menungguku didepan tanpa mengetuk pintu atau menghubungiku sebelumnya.
"Pagi Kian, ke kampus bareng yuk" ucapnya penuh senyum bersalah
"gak usah, gue mau bawa mobil sendiri aja." ucapku yang tak memperdulikannya
Tiba-tiba aku mendengar suara klakson mobil dan turunlah seorang laki-laki yang aku kenal dan ya benar itu Aldi.
"Aldi, ngapain kamu?" tanyaku
"anterin kamu kuliahlah, gak keduluan kan?" jawabnya menatap Dimas sinis
"Aldi Dewa Anggara. harus gue ketemu lo lagi?!" ucap Dimas tiba-tiba
"Kalian?" tanyaku
"Kenapa Dimas Winata?" jawabnya menantang
"Kian sama gue dan lo gak usah deh nongol lagi didepan gue dan ganguin Kian!" Bentak Dimas sembari menarik tanganku
"Apaan sih Dim, sakit tau"
"jangan paksa dia kalo dia emng gak mau Dim!" bela Aldi
"Dim, lo gakusah deh ganggu gue. Gue udah bilangkan dari dulu gue gak suka lo deket sama gue! Dan satu lagi, urusin tuh anak SMA. Gue berangkat sama Aldi!" jawabku meningglakan Dimas dan bergegas memasuki mobil Aldi.
"Lo kenal Dimas dimana?" tanyaku tiba-tiba memecah keheningan
"embh, dia temen SMP gue dulu" jawabnya kagok
"terus? kenapa kalian saling ketus-ketusan?" tanyaku
"apaan sih lo? Kepo deh!" jawabnya
"Gue cerita ya sama lo, kenapa lo gak mau cerita sama gue?"
"karna gak ada yang harus gue ceritain sama lo" jawabnya mulai memanas
Mulai saat itu, Aldi datang dalam hidupku. 6 bulan sudah kami berteman akrab dan dia memberiku warna baru, dia mulai membuatku melayang akan kehadirannya. Dia mulai membantuku membuka lembaran baru dan membuatku semakin membenci Dimas. Aldi memberikanku cinta yang baru, dia memintaku menjadi kekasihnya saat aku mulai berani menaruh kepalaku dipundaknya. Saat aku berani menatap matanya dan berani mencium pipi ucapan terima kasih atas hari-hari yang dia berikan. Semua yang Aldi berikan membuatku berbeda dan jauh lebih bahagia. Hingga hari itu, Dimas mendekatiku saat aku sedang asik dengan buku kesukaanku dikantin kampus.
"Selamat ya lo udah jadian sama Aldi" ucapnya mengagetkanku, tak kujawab hanya ku pandang dia dan sekilas aku meneruskan embaca bukuku
"gue mau ngomong tentang Aldi dan gue" ucapnya lagi
"terus? itu penting buat gue?" jawabku singkat
"Ini tentang kenapa alasan gue dan Aldi saling membenci" ujarnya, aku hanya menatap dan akhirnya membolehkan dia berbicara
"Aldi sama gue sahabatan dari SD, bahkan kami seperti saudara. Tapi waktu SMP cewek Aldi suka sama gue dan begoknya gue. Gue pacarin cewek itu, dari situ gue sama Aldi musuhan sampek sekarang dan dia pernah bilang ke gue kalo dia bakal bales apa yang udah gue lakuin ke dia"
"terus maksud lo ngomong ini ke gue?" jawabku yang mulai tak mengerti akan kemauan Dimas
"dia tau gue suka sama lo dan dia balas dendam sama gue lewat lo" ucapnya yang membuatku naik darah
"jadi maksud lo?! Aldi gak beneran sayang sama gue dan dia cuma buat gue bahan bales dendam ke lo gitu? Jahat ya lo Dim, tega bgt lo sama gue!" ucapku yang tak percaya dengan ucapannya
"boleh benci sama gue, tapi sekarang lo ikut gue. sebentar aja" jawabnya semakin membuatku tak mengerti
"gak!"ucap gue meninggalkan Dimas tapi tiba-tiba tanganku ditariknya
"maafin gue, gue paka lo buat ikut sama gue!" jawab Dimas dan menariku
Dia membawaku kesebuah cafe didekat kamps Aldi dan apa yang aku lihat? Aldi sedang bersama wanita lain, dengan kata lain apa yang diungkapkan Dimas benar!
