Wanita Terbaik (cerpen)

"selamat pagi dunia" seruku saat membuka mataku dari tidur lalepku semalam...
Aku Tania Dewi seorang anak dari tukang sayur keliling dan ibuku hanyalah buruh cuci desekitar kompleks rumah mewah didekat rumah mungilku. Aku terlahir sebagai anak tunggal dari keluarga miskin ini, namun tak ada rasa sedih dibenakku karen terlahir dikeluarga yang kurang mampu. Kedua orang tuaku selalu mengajarkanku apa arti besyukur setiap saat apapun yang Tuhan berikan. Termasuk keluargaku ini, aku merasa orang yang paling beruntung didunia ini! aku memliki kedua orang tua yang sangat menyayangiku, selalu memberikanku perhatian yang sangat amat cukup tidak seperti teman-temanku yang lain.
Aku bersekolah di sebuah SMA elit dikotaku, namun bukan berarti aku sekolah dengan uang dari kedua orang tuaku! Aku mendapatkan beasisiwa perstasi disekolah ini. Sekolah yang membawaku merasakan kehidupan yang sangat lengkap!
Seperti biasa, pagi ini aku harus bangun pagi dan membantu Ayahku mnyiapkan segala dagangannya. Bukan permintaan laki-laki tangguh itu untuk aku membantu pekerjaannya, namun rasa sayang ku terhadapnya membuatku mengerti apa yang harus aku lakukan untuk sedikit meringankan pekerjaan kedua orang tuaku.

Setelah aku membantu Ayahku dan mengantarkan ibu ku kerumah mewah langganannya yang biasa memakai jasa ibuku untuk membersihkan rumahnya aku bergegas berangkat ke sekolahku tercinta SMA Bunga Bangsa. Ku kayuh sepeda baruku, hadiah dari Ayah dan ibuku dikala aku berulang tahun seminggu yang lalu. Sepeda impianku yang aku dambakan sejak aku SMP dan baru sekarang aku mendapatkannya. Seperti yang aku bilang tadi, sekolahku ini Elit. hampir semua yang bersekolah disini adalah anak orang kaya dan manja. Aku sering dijadikan bahan ejekan mereka saat disekolah, kerena kemiskinanku dan pekerjaan orang tuaku. Sakit hati sebenarnya akan kata-kata mereka, tapi biarkan saja! yang penting aku lebih bahagia daripada mereka yang terus mencari selah-selah keciku.

"pagi Tania..." seru laki-laki tampanku, seorang anak orang kaya raya! bahkan salah satu pemilik saham disekolahku ini Ryan Putra Hardika. Dia sosok laki-laki yang baik dan selalu melindungiku dari ejekan teman-temanku.
"Pagi big bos" jawaku
"numben siang berangkatnya" tanyanya sembari menggandeng tanganku
"nganterin ibu dulu tadi, hehe. Ria mana kok gak sama kamu?" tanyaku menanyakan kembaran Ryan, iya dia sahabat karibku Rya Putri Hardika
"biasa sama pacar barunya tuh" jawabnya sembari menunjuk Rya yang sedang berjalan dari arah berlawanan.
Aku dan Ryan memang pasangan yang banyak dijadikan gunjingan, mereka menuduhku hanya untuk mendongkrak pamor dan agar dapat mencukupi segala kebutuhanku. Hubungan kami yang baru seumur jagung itu memicu segerombolan wanita metropolitan terus membuatku tersiksa.
Sekolah berlalu seperti biasanya. dan inilah hari terakhir kami untuk menjalankan Ujian Nasional, tak terasa kami sudah akan melepas seragam abu-abu putih kami. Dan itu artinya, aku akan berpisah dengan mereka, sahabatku dan kekasih. Tidak ada lagi lelucon-lelucon dari mereka dibangku sekolah ini lagi.

Rya akan melanjutkan kuliahnya di Bandung dan Ryan? entah kemana dia akan melanjutkan kuliahnya, dia tak menyampaikan apapun tentang itu kepadaku, setiap kali aku tanyakan dia hanya terdiam dan tak mau membahasnya. Jiwa seninya yang kuat membuatku yakin dia akan mengambil kuliah di Abndung juga bersama Rya. Sedangkan aku? Aku tau kemampuan orang tuaku takkan mampu membuatku melanjutkan pendidikanku begitu saja, namun kegigihanku untuk tetap bersekolah apapun caranya!
Aku sudah mendapatkan beasiswa disebuah Universitas di Belanda, beasiswa yang sangat mengejutkanku. Aku anak seorang pedagang sayur bisa bersekolah diluar negri? wow!!! Berat rasanya aku meninggalkan kedua orang tuaku untuk bersekolah disana dan aku juga harus meninggalkan Ryan.

