Petrichor, namanya.

Seharian aku menunggu kabar dari matahari, tapi tidak kunjung tiba. Mencoba mencari cahayanya dari dalam kamar dibalik jendela. Hatiku mulai gelisah, aku tak tau apa yang akan terjadi saat matahari tak datang hari ini. Aku yakin tidak akan ada manusia yang betah tanpa kehadirannya.
Diujung mataku melihat jam dinding dengan warna putih tulang terus berdetak dari detik ke detik. Aku berdiri di depan cermin, merapihkan pakaianku dan riasan wajahku.

"Dian..... Dika dateng ini Dek" tiba-tiba ibuku berteriak dari luar, seperti biasa dengan suara menggodanya.
"Iya Bu" jawabku berlari melihat Dika dari ujung gorden kamarku.

Kaki ku melangkah, mangambil tas kerjaku dan mendekati Dika yang hanya berdiri di halaman rumahku dan berbincang dengan Ibuku.
"Bu, berangkat dulu ya?" Ucapku pamit pada Ibu ku sambil mencium tangan dan menarik Dika untuk cepat-cepat masuk kedalam mobil.
"Duh sebentar sih Di, pamit dulu sama Ibu. Bu, berangkat dulu ya. Nanti uang jajannya di transefer aja, hehehe" ucap Dika sambil cenggengesan sambil masuk kedalam mobil merahnya.

Sepanjang perjalanan aku hanya diam, lagi-lagi melihat matahari yang tak kunjung hadir. Hanya ada awan mendung dan gelap.
"Di, kenapa sih lo? kumat?" tanya Dika
"Nggak tau Dik, gelisah lagi" jawab ku simpul.
"kita mampir beli coklat panas ya?" jawab Dika.
"Nggak usah, gw ada meeting nggak keburu takutnya" balasku dengan terus melihat langit yang tak ada aba-aba untuk mengembalikan matahari.

Selesai meeting di kantor, aku kembali ke meja ku, untuk mengerjakan beberapa keinginan  client, belum aku duduk aku membaca sebuah notes kecil "nih buat lo, biar gw nggak lo cuekin dijalan ntar pas pulang" aku tau ini pasti dari Dika disecangkir coklat panas. Aku hanya melempar senyum kecil melirik ke meja Dika yang masih sibut bekerja.

"Thankyou ya, Dik" sapa ku di kolom Whatsapp nya.
Dia hanya menoleh kepadaku dan mengangkat satu alisnya dan tersenyum.

Aku bekerja sebagai Sales Marketing di sebuah perusahaan Start Up yang belum lama ada di kotaku, dari semua permasalahan tentang pekerjaan ku yang sudah-sudah, aku mulai belajar banyak atas tanggung jawab. Ya, menjadi seorang pekerja memang tidak mudah, lingkungan pertemanan semakin menipis, menghadapi atasan dan paling berbahaya adalah jatuh cinta dengan teman satu kantor. Aku sudah tidak ingin lagi kehilangan pekerjaan hanya karena emosionalku semata itu membentukku menjadi pribadi tertutup. Bukan berarti aku tidak berteman atau bersosialisasi aku hanya membatasi cerita tentang diriku, hanya itu. Dika, satu-satunya orang di kantor yang tau masa laluku dan kehidupanku sehari-hari. Kami bersahabat sejak outing  kantor yang aku ikuti pertama kalinya.

...
Ku hanya duduk di balkon kamar hotel, setelah pesta dengan minuman beralkohol, aku tau kalau aku melanjutkan minum-minum malam itu aku akan menangis sejadi-jadinya karena luka ku belum sembuh dari dirinya. Dari laki-laki yang aku cintai sampai hal terburuk yang dia lakukan kepadamu, bahkan sampai satu tahun perpisahan kami. Malam ini aku menarik diri dari keseruan teman-teman kantorku, dengan rokok kesukaan ku dengan satu gelas minuman yang aku bawa dari kerumunan teman-temanku, tiba-tiba Dika datang menghampiriku.
"Lo kenapa sih? gw perhatiin kalau ada minuman dan lo udah mulai enak main pergi aja" sapanya tiba-tiba mengejutkan ku
"anjir, ngagetin aja lo. enggak, gw emang nggak suka aja minum ramean" jawabku dengan sangat terkontrol.
"Lo pernah pacaran sama Viko ya, Din?" tanya Dika tiba-tiba. Manusia ini selalu mempertanyakan sesuatu dengan apa adanya, tanpa ada tembok yang menghalangi apapun darinya.
"Dik, lo kalo nanya kenapa nggak pake basa-basi sih?"
"Kenapa harus basa-basi kalo to the point aja enak?"
"Lo tau apa tentang gw sama Viko?" tanya ku.
Dia menceritakan panjang lebar, dia mengenal Viko tidak cukup dekat. Mereka pernah mengerjakan satu project yang membuat mereka jadi banyak bercerita. Termasuk Viko dan aku.
Aku mulai berani menceritakan tentang aku dan Viko, laki-laki yang sampai saat ini masih menyita energiku. Sampai aku menangis dan dia hanya membelai pundakku, sangat menyakitkan. Aku kembali merindukannya, aku kembali membayangkan luka yang pernah kami berdua buat.
Sejak malam itu, aku mempercayakan semua ceritaku kepadanya.
...

