Monic (cerpen)

Mentari terbit dengan indah, sinarnya yang hangat menusuk kulit tubuhku pagi ini saat aku menginjakan kakiku ditanah kelairanku. Kutarik koperku bersama langkah kakiku perlahan tetapi pasti. Kebahagiaan yang tak pernah aku tutupi karena telah lama tak ku jumpai udara kota yang segar, ya walaupun jauh dari orang tua yang aku sayang karna mereka tetap meneruskan pekerjaannya diluar. Kerinduanku yang menggebu bukan karna kota ini, melainkan kepada laki-laki yang ku tinggalkan dulu.
"Ryan!" sapaku saat aku melihat sahabatku berdiri membelakangiku
"Monic!" jawabnya membalas sapaanku, dipeluknya aku dan sedikit menjadi pusat perhatian dibandara
"long time no see nona" tambahnya lagi
"apaan sih lo masih geje aja" jawabku tersipu atas anggilannya itu.
Nona, panggilan kesayangan dari kekasihku dulu dan Ryan pula.
"yan, Bima apa kabar?" tanyaku
"baik kok, kangen ya lo sama dia" ledeknya
"lo emang paling tauapa yang gue rasain sih Yan"
"besok gue mau daftar kuliah dikampus lo" tambahku
"gue jemput ya?" tawarannya
"oke deh" jawabku menerima tawarannya
Dia mengantarkanku hingga didepan pintu rumahku baru dia pergi meninggalkan ku setelah dia melihatku menutup pintu itu adalah kebiasaannya dari dulu dan belum berubah walaupun aku sudah pergi selama 3 tahun lebih.
Pagipun datang lagi menjemputku, tepat pukul 8 Ryan sudah menjemputku didepan rumah dengan tingkah lucunya yang membuat ku tertawa kecil dari balik pintu melihatnya.
"pagi Ryan.." sapaku sembari menutup pintu rumahku dan menyambanginya
"pagi non" sapanya
"udah deh gak usah bikin gue galau pagi-pagi" jawabku sedikit risih dengan sapaannya
"iyaaa sensi banget sih lo" jawabnya sembari membuka pintu mobilnya
Dadaku berdegup kencang tak sabar aku menemui mantan kekasih yang telah lama tak ku temui dan mendengar kabarnya. Entah apa yang terjadi dengannya beberapa tahun belakangan ini. Sesampailah aku dikampus aku mengurus segala urusan administrasiku disana dan Ryan melanjutkan kegiataan perkuliahannya. Selesainya aku mengurus semuanya aku menuju kantin kampus baruku untuk bertemu dengan Ryan dan teman teman lamaku yang lain. Dari kejauhan aku melihat sosok Bima dengan postur tubuh yang kecil dan tinggi semakin aku mendekat dan ternyata benar. Itu Bima dan gadis yang tidak terlalu tinggi dan berpenampilan sangat biasa dengan kaca mata yang menghiasi mata sipitnya. Dan ternyata itu adalah kekasih baru Bima, mataku berkaca-kaca melihatnya dan mendengarkan kata cinta yang terontar dari mulut Bima untuk gadis itu. Langkahku terhenti bersamaan dengan detak jantungku, nafasku seakan berhenti pula. Seakan kakiku tak menapak, dadaku seakan tersayat silet tajam dak percaya aku menyaksikan ini, enath harapan apa yang membuatku percaya Bima akan kembali dalam pelukanku lagi, namun yang terjadi?
Dia sudah mendapatkan pujaan hatinya yang lain dan itu sangat melukaiku.
"Monic?!" sapa Rafi dengan nada kaget, seketika semua mata memandangku termasuk Bima yang seketika melepaskan genggaman tangan gadis itu.
"hey semua" jawabku kaget sembari meneruskan langkahku menuju Rafi yang menyapaku
"lo kapan ke Indonesia Mon?" tanya Riffan kaget
"kemarin. Sukses Yan lo simpen rahasia" sembari aku melirik Ryan yang sedikit mengerti kegelisahan ku yang sengaja ku tutupi
"jadi? Ryan tau lo pulang?" tanya Rizky
"Ryan malahan yang jemput gue" jawabku santai
"oiya habis ada yang jadian ya? selamat ya" ucapku yang hanya melirik sadis.
"udah yuuk gue kangen sama cewek gila satu ini, gue tlaktir kalian makan" ajak Rafi sembari merangkulku, Rafi adalah sahabat karibku sejak SD walaupun dia kakak angkatanku 2 tahun namun kedekatan kami tetap terbangun. Dan dari dialah aku mengenal Bima, Ryan, Rizky,Riffan.