"aldi!" bentakku
"Kian? Kamu.. Kian aku bisa jelasin semua ini"
"gak! gue udah tau semuanya dan makasih bangt!" ucap ku sembari meninggalkannya.
Dosa apa ya Tuhan, baru saja aku merasakan hari penuh cinta, aku merasakan aroma cinta yang telah lama aku dambakan namun yang tejadi adalah sebuah sandiwara! Apa yang sebenarnya kau atur untukku, apa salahku Tuhan! Rasanya tak adil utukku, aku menjadi korban seduah dendam masa lalu yang aku tak mengerti apa itu! Aku harus menanggung rasa sakit amarah sebuah persahabat yang terkoyak oleh cinta segitiga! Dan kenapa harus aku! Jantungku tak kurasakan berdenyut, wajahku pucat pasi, aliran darahku kurasa berhenti dengan sendirinya.Yang kulakukan hanya menangis dan menangis setiap harinya, kedua orang uaku yang tinggal jauh denganku hingga pulang dan meningglkan pekerjaannya karna mendengar kabar kegalauan ku. Dan akhirnya, mereka membawaku pergi dari Indonesia dan juga membawaku bergi dari kedua laki-laki yang membuatku terluka!
Andai saja saat itu aku tak mengenalmu Dimas, aku takkan merasakan semua ini. Jika tak pernah aku mencintaimu, tak akan aku tersakiti oleh dendam lama sahabatmu. Dan bila saja saat itu aku sadar bahwa cinta yang diberikan Aldi bukanlah cinta suci melainkan sandiwara, aku tak akan menjadi seperi ini..
Kenang aku saat kamu menutup mata dan peluk aku saat kau merindukanku..
Aku pergi dan akan tetap jauh dari bisikan cinta yang tak pernah aku tau hasilnya, Aldi sampai detik inipin aku masih mencintaimu dan berharap kamu merasakan yang sama. Dan kita akan menjadi satu lagi saat kau kembali, entah kapan.......
Belum kubuka mataku tetapi HP ku sudah berbunyi dan membuatku terbangun
"halooo..."
"hay, entar siang jalan yuk?" sahut suara itu yang membuatku segera terbangun dan ku lihat di layar HPku siapa dia
"hah? Dimas?" batinku ternganga
"hah? buat apa? ganggu ya lo!" jawabku penuh kejengkelan
"pokoknya gak entar jam 2 aku jemput ya?" ucapnya dan sembari mematikan Telphonenya
"aaaa Dimas ngajakin gue jalan!!! Yes yes yes" ucapku kegirangan sembari melonjak-lonjak diatas kasurku
Dimas sosok laki-laki idaman, namun aku tak pernah mau dianggapnya gampangan maka dari itu aku lebih memilih bersikap ketus kepadanya ya walaupun sejujurnya aku sangat senang saat bersama dengannya. Sosoknya sering dihujat oleh sebagian wanita dikampus, entah kenapa atau karena mereka menyukai Dimas tetapi Dimas menolaknya atau karena ada sesuatu hal yang membut mereka berfikir jelek tentang Dimas.
Pukul 2 siangpun telah tiba aku menunggu kehadiran Dimas. Lebih dari 1 jam aku menunggu dan dia blm kunjung tiba, kulirik jam tanganku yang telah menunjukan pukul 15.36
"dan seharusnya gue gak sebegok itu ngira dia mau jalan sama gue! ih Kian begok" gumalku karena kekecewaanku menunggu Dimas yang tak kunjung datang sembari berjalan menuju kamar ku dan saat aku membuka pintu kamar aku mendengar klakson mobil bergegas aku berlari menuju pintu dan sedikit kuintip dari balik jendela dan ternyata cunguk itu baru saja datang. Segera ku membuka pintu dan memasang muka marah seperti biasa saat aku bertemu dengannya
"hey udah siap?" ucapnya tanpa bersalah
"lo punya jam gak sih? sekarang jam berapa?" tanyaku sembari menarik tangannya dan menunjukakan jam dipergelangan tangannya
"jam 15.40 "
"terus?"
"maaf telat ya..."
