Petrichor, namanya. #2

Jelas, aku tak menutupi rasaku kepada Dika. Sekali lagi aku tidak mampu merusak semua, pekerjaan dan persahabatanku. Sejak hari itu, aku sedikit mengukur jarak kepadanya. Dia tak lagi mampu membuatku mengiyakan ajakan berangkat bersama ke kantor, tidak semua hal aku iyakan. Hanya beberapa, seperti makan siang bersama atau hanya menonton film di rumah.

"Di, lo ngehindar?" tanyanya saat menonton film bersama dirumahnya.
"Dik, udah ah." jawabku pasrah.
"Lo nggak perlu kali mikirin perasaan gw ke lo. santai aja, gw nggak mau semua jadi berantakan. gw cuma mau jujur aja sama perasaan gw" jelasnya sembari menonton film dan tak melihatku sama sekali, seperti biasa dengan santainya dia mengajakku berbicara seakan bukan hal penting.
"Dik, ngobrol yuk" balasku dengan nada serius
Dika hanya mematikan TVnya dan mengarahkan tubuhnya ke hadapanku.
"Dik, lo tau kan gw takut atas masalah cinta kan?" awalku menjelaskan.
"Gw nggak minta lo bales perasaan gw Di, gw santai" balasnya
"iya, cuma ini bikin gw nggak nyaman. gw takut kita jadi friend with benefit terus menutup lo untuk jatuh cinta sama perempuan lain. sedangkan gw masih se-sayang itu sama Viko"
"Di, gw sangat paham atas perasaan lo ini sejak lo pertama kali menangis di hadapan gw. Gini, gw cuma mau jujur aja sama lo, gw nggak pingin lebih. Kalo gw jahat, gw punya banyak kesempatan. Lo mabok juga gw yang bawa lo sampek kamar, gw tidur disebelah lo, lo peluk gw nangis semaleman sambil ngamuk seakan-akan gw adalah Viko. Gw nggak masalah Di, beneran gw nggak punya perasaan cemburu. Gw cuma jatuh cinta dengan ketulusan hati lo menyayangi orang lain."
"Dika.." balasku meneteskan air mata.
"Di, terserah perasaan lo mau anggep gw gimana. Gw nggak berharap banyak atas lo dan gw, lo sama gw kayak gini aja gw udah seneng."
"Dik, ajarin gw menyayangi Lo sebagai partner gw bisa?" jawab ku pasrah.
"Di, gw akan membiarkan lo menyayangi gw dengan cara seperti ini. Yang jelas lo seneng, bahagia."
"Dik, nggak bisa gini. yang jelas, kita mau gimana?" tanyaku ragu
"Di, lo ragu. Nggak usahlah" balasnya menggeser wajahnya menatap layar TV

Aku menunduk, beberapa lama. Kami saling diam, tangannya menggapai tanganku. Aku memeluknya erat
"Di, jangan jadiin gw alasan lo menangis. Gw nggak mau." ucap Dika sembari mengusap rambutku.
Aku hanya diam, terus menangisnya dipeluknya.
 
...
"Dik, kalau suatu saat nanti nih gw balikan sama Viko kita gimana ya?" tanyaku malam itu.
"Ya nggak gimana-gimana, dia kan nggak punya cemburu buat lo. Jadi ngapain kita ngatur jarak?"
"iya, tapi gw udah nggak bisa nginep ditempat lo, atau sebaliknya. Gw pasti bakalan jadi perempuan paling bahagia di dunia, gw punya Viko sebagai partner gw dan gw punya lo jadi sahabat gw" balasku mengembang.
"Enak di lo nyet! lah gw? Gw pacarin anak buah lo aja kali ya, siapa namanya Niken? Lucu juga sih dia" balasnya
"Jangan Niken sih, benci banget dia sm gw. Padahal gw kan galak di kerjaan doang sama dia. emm, Nanak aja. Lucu dia, tipe lo banget" balasku sembari tertawa dan meletakkan kepalaku di dadanya
"Di, kita jadian aja apa ya?" ucap Dika tiba-tiba
"Lo gila ya!" balasku marah
"iya, gila. siapa juga yang mau sama cewek mulut pedes kek lo, hahaha" balasnya mengacak-acak rambutku
...