"cewek lo mana Raf" sapaku ketika kami sudah berkumpul dicaffe biasa kami sambangi dulu
"Lo jangan bkn dia galau deh Mon" jawab Rizky
"kenapa? sih? Lo masih belum move on dari cewek yang lo ceritain di skype itu?" tanyaku balik
"skype?" tanya Bima
Aku hanya menoleh kearahnya dan tak menjawab sepatah katapun
"udahlah gakusah dibahas" jawab Rafi mulai terbakar emosi
Tak berapa lama, suasana yang dingin mulai memecah karena banyolan-banyolan kami. Tawaku melebur, tangisku terkunci didalam hati Bima dan gadis itu tampak canggung dengan keberadaanku. Aku menahan kegundahan hatiku didepan teman-teman.
"guys, gue balik duluan ya" ucapku tiba-tiba memecah suasana itu
"mau kemana lo? ah gak asik lo udah main pulang aja." jawab Ryan
"embh..."
"kasihan dia capek kali" ucap Bima seketika membuatku semkin merana
"iyaaa gue masih cpek" jawabku
"gue duluan ya" tambahku sembari beranjak dari duduk ku dan pergi meninggalkan mereka
Air mmataku menetes bersamaan dengan langkah kakiku, kuberlari mencari kendaraan untuk mengantarkanku ketempat kesukaanku melepas penat dulu.
Taxi berwarna putih yang ku temui melaju perlahan tetapi pasti mengantarkanku ke tempat itu, sesampainya disebuah pinggir pantai aku berlari dan berteriak sesuka hatiku melepas kesakitan yang aku rasakan. Langkahku membawaku dalam kegundahanku, semakin dalam saat aku melihat langit diagkasa seakan meledek atas kebodohanku pergi tanpa jejak dulu. Burung bernyanyi indah, mungkin mereka mencoba mengobti perasaanku dengan lantunan indahnya yang malah membuatku menangis. Ku sandarkan tubuhku disebuah pagar pinggir pantai, linangan air mataku yang tak kunjung berhenti, kubayangkan semua kejadiaan indah bersama Bima dulu, tawa canda, kami berlari kecil disini, saling berikrarkan cinta kami. Ku bayangkan kebodohanku selama beberapa tahun meninggalkannya tanpa alasan yang kuberikan ditelinganya
"gue tau lo pasti disini" terdengar suara Bima dan ternyata benar dia ikut duduk disampingku
"ngapain lo kesini" tayaku sembari tak memperdulikan dia disampingku
"maafin gue mon" balasnya
"buat? lo gak salah apapa kok"
"gue udah bikin lo nangis"
"ini bukan salah lo, ini salah gue" jawabku dan tetap tak mau menatapnya
"gue terlalu kehilangan lo waktu itu, dan sampek dia dateng buka hati gue lagi buat kayak dulu lagi"
"gak usah lo perjelas gue juga tau kok"
"gue cuma...."
"gue cuma mau bilang ke lo, selamat ya. gue bisa ngerti kok, tenang aja gakusah kawatir. gue bisa jaga rahasia ini dari cewek baru lo" jawabku sembari meninggalkannya dari tempat itu.
Sesampainya aku dirumah, ternyata Ryan sudah menungguku
"gue liat lo ditempat biasa sama Bima, gue gak enak mau nyamperin" jawabnya
"apaan sih lo, biasa aja kali" jawabku sembari tersenyum kecil
"maafin gue ya mon,, gakbisa jagain Bima biar..."
"udahlah yan, gue gapapa kok. lo tetep gak kasih taukan tentang alesan gue pergi tinggalin dia?" tanyaku
"enggak kok gue sama anak-anak gak ada yang ngasih tau tentang rahasia itu dan janji gak akan ngebahas itu lagi diforum" jawab Bima
Aku hanya terdiam dengan semua perkataan Ryan, hatiku hancur aku merasa marah akan diriku sendiri, kenapa aku tidak bisa berbicara jujur akan semuanya. Dan tiba-tiba, mataku buram kepalaku terasa pusing dan gelap.
Aku tak tau apa yang terjadi akan diriku, saat aku membuka kedua mataku yang aku lihat adalah suasana yang tak asing, ya Rumah sakit. Kutolehkan kepalau menuju sekitar ruangan itu. Aku melihat sahabat-sahabatku menjagaku dengan gelisah.
"Rafi.." ucapku lirih
"Monic, lo gapapa kan?" tanyanya sembari berlari mendekatiku
"gapapa kok, gue mau pulang" jawabku
"lo belum sehat Mon, lo istirahat dulu" jawab Riffan
"gue gak sakit!" bentakku sembari menangis
"gue gak pernah sakit!! Iya kan Yan" tambahku semakin meronta
"iyaaa iyaaa lo gak sakit apapa Mon, lo gapapa kok. Tapi sekarang lo cuma kurang istirahat dan itu aja oke" jawab Ryan sembari memelukku dan menenangkanku
"gue mau pulang yan, gue gak mau disini Yan, gue takut" omelku sembari terus menangis
"lo bentar doang kok disini, gak usah takut gue temenin lo kok" jawabnya dan tetap memelukku
"gak mau gue mau pulang!" bentakku lagi
"ok gue bilang dokter dulu ya lo jangan marah marah" jawab Rizky sembari keluar dari ruangan itu.