"macet? atau apa?" tanyaku memutus pembicaraannya
"embh..."
"udah deh ah lo pulang aja gue udah males duluan!" jawabku menahan kekecewaanku yang begitu besar
"maaf maaf, janji deh lain kali gak telat lagi ya? Yuk jalan sekarang aja" sembari meraih tanganku dan menarikku keluar rumah
"apaan sih lepasin! lagian juga siapa yang mau lo ajak jalan lagi?! males tauk!" ucapku sembari menutup pintu rumahku dengan terburu-buru.
Dibawanya aku kesebuahpusat berbelanjaan dipusat kota, cukup membuatku kembali tersenyum walaupun sempatku tahan karena gengsi didepan Dimas. Namun caranya memperlakukanku membuatku tak dapat lagi menahan kebahagiaan ini, di bawanya aku keliling pusat perbelanjaan ini dan saat aku melihat sekeliling toko boneka tiba-tiba ada seorang gadis berseragam SMA dengan kedua temannya yang menarik tangan ku dan memakiku
"heh ganjen! Ngapain jalam sama cowok orang? gak punta malu ya lo" ucapnya sadis
"Tika, kamu apa apaan sih" ucap Dimas yang ternyata mengenal gadis ini
"OH! Jadi ini cewek yang lo ceritain ke gue Dim?! Cantik ya, tapi sayang sih songong abis, lo pilih sendiri deh boneka buat cewek lo! gue pulang" ucapku yang kesal dan sangat menahan sakitnya perasaanku yang mengetahui bahwa Dimas memang brengsek seperti yang diungkapkan teman kampus kami
"enggak gue anterin lo pulang ya?" ujarnya sembari menarik tanganku
"jadi, kalian pergi buat nyariin gue kado gitu? aaa beb kamu so sweet banget" ucap gadis itu
"apaan sih?! semua gagal gara-gara kamu! mintak maaf sama Kian sekarang" bentak Dimas
"enggak mau, ngapain sih mintak maaf" jelasnya manja
"lagian gue juga gak mau kok lo mintak maaf. Udah dim gue balik aja, gue pulang sama...."ucapku sembari melirik sekitar dan mencari seseorang yang barang kali aku kenal tetapi NIHIL, akirnya aku menarik lengan seorang laki-laki muda "hay apa kabar lo? baikkan?" ucapku sembari berusaha memberi kode untuk menanggapi sapaanku
"gue pulang sama dia" ucapku sembari menarik laki-laki itu pergi dari tempat itu, lumayan jauh dari tempat itu aku melepas gandengan tanganku tadi
"lo siapa sih sok kenal banget! apaan lagi nganterin lo pulang!" ucapnya sedikit emosi
"sory sory gue gak maksud" sembari menitihkan air mataku karena sudah tak tahan lagi kutahan
"eh eh ngapain lo nangis! jangan nagis disini, entar dikirain orang orang gue ngapa-ngapain lo lagi! yaudah yok gue anter pulang" ujarnya dan sekarang dia yang menggandengku.
Didalam mobil perjalanan pulang aku hanya bisa menangis mengingat kejadian tadi, seharusnya aku mendengarkan kata-kata teman temanku namun apa daya jika cinta sudah tumbuh dihatiku.
"gue anterin lo kemana?" tanyanya yang tak ku gubris
"hey, lo gapapa kan?" jawabnya menegurku sedikit bernada keras
"iya apa?" jawabku
"aduh jadi lo gak dengaerin gue. lo mau gue anterin pulang kemana?" tanyanya sekali lagi
"sory sory gue gak denger, ee sampek sini aja gue bisa naik taxi kok" jawabku dan seketika mobil dia berhenti begitu saja
"gue gak kenal lo ya dan gue juga gak tau kenapa lo tiba-tiba sok kenal dan lo juga nangis! tapi lo cewek dan gak mungkin gue tinggalin lo dijalan kayak gini oke! sekarang lo mau gak mau cerita sama gue! Gue Aldi" bentaknya panjang lebar dan membuatku sedikit menghela nafas, entah angin apa yang akhirnya membuatku bercerita kepadanya tentang apa yang aku alami
"jadi cowok tadi itu pacar lo?" tanyanya, dan aku hanya menggeleng kepala
"terus?"
