Petrichor, namanya. #3

Malam ini, Dika memutuskan untuk tidak minum-minuman beralkohol. Dia memutuskan untuk tidur di sofa kamarnya dan membiarkan aku sendiri di tempat tidurnya.
"Lo tidur atas aja, terserah lo mau ngerasa sendiri atau sepi. Lo masih mau berkhayal atau mau menuruti hati lo tentang Viko. Gw capek mau tidur, besok siang gw ke Bali ada meeting nasional." ucap dia lemah
"Kok lo baru bilang?" tanyaku singkat.
"baru sore tadi pas lo meeting di luar gw di telfon Jakarta." balasnya
Aku tak membalas ucapannya, aku menarik selimut dan berusaha memejamkan mata, tapi jantungku semakin kencang berdegub. Aku membuka mata, melihat Dika sudah mulai tertidur di sofanya. Aku perlahan mendekatinya tertidur. Aku menatap tajam wajahnya. Perlahan aku menggapai salah satu tangannya dan menggenggam tangannya. Aku merasa tenang, setidaknya aku tidak merasa sendirian.

...
"be, tidur sini aja loh. kasurnya masih cukup kalo babe tidur sini." ajakku kepada Viko
"iya, aku cuma mau tiduran aja di sofa. sebentar doang, babe duluan aja." balasnya sembari memejamkan matanya
Aku merasa Viko sudah mulai aneh, dia memberi jarak kepadaku. Matanya tak lagi mau menatap mataku, jangankan mataku wajahku pun tak ditatapnya. setiap kami bertemu dia sibuk dengan telfon genggamnya.
Aku hanya merebahkan tubuhku diujung kasur, sembari berusaha meraih tangan Viko, menggenggamnya hingga tertidur.
"geser be" ucapnya ditengah lelap tidurku
Aku menggeserkan tubuhku, dia memelukku dari belakang. Seperti biasanya, Viko tak pernah melepasku saat tertidur dilengannya.
...

"Di, kenapa lo tidur bawah?" ucap Dika membangunkan tidurku.
"hemmm? gimana Dik?" balasku dengan kaget dan terbangun.
"sini" dia menarik tubuhku dan memelukku diatas sofa
Aku hanya menurut saja, aku tak pernah takut Dika melakukan sesuatu yang macam-macam kepadaku
"besok gw tinggal sebentar, lo hindarin dulu meeting diluar kantor atau ajakan anak-anak dugem. Gw cuma 3hari perginya, atau lo pulang rumah ibu aja jangan di rumah kota sendiri kalo takut. kalo ada apa-apa telfon gw. kalo nggak bisa tiur video call aja ya?" terangnya sembari mencium rambutku.
"hmmm" jawabku mengantuk.
"makasih, Dik" ucapku dalam hati.
Semalaman aku tertidur dipelukan Dika. Dia menjagaku dari gelap malam yang tak pernah aku suka, hingga pagi datang kami terbangun bersama-sama. Mata kami saling memandang.
"Morning, Di" ucapnya dan mengecup keningku.
"Morning, Dik" balasku memeluknya
Jantungku berdegub tidak seperti biasanya saat aku bersama Dika. Ada yang berbeda. Aku merasa nyamanku lebih panjang dari pada biasanya, dipeluknya.

...
"mau pulang kemana?" tanya Viko
"emmm, kontrakan aku aja." jawabku ragu, malam itu aku hanya ingin di dekapnya. Menenangkan hati karena pekerjaanku tak kunjung membaik, kemelut perkuliahan kembali datang untuk ku selesaikan.
"yakin? di aku aja ya?" balasnya
"nggakpapa?" tanyaku
"ya nggakpapa dong be, kenapa harus kenapa-kenapa?" jawabnya dengan semyum mengembang.
"yaudah, ayuk."
Beberapa malam tidurku tidak pernah nyenyak, aku selalu ketakutan dengan masalah-masalah yang selalu ku tunda menyelesaikan. Malam itu, aku tertidur nyenyak dipeluknya. Merasa tak pernah terjadi apa-apa, setidaknya untuk malam ini, aku bisa mengistirahatkan pikiranku dan tubuhku.
Pagi hari aku tak melihatnya disampingku, yang aku dengar hanya ketuk pintu tidak selang lama Viko datang dan duduk disebelahku.
"Kenapa be?" tanyaku
"Apanya?" jawab dia kebingungan.
"Ada yang dateng?" tanyaku.
"emm, enggak. habis pipis tadi, hari ini mau kemana?" tanyanya mengalihkan perhatian.
Selang waktu beberapa lama, aku tau perempuan yang pernah dekat dengannya datang pagi itu membawa makanan, sarapan untuknya karena belum lama Viko jatuh dari sepeda motornya saat akan menjemputku bekerja. Sampai saat ini, aku menyimpannya sendiri. Mengalahkan egoku untuk perempuan itu berbahagia. Aku tau, kedekatanku dan Viko begitu mendadak dan sangat sulit untuk perempuan itu menerimanya, tidak apa bagiku. Walaupun terkadang Viko masih memberikan cela keperempuan itu untuk merasakan bahagia bersama Viko.
...