Hari berlalu, liburan panjangpun berada tepat didepan kami. Ryan, Rya,Felix kekasih Rya dan keluarga Rya akan berlibur Bandung. Mereka pun mengajakku untuk ikut bergabung bersama mereka diliburan panjangnya, sebenarnya aku tak ingin ikut. Aku takkan mampu untuk ikut bergabung bersama orang kaya raya seperti mereka,namun karena desakan Mama Ryan yang sudah dekat sekali denganku ini membuatku tak mampu menolak ajakan mereka. Pagi itu kami berangkat dari Jakarta menuju Bandung, kami berangkat dengan 2 mobil. Didalam mobil, kami bergurau dan Rya rewel dengan segala macam apa yang dia inginkan nanti disana
"Tania, lo mau ngapain entar sempek sana? kita jalan ya? udah pengen belanja nih, oiya aku juga mau beli sepatu yang udah lama aku pengen" ucapnya
"dih bawel banget sih lu! nerocos aja, ajakin Felix aja. gue mau ajakin dia pacaran" jawab Ryan
"apaan sih lu! lu aja deh jalan ama Felix gue mau belanja. habis kalo kita jalan berempat lo rewel sih kalo gue belanja" protes Rya
"kalian ini sodara engak ada akur-akurnya ya?" udah kamu jalan sama aku aja sayang! kita belanja sesuka hati kamu deh" jawab Felix
"tuh Felix udah baik mau nganterin: jawabku
"ah apaan sih kalian nih! bilang aja Tan lo mau pacaran" jawab Rya kesal
"dih, emang lo doang yang mau pacaran? Tania ama gue juga ya" Sahut Ryan membela diri
"udah ah ribut muluk deh" jawabku sembari tertawa
Perjalanan yang menyenangkan dan sampailah kami dirumah keluarga Ryan dikawasan perumahan mewah. Rumahnya besar, halamannya luar dan sangat nyaman. Keluarga Ryan tak mengetahui hubungan ku dan dia sudah lebih dari teman, dan ternyata setibanya kami disana kami disambut oleh seorang gadis cantik
"slamat datang tante, om, Rya dan teman-teman! Selamat datang sayang" ucapnya sembari lari dan memeluk ryan didepan mataku
Tak dapat aku berkata, tubuhku lemas seakan tak dapat ku menopang tubuhku. Rya dan felix menatapku tajam dan merekapun tau apa yang aku rasakan saat ini. yang aku herankan, Ryan juga diam saja dengan pelukan hangat wanita itu
"capek ya sayang, yuk masuk kita makan. aku udah siapin makanan tuh didalem buat kalian. oh iya pacar baru ya Rya? ini siapa?" ucapnya panjang lebar
"iya ini cowok gue, namanya felix. kalo itu..."
"gue Tania, sahabatnya Rya" potongkuku
"iyaa, dia juga.." sambungnya
"juga sahabatnya Ryan" jawabku seakan ingin menutupi hubunganku dengan Ryan
"oh, haloo gue Niken" jawabnya sembari mengulurkan tangannya dan tersenyum manis
"salam kenal" jawabku
Setelah kami berkenalan, kami pun memasuki rumah mewah itu dan terus menuju ruang makan. Kami menyantap hidangan yang istimewa ini, yang semula aku merasa lapar tiba-tiba kau merasa kenyang. Makanan yang ada didepanku hanya aku mainkan saja, aku blaik-balik dan sesekali menyuapkan kemulutku sendiri.
Kaki Rya menendangku entah apa yang dia inginkan, aku tak perdulikan semuanya.
"semuanya aku kekamar dulu ya? mau ambil HP. temenin yuk Tan" serunya
"nanti dulu sayang ambil hpnya, papa sama mama mau ngomongin sesuatu nih" larang mama Rya
"apa sih mah?" jawab Rya
"tiga hari lagi papa dan mama akan bikin pesta disini" ucapn mama Rya
"seru tuh tante. pesta apa sih?" ucapku
harus doong. ini pesta pertunangan Ryan dan Niken. iya kan sayang?" jawab mama Rya
Sontak aku terkejut dengan ucapan Mama Rya tadi, jantungku serasa berhenti dan sepertinya aku tak dapat bernafas lagi. Aku benar-benar lemas dengan ucapan tante tadi, mataku langsung menatap Ryan yang duduk didepanku bersama calon tunangannya tadi
"mama yakin?" tanya Rya tak terima dengan keputusan mamanya