Pelan tapi pasti, aku berusaha membuang jauh-jauh pikiran Dika menyayangi aku lebih. Benar kata Dika, aku hanya belum siap atas keadaan yang tiba-tiba datang dihadapanku. Ini salah satu konsekuensi ku menjadi seorang manusia, berjalan tanpa tau akan bertemu dengan situasi apa.
Hubunganku dengan Dika semakin membaik, kami bersahabat seperti biasa. Malam ini, aku menunggunya datang untuk menjemputku meeting bersama client di luar kantor.
"Dian.." tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dan menyapaku
"Dik..a.. apa sih...." balasku sembari menoleh ke arah suara laki-laki itu
"Dika? Gw Wisnu, lupa lo?" Iya dia Wisnu, teman lama ku.

...
"Yaudah Hon, keputusan kalian emang nggak bisa dirubah lagi. Lo sabar aja, ikhlasin kalau emang Lo mau bahagia. Pelan tapi pasti nggakpapa." ucap Wisnu menenangkan ku
"Nu, gw nggak bisa ya balik sama Viko?"
"Viko keras kepala dan lo tau itu Di, anaknya yaudah aja gitu. Lo berharap apa dari dia?"
"Nu, gw sayang banget sama Viko."
...

Wisnu adalah temanku, dan teman Viko. Lebih tepatnya Wisnu adalah teman kantor Viko yang ku kenal lebih dulu. Dia salah satu orang yang tau bagaimana hubunganku dengan Viko selama ini.
"eh, hay.. gw kira temen gw. Apa kabar Nu?" sapaku dengan gugub
"baik Di, Lo apa kabar. Ngapain disini? sendirian lagi.." tanya Wisnu sembari duduk di sebelahku
"tadi habis meeting sama yang punya ini, terus nunggu jemputan temen gw. hehe, lo ngapain Nu?"
"tadi habis remote kerjaan disini sama anak-anak, ini nungguin anak-anak bayar terus mau cabut. ikut aja sekalian yuk?" ajak Wisnu
"mau kemana kalian? masuk?" sahutku
"hehe, iyaa. lama kita nggak masuk bareng, ada Viko juga tuh. Barang kali bisa balikan. hahaha" balasnya meledek.
"haha apaa sih, enggak ah. capek gw, besok pagi mau pulang rumah, warung udah nggak gw tengok seminggu." jelasku
"Oiya, gimana kabar warung lo? Laris bos?"
"Alhamdullilah, lumayan lah buat bantuin bayar cicilan rumah. haha"
"Di.." suara yang tak asing menyapaku.
"Dika!" balasku lega, aku takut bertemu Viko atau ada obrolan macam-macam tentang Viko.
"eh Wisnu, kenalin ini Dika. Dika ini Wisnu" ucapku mengenalkan mereka berdua
"Wisnu"
"Dika" mereka berjabat tangan saling memperkenalkan diri.
"mau pulang sekarang atau nanti Di?" tanya Dika
"sekarang aja yuk, Nu gw duluan ya. Salam buat anak-anak" ucapku sembari terburu-buru mengemasi barang-barangku.
"Lo nggak mau ketemu anak-anak dulu?" tanya Wisnu
"enggak deh, gw keburu-buru soalnya. Salam aja ya" tuturku sambil menarik tangan Dika
"duluan bos" pamit Dika kepada Wisnu.

Jantungku berdegub kencang, aku terlihat semakin panik sembari mencari obat anti depresan di dalam tasku pemberian dokter kejiwaanku.
"Di, kenapa? heh! lo kenapa?" sahut Dika sembari menarik tanganku dan berusaha membuat aku konsentrasi
"Dik, obat gw mana. Obat gw Dik" balas ku dengan terus ketakutan, Dika menarik tasku dan mengambilkan obatnya
"Nih, diminum dulu. tarik nafas, pelan-pelan"
Aku meminum obat itu, sembari mengatur nafasku pelan-pelan agar membantu pikiranku untuk tenang.

...
"Lo kenapa Di? Heh!" bentak Dika sesaat setelah aku melihat motor Viko diparkiran tempat makan yang akan aku kunjungi dengan Dika malam itu. Aku gemetar sekujur tubuh, jantungku berdegub sangat kencang, pikiranku melayang ketakutan.
"itu, Viko! Dika itu Viko" ucapku gemetaran
Dika memundurkan mobilnya dan mengantarkan ku ke rumah sakit terdekat.
Dokter mendiaknosa aku mengalami gangguan mental, yaitu ketakutan berlebih dengan luka masalalu yang membuat kegelisahan naik drastis ketika mengingat atau berdekatan dengan hal-hal yang melukainya. Dari keadaan itu, aku rutin untuk terapi dan dibelaki obat antidepresan kalau terjadi ketakutan atau kecemasan sewaktu-waktu dan aku tidak dapat mengontrolnya.
...