Setelah lama aku menunggu dengan tangisanku akhirnya izin kepulangankupun keluar dan mereka mengantarkanku pulang.
Sejak itu, semua sahabatku memberi perhatian berlebih lagi dan 2bulan berlalu begitu cepat, aku selalu saja menghindari bertemu dengan Bima dan gadisnya itu. Jantungku selalu merasa tak berdetak saat melihat mereka didepan mataku. Dan sore itu, tak dapatku menghindari Bima lagi, dia menyambangi rumahku dan memintaku untuk mau sedikit berbicara dengannya
"gue cuma pengen tau kenapa lo tinggalin gue dulu!" bentaknya yang akhirnya membuatku tersadar bahwa ini waktunya.
"Oke, fine! gue bakal kasih tau lo sekarang. Gue harus pergi ke Belanda karena gue harus pengobatan!!! Gue kena Radang otak yang bikin gue gak bisa tinggal disini! Gue sengaja gak kasih tau lo, biar lo gak sedih liat gue mati Bim!!! Puas lo!!" jawabku sembari menangis dan meluapkan emosi
"lo gak bohongin gue kan?" jawab Bima tak percaya
"kebpa gue harus bohong?! kenapa gue harus korbanin perasaan gue buat nnggalin lo! ninggalin 2 tahun kebersamaan kita Bin! Gue berkorban banyak! Cita-cita gue yang dulu udah didepan mata! Lo!!! Cinta gue !!! semuanya Bim. Gue bukan orang begok yang harus ninggalin semua tanpa alasan!!! Gue bakalan mati dalam waktu deket! Ngerti!!! sekarang gue......." sebelum selesai aku berbicara, serasa kepalaku pusing, mataku gelap dan aku tak tau apapa lagi.
Lama mataku terpejam, yang ku rasakan hanya linangan air mata, rasa sakit di kepalaku yang aku rasakan tak bisa kuungkapkan begitu saja. Mataku tetap terpejam beberapa saat, yang aku lihat adalah taman putih penuh dengan bidadari, kesejukan dan penuh kedamaian. Apakah ini surga?
Tiba-tiba mataku terbuka dan melihat ruangan kosong yang selalu aku benci, infus, tabung oksigen dan semuanya yang menyebalkan.
Dokter segera melakukan hal yang sudah biasa aku alami dan aku hanya meminta semua sahabat dan keluargaku masuk keruangan ini untuk menemaniku, walaupun larangan dokter untuk aku dikunjungi banyak orang tapi tetap aku memaksa kehendakku dan akhirnya dokterpun mengizinkannya
"maaaaa, paaa sakit" ujarku merintih saat mereka memasuki ruangan ini
"sabar sayang, kita bakal bawa kamu ke Belanda lagi untuk pengobatan ya sayang" jawabnya
"enggak mah, Monic mau pergi. Monic udah punya hidup baru" jawabku melemah
"mon, lo gak boleh bilang gitu. Lo jangan tinggalin gue lagi" jawab Bima semabri meraih tanganku
"Bim, maafin gue. Maafin gue gak bisa bikin lo bahagia lagi kayak dulu, maafin gue udah ninggalin lo" ucapku perlahan
"gue gak marah kok Mon, asal lo balik lagi kekehidupan gue" jawabnya
"maafin gue gue gak akan pernah bisa masuk kekehidupan lo lagi"
"Ma, Pa iklasin Monic pergi maaa. Monic mohon ma. Monic capek, Monic gak mau ngerasain sakitnya ma"
"Monic..."
"Ma, please maaaa"
"Iyaaa sayang, papa, mama, dan semuanya ikhlas kamu bahagia nak" balas papaku
Dan, kupejamkan mataku untuuuk selamanya...

Maafin aku Bim, aku datang dan untuk kedua kalinya pergi tinggalin kamu, aku akan hidup tenang disana..
Dan aku akan selalu memohon untuk kebahagiaanmu tanpa aku lagi....
Ryan, terima kasih akan kelapangan dadamu untukku menagisi laki-laki lain. Walaupun sudah kamu ucapkan kata cinta itu saat aku pergi kebelanda untuk berobat! Aku tak mampu mencintai laki-laki yang membuatku bahagia, karna aku yakin aku tak dapat membalasnya.
Ma,Pa Monic sayang kalian dan akan selalu hidup dihati kalian.....

Comments

Popular Posts