"iya sayang, mama memang belum membicarakan semua sama kamu, tapi Ryan udah tau kok. dan dia menyetujuinya, lagian Kalian sama niken juga udah kenal dari kecil kan? Niken sama Ryan juga udah sering komunikasi, sepertinya Niken sayang sama Ryan. engak ada salahnya kn?" jawab Tante Monic mama Ryan
aku hanya menelan ludah mendengar semua yang dilontarkan Tante Monic tadi, seakan ada reruntuhan tembok yang menimpaku, aku berusaha sekuat mungkin menahan air mataku. Kekecewaanku begitu besar, tak kusangka Ryan begitu mudahnya menghancurkan hatiku. Tak ada satu katapun yang terlontar dari mulut Ryan, aku mencoba mempertanyakan kebenaran ini kepada Ryan
"ciee selamat ya yan, kok lo gak pernah cerita sih. udah lama pacarannya?" sebelum aku mendengar apapun dari mereka tiba-tiba Rya menarik tanganku
"tiba-tiba gak nafsu makan nih" ucapnya
Entah apa yang dia pikirkan, dia membawaku pergi kekamar dan dikamar dia memelukku erat
"maafin Ryan ya Tan, maafin gue" ucapnya sembari dengan suara berat
"iya gapapa kok sayang" jawabku sembari menetskan air mata ku ini
"Tan, lo tetep jadi sahabat gue kan?" tanya Rya
"apaan sih lo! iya lah! lo tetep sahabat gue Rya" jawabku sembari mengelap linangan air mata ku
"Gue gak tau apa yang ada dalam benak Ryan! Tega banget sih dia nyakitin lo gini, lo gak boleh diem aja! lo harus rebut Ryan dari nenek lampir itu!" seru Rya sembari melepas pelukannya dan mengusap air matanya
"Ryan pasti punya alesan kok ya. Kalo ini yang terbaik buat dia, kenpa gue harus ngerusak?" jawabku singkat
"lo gak sakit ati?" tanya Rya
"sakit? banget ya! tapi gimana lagi, gue harus gmana? nyokap bokap lo ada alesan kok buat jodohin Ryan sama Niken. Niken cantik, lagian gue juga harus sadar diri, gue ini siapa sih?" jawabku sembari menunduk
"lo gak sayang sama Ryan?" tanya rya seolah tak percaya dengan ucapanku
"justru karna gue sayang banget sama Ryan makanya gue ngebiarain dia dapet yang terbaik buat dia" jawabku meyakinkan Rya
"aaa Tania lo tulus baget sih! begoknya Ryan udah nyakitin lo!" jawab Rya
"gue harus nemuin Ryan!" sambungnya sembari keluar dari kamar
Akuu mengejarr Rya karna aku tau Rya akan melakukan sesuatu karena sahabatnya dibuat menangis oleh orang lain. Benar apa yang aku duga! Rya mrndatangi saudara kembarnya yang sedang duduk sendirian dipinggir kolam renang
"Ryan!!!" ucap Rya yang menarik Ryan sembari menampar Ryan dengan keras
"lRya! lo apaan sih?" ucapku sembari menarik Rya
"gue? gue kasih pelajaran ke orang yang udah nyakitin sahabat gue" jawabnya sembari menahan tangisnya
"Iya tapi dia kembaran lo Rya" jawabku
"gue gak peduli! gue benci sama cowok begok kayak lo yan!" jawabnya
"udah sayang." ucap Felix tiba-tiba dari belakang dan memeluk Rya
"Felix, ajak Rya kedepan ya?" ucapku
Aku hanya terdiam untuk menyiapak hatiku, aku tak menyangka kedatanganku ditengah keluarga Rya akan merusak semuanya
"maafin aku Tan" terdengar tiba-tiba suara Ryan yang sedikit bergetar
aku menoleh dan melihatnya tertunduk
"buat apa?" jawabku sembari duduk disebelahnya
"buat semua rahasia besar ini" jawab Ryan menatapku dan meneteskan air mata
"gakpapa kok yan, aku ikhlas lepasin kamu buat dia kalo ini yang terbaik buat kamu" ucapku menahan sesak dan mengusap air mata yang jatuh dipipi Ryan
"kamu gak sayang sama aku?" tanyanya bernada kecewa dengan apa yang aku ucapkan tadi
"aku sayang banget sama kamu, tapi mungkin ini yang terbaik buak mau yan. Aku mau liat kamu dapetin orang yang lebih dari aku"jawabku yang tak dapat lagi menahan air mataku
Dia hanya memelukku dan berulang kali memita maaf, aku terdiam dipelukannya aku merasakan luka hatiku semakin perih. Harus secepat ini kah aku melepaskan cintaku yang belum ada 1bulan ini?
"udah yan, aku mau tidur dulu aku capek" ujarku sembari melepaskan pelukan Ryan