"Gw nggak suka ya Di, kalo lo kayak gini terus. Setiap ketakutan ketemu Viko lo selalu kemat kayak gini. Ini untung ada gw, kalo lo sendiri gimana?" Ucap Dika keras dengan tangan kirinya menggenggam tanganku sembari menyetir mobilnya jauh dari cafe itu.
"Gw juga nggak mau Dik kayak gini terus. Gw juga nggak suka sama perasaan kayak gini" sahutku pasrah
"Ya dilawan! Lo nggak suka tapi lo nikmatin rasa sakitnya! buat apa sekarang gw tanya? atau sekalian aja nih gw kunciin lo satu jam di ruangan yang ada Viko doang, biar lo biasa sama situasi ini?" sahutnya semakin menjadi.
"Dika, udah...." balasku menangis
"Lo selalu berhasil buat gw panik sama kesehatan lo Di!" balas Dika
Aku tau, Dika sangat marah dan kesal melihatku kumat akan ketakutan-ketakutan yang belum bisa aku maafkan. Aku tau, malam ini Dika pasti akan membeli minuman beralkohol dan meminumnya di depanku tanpa memperbolehkan aku ikut minum dengan alasan aku baru minum obat. Dika selalu menghukumku saat aku kambuh atas ketakutan ini, membuatku membalas kekawatirannya agar aku mau mengontrol emosiku. Melihat Dika mabuk, mau tidak mau aku harus fokus menolongnya bukan memikirkan hal-hal yang menyakitiku.
"Dik, lo mau minum?" tanyaku.
"masuk aja yuk, berdua doang" ajakannya
"Nggak mau, nanti lo mabok." balasku
"iya itu tujuan gw, biar lo kesiksa liat gw mabok." balasnya
"ya jangan didalem, siapa yang jagain gw?"
"gw ajak anak-anak."
"Dik, di rumah aja ya minumnya. Gw temenin, tapi nggak usah masuk" balasku ketakutan

...
"Anjing lo! ampek gw liat lo gangguin Dian lagi, mati lo!" bentak Dika kepada Fahmi dan memukulnya, teman kantorku yang berusaha menciumku di dalam sebuah club saat teman-temanku merayakan target kantor.
"Dika udah!" sahutku sembari menarik tangan Dika dan menjauhkan Dika dari Fahmi.
"Gw bilang kan sama Lo, kalo mau joget tunggu gw dateng! Di apain lo sama dia?" bentak Dika kepadaku
"Iya maaf, tapi nggak usah dipukul. Nanti dikantor jadi nggak enak kan." balasku kebingungan.
"Gw udah pernah bilang sama lo, gw nggak suka ada yang kurang ajar sm lo! Pulang sekarang" bentak Dika sembari menyeretku pergi dari tempat itu.
Sejak malam itu, tidak ada seorangpun yang berani merayuku atau menggodaku dengan hal-hal buruk.
...

Dika menepikan mobilnya disebuah taman parkir kota. Dia diam dan menahan emosinya sembari menggenggam tanganku erat.
"Dik, lo kenapa? Maafin gw" sapaku ketakutan.
"Di, pakai cara apa lagi bikin lo sembuh. Lo udah parah Di!" ucapnya menangis
Aku hanya menunduk dan ikut menangis, aku tau Dika sangat mengkhawatirkan ku.
"Di, sakit gw liat lo kayak gini terus. Gimana dong?" lanjut Dika.
"Maafin gw Dik, gw juga nggak ngerti harus gimana lagi. Gw harus apa Dik?" balasku
"Di, mau dong pergi dari situasi kayak gini. Percuma gw habis-habisan ngelindungi lo dari hal-hal luar yang bikin lo sakit atau sedih. Tapi dalem lo nggak lo jaga sendiri, kita udah bagi tugas, gw jagain gangguan luar dan lo jagain gangguan dari dalem lo sendiri. tapi mana? Lo tetep disitu-situ aja Di." keluh Dika dengan tangan kanannya memegangi kepalanya dan tangan kirinya tetap menggenggam tanganku.
Kami berdua menangis di dalam mobil, hanya berdua dan sesak tangis kami yang menggema di telingaku dan dia.
"pulang ya." ucapku lirih
"Istirahat." sambungku
"yaudah yuk." balas Dika melepas ganggaman tanganku
"gw tidur tempat lo ya" minta ku
"hmm" jawabnya dia lirih.......


Comments

Popular Posts