"Lo mau balik nggak? gw udah capek banget nih" seruku kepada Dika dari meja kerjaku yang hanya berhadapan dengannya
"brisik banget sih lo. Pulang sendiri gih sana!" jawab Dika dengan masih berkonsentrasi dengan pekerjaannya
"benernya, gw pesen Go-Car nih!" seruku dengan mengangkat tasku
"heh! enggak, tunggu bentar" balas Dika panik.
Aku tau, Dika tidak akan membiarkan aku pulang sendirian. Yes! aku menang!
"kalian nih kalo nggak pake berantem kenapa sih?" sahut Nana, teman satu divisi Dika yang tau betapa dekatnya kami berdua.
"ya habis bos lu tuh, nggak bisa dialusin" sahutku sambil menarik kursi disebelah Dika yang sedang menyelesaikan pekerjaannya.
"Di, lo kalo masih bunyi mulu gw silent nih"
"Lo pikir gw HP"
Lama aku menunggu, tiba-tiba jantungku berdegub lebih cepat, aku mulai gelisah dan mengingat masalaluku yang belum selesai ku selesaikan. Viko....

...
"jangan gengsi be, jangan malu mengakui semuanya. Aku siapa sih harus kamu bohongin atas hal ini? aku tau ini berat, tapi jangan disimpen sendiri. Aku sedih lihat kamu kayak gini." ucap Viko sembari memelukku, setelah aku merancu menjelaskan kenapa aku harus berbohong kepadanya.
"be, kamu minta aku jujur. tapi kamu bohong" ucapnya.
"tapi aku nggak pernah membohongi kamu tentang laki-laki lain. nggak kayak gini, Fifi nginep di kos kamu dan kamu bilang enggak, tapi subuh tadi aku liat sepatunya diluar kamar kamu! Aku cuma menyimpan apa yang jadi rahasia pribadiku." balasku sembari menangis kesakitan.
"aku nggak ngelakuin apa-apa sama dia, dia cuma nginep itu juga sama Dara"
"tapi kamu bohong be! kamu kebayang nggak ketakutanku, kegelisahanku dari kosmu pulang ke rumah?"
...

"Gw duluan ya.." sapa Nana kepadaku dan Dika.
"ati-ati, Na" sahut Dika
"eh udah balik aja, Dika ayo buruan. Ngantuk gw" ucapku
"Di, bentar dong ini kalo nggak gw kerjain sekarang. besok lo nelphonin gw dari jam 5 pagi, males gw besok pingin bangun siang."
"client gw ya? yaudah deh lo kerjain yang bener ya, tayang" sapaku manja.
"lo kenapa deh pucet? masih keinget Viko?" tanyanya sambil melanjutkan pekerjaannya.
"iya, gw nyesel Dik. Kenapa harus kayak gini."
"kita pernah obrolin ini sampek jam 5 pagi Di, lo nggak bisa kayak gini terus. Lo sakit sendiri, sedangkan dia udah happy dengan kehidupannya. Lo rugi Di."
"Dia pernah rugi jalan sama gw Dik, biarin gw sekarang yang rugi"
"Lo yang nggak mau sembuh, bukan keadaan yang menuntut lo untuk patah" jawab Dika sembari menutup laptopnya.
"ayo, katanya mau pulang" sambungnya lagi sambil mengulurkan tangannya.

Dia menggandengku sampai parkiran mobil dan mengantarkan ku pulang. Sepanjang jalan, dia menggenggam tanganku tanpa satu kata yang dia ucapkan. Ini bukan hal baru, dia selalu menggenggam tanganku saat kegelisahanku muncul, katanya dia hanya bisa memberi tangannya untuk membuatku tenang, sesekali pelukan tapi tak pernah berlangsung lama, karena menurutnya peluk yang membuatku tenang adalah Viko.