Tak kudengar kata-kata apapun dari mulutnya. Aku berdiri dan meninggalkannya, namun tangannya menggapai tanganku. dia memelukku dari belakang. Entah apa yang dia rasakan sekarang, aku tau hatinyapun miris! seperti apa yang aku rasakan. Namun aku tak mau berlama-lama merasakan kesakitan ini dalam pelukannya ku lepas tangannya yang melingkar dipinggangku
"aku sayang kamu Ryan"ujarku lirih dan kembali meninggalkannya dan untuk yang kedua kalinya dia tak mau melepaskan ku pergi dari sisihnya
"apa lagi?" ujarku menahan sakit dan membelokan badanku, dia hanya terdiam dan mencium keningku
"maafin aku sayang. aku sayang kamu" ucapnya sembari mencium keningku dengan hangat dan tangisannya membuatku semakin tak berdaya. Aku benci dengan suasana ini, kudorong tubuhnya dan aku lekas pergi meninggalkannnya.
Hari-hari berlalu, liburan ini membuatku sesak. Hingga malam itu, pesta pertunangan Ryan dan Niken, aku masih tak percaya laki-lakiku itu berdampingan bersama wanita lain. Jari maisnya sekarang sudah dihiasi cincin cantik yang disematkan oleh TUNANGANNYA malam itu! hanya satu minggu akhirnya aku ikut berlibur dengan keluarganya, aku pulang ke Jakarta bersama felix dan Rya. sedangkan Ryan dan kedua orang tuanya masih bertahan diBandung. Sepanjang perjalanan pulang ke Jakarta, aku hanya menangis dan menangis! Tak ada lagi yang dapat aku lakuakn, pedih rasanya!
Sebulan sudah pesta pertunangan Ryan dan berakhirnya hubungan kami, dan inilah jadwal keberangkatanku ke Belanda untuk meneruskan studyku dengan beasiswa yang ku dapatkan. Sejak saat itu aku lepas komunikasi dengan Ryan. Dan pagi ini aku diantar oleh Rya dan Felix kebandara, saat aku menginjakkna kakiku dibandara, tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang beda sontak aku melihat sekelilingku. dadaku berdegub kencang aku merasakan sesuatau saat aku disamping Ryan!
"Tania!" teriak Ryan
aku hanya membalikan tubuhku kearah suara itu, dia memelukku erat
aku terdiam, karena Ryan memelukku didepan Niken dan mamanya
"jangan tinggalin aku" ucapnya sembari mengguncangkan tubuhku
"tante udah tau semuanya Tania, maafin tante" ucap Mama Ryan yang sekarang berdiri tepat didepan kami berdua
"enggak ada yang perlu mintak maaf tante, semuanya akan berjalan baik-baik aja kok" ucapku meraih tangan Mama Ryan
"cinta lo terlalu tulus buat dipisahin Tan" ujar Monic
"mon, sini deh" ujarku dan menarik tangan Monic dan Ryan
"kalian janji ya sama aku? kalian langgeng dan kalian bakalan nyoba sayang satu sama lain. jangan ada yang menjadi korban perasaan lagi ya? aku udah tau semua alasannya kok, aku ikhlasin Ryan. Aku titip Ryan ya mon? jagain dia buat aku" jawabku sembari mempersatukan tangan mereka berdua.
"aku pergi dulu ya" ujarku karena telah mendengar suara dari pihak bandara akan keberangkatan pesawatku

Aku relakan kekasihku dimiliki oleh orang lain, karena aku tak mau menyakiti banyak perasaan. Cukup aku dan Ryan yang merasakan kesakitan cinta ini, aku yakin akan ada kebahagian yang lain untukku dan Ryan.
AKu sayang kamu Ryan, aku pergi jauh dan sekarang kamu bukan milikku lagi. tapi percayalah, hayti menyayangimu sampai saat ini jantungku masih kamu bawa. Lakukan yang terbaik untuk kedua orangtuamu dan Rya. Karena Monic adalah wanita yang tepat untuk kamu..
Hutang budi yang Papa kamu miliki kepada kakek monic yang tak akan bisa dibalas oleh tumpukan uang. Walaupun bukan niat mereka menjualmu untuk membayar hutang budinya, namun hanya itu yang bisa mamnuatmu membuktikan kasih sayangmu kepada kedua orang tua dan keluargamu. AKu bangga sama kamu Ryan Putra Handika....


Masih butuh kritik dan sarannya ya?
FB : Dewim Probscream
Twitter : @deewwiik


Comments

Popular Posts