"kita lagi deket aja, tapi udah lama gue suka sama dia" jelasku
"oke gue ngerti ekarang, terus lo mau gue bantuin apa?" tawarnya
"hah? bantuin? maksud lo apaan sih?"
"lo mau diem aja gitu ? gue gaksuka liat cewek disakitin" jelasnya yang mulai terbakar emosi
"kok jadi lo sih yang emosi" tanyaku penasaran
"yaudah ayo pulang, rumah lo dimana?!" tanyanya mengalihkan perhatian
Aku memberikan alamat rumahku kepadanya dan diapun mengantarkanku pulang dengan selamat.
Malam datang bersama angin yang semilir memasuki kamarku lewat jendela yang sengajaku buka sedikit agar aku dapat menghirup udara malam, langit begitu cerah bintang berpijar seakan berpesta dan menaburkan kebahagiaan untuk malam ini. Namun entah apa yang ku rasa, kebahagian itu tak sampai kepadaku rasanya sunyi, dadaku penuh dengan dinginnya udara malam ini. Kurasa memang tidak akan ada lagi cinta untuk siapapaun mulai malam ini. Kurebahkan tubuhku keatas kasur kesayangannku yang selalu membawaku pergi dan tertawa riang didalam mimpi. Kucoba pejamkan mata dan......
Pagipun tiba, suara kicauan burung menemani terbitnya sang surya. Ku buka jendela kamarku dengan lebar, dan kurasakan hangatnya sinar matahari pagi ini, mungkin ini cara Tuhan menopangku dalam pahitnya rasa yang kurasakan semalam. Hari ini harus berjalan seperti rutinitas biasa dan aku mau tak mau harus melewatinya karna harus ku tunjukkan bahwa aku baik baik saja. Ku bergegas menyegarkan tubuhku dan bersiap untuk pergi ke kampus menuntut ilmu yang aku yakin tidak akan ada satupun materi yang akan aku serap hari ini, karena dikhayalku hanya ada Dimas. Setelah aku bersiap aku bergegas turun dan membuka pintu rumahku, alangkah kagetnya aku melihat Dimas yang sudah menungguku didepan tanpa mengetuk pintu atau menghubungiku sebelumnya.
"Pagi Kian, ke kampus bareng yuk" ucapnya penuh senyum bersalah
"gak usah, gue mau bawa mobil sendiri aja." ucapku yang tak memperdulikannya
Tiba-tiba aku mendengar suara klakson mobil dan turunlah seorang laki-laki yang aku kenal dan ya benar itu Aldi.
"Aldi, ngapain kamu?" tanyaku
"anterin kamu kuliahlah, gak keduluan kan?" jawabnya menatap Dimas sinis
"Aldi Dewa Anggara. harus gue ketemu lo lagi?!" ucap Dimas tiba-tiba
"Kalian?" tanyaku
"Kenapa Dimas Winata?" jawabnya menantang
"Kian sama gue dan lo gak usah deh nongol lagi didepan gue dan ganguin Kian!" Bentak Dimas sembari menarik tanganku
"Apaan sih Dim, sakit tau"
"jangan paksa dia kalo dia emng gak mau Dim!" bela Aldi
"Dim, lo gakusah deh ganggu gue. Gue udah bilangkan dari dulu gue gak suka lo deket sama gue! Dan satu lagi, urusin tuh anak SMA. Gue berangkat sama Aldi!" jawabku meningglakan Dimas dan bergegas memasuki mobil Aldi.
"Lo kenal Dimas dimana?" tanyaku tiba-tiba memecah keheningan
"embh, dia temen SMP gue dulu" jawabnya kagok
"terus? kenapa kalian saling ketus-ketusan?" tanyaku
"apaan sih lo? Kepo deh!" jawabnya
"Gue cerita ya sama lo, kenapa lo gak mau cerita sama gue?"