"Dik, pagi ini gw merasa lebih tenang." ucapku sembari duduk di sofa dan melihat Dika merapikan baju untuk dibawanya ke Bali
"Efek obat lo semalem kali." Jawab Dika santai
"emmm, mungkin." jawabku ragu.
"Gw mandi dulu, lo mau mandi nggak? kalo iya mending lo duluan deh." sahut Dika
"emm, enggak deh. Gw mandi dirumah aja. Ntar gw anterin lo ke bandara ya? Mobil lo biar gw bawa dulu" jawabku sembari menarik tasku untuk mencari rokok dan membakarnya karena aku merasa takut Dika pergi.
"Lo takut ya gw tinggalin? Yaelah. Baru pergi 3 hari doang Di" ucapnya sembari meledekku
"Ntar siapa yang jagain gw?" jawabku merayu
"Lo jangan mulai bikin gw kawatir" sahutnya sembari menarik handuk dan masuk ke kamar mandi.

Sejenak aku menikmati pagi ini, membuka jendela kamar Dika yang selalu menyegarkan saat pagi datang. Dika sangat suka menanam tumbuh-tumbuhan, mulai dari sayur-sayuran polibak, anggrek ataupun tanaman hias lainnya, dia bilang mengingatkan kepada mamanya. Perempuan yang mengajarkannya mencintai dengan tulus.

...
"Lo suka ya nanem-nanem kayak gini" tanyaku sembari memetik cabai di kebun kecilnya.
"Gw selalu inget Ibu kalo banyak tanaman kayak gini, dulu semasa hidupnya dia rajin banget nanemin kayak gini. Katanya, kenapa harus mencari jauh-jauh kalau di depan udah ada." jawab Dika sembari mengingat almarhumah Ibunya.
"Dik, sorry" jawabku sembari mendekatinya yang sedang duduk sembari memangku gitar kesayangannya.
"Nggakpapa Di, lo tau nggak kenapa gw paling nggak tega liat cewek kesakitan?" tanyanya.
"Kenapa?"
"karena Ibu nggak pernah ngerasain di lindungi sama laki-laki di hidupnya. Kakek gw meninggal 2bulan setelah Ibu lahir, bokap gw? nggak tau kemana, mati kali."
"Dik, nggak gitu ah." jawabku
"Gw nggak akan pernah ngelupain kejadian malem itu, Ibu nangis sambil meluk gw dan kakak gw ngelihat bapak pergi ninggalin kita setelah mereka bertengkar hebat karena bapak ketauan selingkuh dengan mantan pacarnya dulu. Gw udah maafin bapak, cuman gw nggak mau dia ada dihidup gw" ucapnya sedikit sesak karena menahan tangisnya
"Dik, nggakpapa buat nangis. Jendral aja akan menangis saat dia kehilangan orang yang dia cintai." ucap ku berusaha untuk membuat Dika menumpahkan tangisannya.
"Gw nggak ikhlas bapak bahagia sama hidupnya sekarang. Peduli setan sana dia!" balasnya semakin menjadi.
Aku hanya duduk, mendengarkan dia mengungkapkan perasaannya, mengungkapkan kekecewaannya terhadap Ayahnya.
"Di, gw boleh peluk lo?" tanyanya sesaat setelah dia hanya berdiam dan menangis
"boleh, Dik" jawabku sembari memeluknya
"Dik, Tuhan tau apa yang lo hadapin nggak mudah. Lo akan terus seperti ini, mendendam dan itu nggak akan baik buat lo nantinya. Cerita sama Tuhan Dik, berkali-kali sampai lo bosen dan lo memaafkan. Bawa dalam doa. Bilang kalau lo memaafkan kejadian yang menyakitkan dalam hidup lo, lo memaafkan bapak, ibu, kakak lo, sahabat-sahabat lo semuanya. Yaudah emang bisa bikin lo selesai saat itu, tapi memaafkan akan membuat lo menyelesaikan kekesalan hati lo." ucapku sembari mengusap pundaknya dan terus memeluknya.
...

"Ngelamun lagi. kerjaan lo berkhayal mulu! Tulis dong khayalan lo, siapa tau ada yang mau rugi buat baca." Ejek Dika mengagetkan ku.
"sumpah ya, mulut kalo nggak pernah dibawa kalo sekolah." balasku membalikkan badan ke arah Dika.
"hehe, cuci muka dulu sana. Cakep lo bangun tidur gitu mukanya" balas dia sembari melempar senyum manisnya
"Pantesan ya, mantan-mantan lo susah move on. Rayuan lo maut" balasku sembari berlalu dari hadapannya.

Comments

Popular Posts