Hari terus berganti, matahari masih tak mau memberi cahayanya padaku. Aku masih bergelut dengan kegelisahanku, sampai hari itu datang.

"Di, kalo gw punya pacar lo gimana?" tanya Dika
"ya nggak gimana-gimana, kan gw tetep bisa cerita sama lo dikantor" jawabku santai dengan mengerjakan pekerjaan ku.
"enggak, kan maksudnya waktu gw bakalan kesita banyak buat cewek gw. buat temen aja total, gimana sama cewek gw kan?" balasnya.
Tiba-tiba kepalaku panas, aku melihatnya tanpa berkedip.

...
"aku nggak bisa be jadi partnermu sekarang, kalau aku jadi temen mu aku bisa bantuin kamu sewaktu-waktu. aku masih mau perhatiin kamu dan bantu kamu, aku tau rasanya sendiri kayak apa. aku nggak mau kamu kayak gitu" ucap Viko sesaat setelah aku mempertanyakan kelanjutan hubungan kami.
"tapi aku nggak bisa temenan dengan posisi aku masih sayang dan nggak mau kehilangan kamu" jawabku meneteskan air mata, lagi.
"tapi aku nggak bisa kehilangan kamu be. aku masih mau peduli sama kamu, kamu masih bisa kok kesini kapanpun kamu mau" balasnya sembari memelukku dan menangis, kami berdua menangis atas ketidak berdayaan kami atas hubungan ini.
...

"Dik, lo baru kali ini ya ngomong nyakitin gw" sahutku membentak
"Di, sorry. Lo keinget Viko lagi ya? gw  nggak maksud beneran" balas Dika panik.
"Lo tau kan, betapa patahnya gw sama hal-hal berbau pertemanan dan pacaran? Lo tau kan gw nggak percaya atas omongan tentang total sm temen. Viko aja bisa Dik ngebuang gw gitu aja hanya dengan berembel-embel temen dan dia bisa loyal tapi mana? sampai detik ini dia nggak ada usaha ngehubungin gw atau cari kabar tentang gw." balasku semakin naik darah.
"Di, lo kenapa menyama ratakan sih? Lo kenal gw kan?" balas Dika dengan membentak ku.
Tiba-tiba aku meneteskan air mata, merasa lukaku semakin parah. Dika berusaha menggenggam tanganku, tapi aku lepaskan dengan kasar.
"Lo mau punya pacar silahkan, tapi gw akan mengurangi kedekatan kita. Gw nggak mau ada cewek yang ngerasa insecure atas persahabatan pasangannya dengan lawan jenis. Udah Dik, gw aja yang terus ngalah atas semua itu. Gw mengiyakan semua hal yang mau Viko lakukan dengan sahabat-sahabat perempuannya, sampai mengikhlaskan dia dipeluk perempuan lain." tambahku dengan tangisan yang semakin menderu.
Dika menarik kursiku dan menatapku tajam.
"Gw jatuh cinta sama Lo! Puas Di? Gw tau, gw nggak akan pernah bisa jadi Viko yang mencintai lo dengan begitu manis, lo bisa jadi temen, jadi kakak, jadi adek, bahkan jadi pacarnya dalam waktu sekaligus. Gw cemburu sama Viko, kenapa harus membiarkan egonya untuk sabar menunggu lo berubah jadi kayak gini. Gw marah sama lo, karna lo nyakitin diri lo sendiri. Lo nggak usah peduliin rasa gw ke lo. Buang dulu jauh-jauh tentang gw. Gw nggak pernah cemburu bagaimana lo menceritakan Viko didepan gw, sedikitpun enggak. Viko adalah Cinta terakhir yang lo harapkan. Viko itu matahari buat Lo. Peluk Viko yang selalu menjadi tempat paling nyaman buat lo berlabuh, bahkan saat peluk lo dan sentuhan lo jadi hal yang paling menggelikan buat dia. Bahkan ciuman lo dia tolak dengan cara yang menyedihkan. Gw tau Di, gw sampai hapal semua hal yang membuat lo jatuh cinta dari dia. Gw cuma mau lo sembuh, walaupun cuma sebentar dengan gw pegangin tangan lo" jelas Dika yang membuat aku terkejut sejadi-jadinya.
"Dik, gw sesayang itu sama Viko." Sahutku sembari memeluknya.......

Comments

Popular Posts