"karna gak ada yang harus gue ceritain sama lo" jawabnya mulai memanas
Mulai saat itu, Aldi datang dalam hidupku. 6 bulan sudah kami berteman akrab dan dia memberiku warna baru, dia mulai membuatku melayang akan kehadirannya. Dia mulai membantuku membuka lembaran baru dan membuatku semakin membenci Dimas. Aldi memberikanku cinta yang baru, dia memintaku menjadi kekasihnya saat aku mulai berani menaruh kepalaku dipundaknya. Saat aku berani menatap matanya dan berani mencium pipi ucapan terima kasih atas hari-hari yang dia berikan. Semua yang Aldi berikan membuatku berbeda dan jauh lebih bahagia. Hingga hari itu, Dimas mendekatiku saat aku sedang asik dengan buku kesukaanku dikantin kampus.
"Selamat ya lo udah jadian sama Aldi" ucapnya mengagetkanku, tak kujawab hanya ku pandang dia dan sekilas aku meneruskan embaca bukuku
"gue mau ngomong tentang Aldi dan gue" ucapnya lagi
"terus? itu penting buat gue?" jawabku singkat
"Ini tentang kenapa alasan gue dan Aldi saling membenci" ujarnya, aku hanya menatap dan akhirnya membolehkan dia berbicara
"Aldi sama gue sahabatan dari SD, bahkan kami seperti saudara. Tapi waktu SMP cewek Aldi suka sama gue dan begoknya gue. Gue pacarin cewek itu, dari situ gue sama Aldi musuhan sampek sekarang dan dia pernah bilang ke gue kalo dia bakal bales apa yang udah gue lakuin ke dia"
"terus maksud lo ngomong ini ke gue?" jawabku yang mulai tak mengerti akan kemauan Dimas
"dia tau gue suka sama lo dan dia balas dendam sama gue lewat lo" ucapnya yang membuatku naik darah
"jadi maksud lo?! Aldi gak beneran sayang sama gue dan dia cuma buat gue bahan bales dendam ke lo gitu? Jahat ya lo Dim, tega bgt lo sama gue!" ucapku yang tak percaya dengan ucapannya
"boleh benci sama gue, tapi sekarang lo ikut gue. sebentar aja" jawabnya semakin membuatku tak mengerti
"gak!"ucap gue meninggalkan Dimas tapi tiba-tiba tanganku ditariknya
"maafin gue, gue paka lo buat ikut sama gue!" jawab Dimas dan menariku
Dia membawaku kesebuah cafe didekat kamps Aldi dan apa yang aku lihat? Aldi sedang bersama wanita lain, dengan kata lain apa yang diungkapkan Dimas benar!
"aldi!" bentakku
"Kian? Kamu.. Kian aku bisa jelasin semua ini"
"gak! gue udah tau semuanya dan makasih bangt!" ucap ku sembari meninggalkannya.
Dosa apa ya Tuhan, baru saja aku merasakan hari penuh cinta, aku merasakan aroma cinta yang telah lama aku dambakan namun yang tejadi adalah sebuah sandiwara! Apa yang sebenarnya kau atur untukku, apa salahku Tuhan! Rasanya tak adil utukku, aku menjadi korban seduah dendam masa lalu yang aku tak mengerti apa itu! Aku harus menanggung rasa sakit amarah sebuah persahabat yang terkoyak oleh cinta segitiga! Dan kenapa harus aku! Jantungku tak kurasakan berdenyut, wajahku pucat pasi, aliran darahku kurasa berhenti dengan sendirinya.Yang kulakukan hanya menangis dan menangis setiap harinya, kedua orang uaku yang tinggal jauh denganku hingga pulang dan meningglkan pekerjaannya karna mendengar kabar kegalauan ku. Dan akhirnya, mereka membawaku pergi dari Indonesia dan juga membawaku bergi dari kedua laki-laki yang membuatku terluka!
Andai saja saat itu aku tak mengenalmu Dimas, aku takkan merasakan semua ini. Jika tak pernah aku mencintaimu, tak akan aku tersakiti oleh dendam lama sahabatmu. Dan bila saja saat itu aku sadar bahwa cinta yang diberikan Aldi bukanlah cinta suci melainkan sandiwara, aku tak akan menjadi seperi ini..
Kenang aku saat kamu menutup mata dan peluk aku saat kau merindukanku..
Aku pergi dan akan tetap jauh dari bisikan cinta yang tak pernah aku tau hasilnya, Aldi sampai detik inipin aku masih mencintaimu dan berharap kamu merasakan yang sama. Dan kita akan menjadi satu lagi saat kau kembali, entah kapan.......
Comments
Post a Comment