Aku sebut hadiah dari Tuhan; Patah Hati

Minggu itu, langit selalu memberi tanda. Dengan awan yang berkumpul cantik lalu berpisah sendiri-sendiri. Angin banyak yang mengadu pada debu untuk mentertawai manusia yang takut tangannya kasar.
Sampai hari itu datang, berawal dari biasa yang baru terjadi. Tujuh hari seminggu menjadi lima hari seminggu, itu saja tidak 24jam. Dingin rasanya, tidak ada penghalang untuk aku menutup tubuh.
"Ada apa? banyak pekerjaan yang sedang kamu kerjakan? Boleh ceritakan harimu?" tanyaku dengan sebatang rokok dan kopi hitamnya. Dia bercerita, seperti biasa dengan banyak ludah yang ditelan dengan banyak pandangan mata yang berputar. Seakan menjaga katanya agar tidak semuanya terlontar. Itu kebiasaannya, hanya perlu diberi bumbu biar semuanya tersampaikan.
Mataku semakin menangkap gurat ragu di keningnya. Ku biarkan dia diam agar mau menyusun kata.
"kamu ingin mempertanyakan sesuatu?" tanyanya
"ada apa dengan mu akhir-akhir ini? kurasa ada yang aneh."
"tanyakan apa yg mau kamu tanyakan, aku sulit menyatakan sesuatu"
Aku sedikit menelan ludah, lalu menegakkan tubuhku menyandar pada kursi besi yang menopang tubuhku.
"ada perempuan lain?" tanyaku tanpa penghalang
"kamu yakin dengan pertanyaan mu?"
Aku hanya menatap matanya dengan tajam, menahan lepasnya jantungku saat jawabannya tidak sesuai dengan ekspektasiku.
"iya." jawabnya sambil menunduk.
"sejak kapan?" "nyaman?"
"iya, mungkin karena baru satu bulan"
Aku menatapnya, tanjam. Lama kami diam, aku menata hatiku. Tidak ada kabar apapun, tapi ternyata perhatiannya pergi dariku.
"lalu bagaima?" tanyanya
"tugasku selesai kan sampai sini?"
"aku hanya meminta sedikit waktu untuk menemuinya"
Aku tertunduk, menangisi hatiku yang hampir saja menyetujui maunya. Aku menyesalkan bahwa cintaku tak sebersih itu, aku mendendam saat dengan mudahnya dia mencampakkan.
"luangkan semua waktumu, untuknya bukan untukku"
"hanya dua kali seminggu"
"tidak. pergilah."
Dia diam, menggapai tubuhku dan memelukku. Air mataku tak bisa jatuh, menggumpal dalam mata.
"aku pergi dulu sebentar."katanya
"pergilah semaumu" kataku untuk tidak memperkeruh keadaan, ku lepaskan dia pergi malam ini. Biarkan dia menepati janjinya dengan banyak hati tanpa tau peduli dengan janji hatinya padaku. Mataku memanas, dadaku semakin sesak tapi air mataku tidak bisa turun satupun. Aku marah, aku kecewa, aku takut.
Aku hanya diam, duduk dan mengingat lagi bagaimana bahagiaku dengannya. Semua hal-hal manis itu datang dalam benakku, walaupun ternyata sekarang menjadi lebih menyakitkan.

Sejak saat itu, aku benar-benar tidak mau lagi tau tentang dia. Sejak pesannya melukai hatiku, "Maaf, ada hati yang sedang aku jaga," aku mati, tak mau lagi berdiri. Aku malu melihat semesta.
Hari-hariku ku biarkan berlalu tanpa tau harus berbuat apa. Melukis luka dengan tangis yang akhirnya berlinang setiap hari.
Berganti bulan luka ku tak kunjung sembuh, cara pandangku semakin berubah atas nama cinta. Aku tak mau berharap pada siapapun!
Semua ku jalani tanpa tujuan, asal aku bisa memenuhi hidupku. Tak ada tuntutan, tak ada kemauan. Ya seperti mati segan, hidup tak mau. Semuaku lakukan untuk menutupi patahku yang tak tau kapan akan tersampung lagi. Sesekali aku menangis di dalam kamar, tanpa ingin ditemani atau dimengerti.

....

Tahun berganti, aku sudah mulai membaik. Sudah mulai mengerti bahwa jalannya adalah patah baru hidup. Aku baru mengerti kalau harus menangis dulu baru tertawa. Seperti angin yang terkadang datang bersama hujan. Aku sudah tau bahwa akan ada guncangan hebat untuk bertambah baik. Aku mengerti, cintaku berlebihan. Aku tau peduliku keterlaluan. Aku lupa mencintai diriku sendiri.
Belum sembuh ku menata hati, wajahnya kembali ku lihat. Menatapku tajam di sudut ruangan tanpa pembatas atau atap. Kami bertemu lagi, menyelesaikan semua yang memang harus diselesaikan sejak saat itu, yang tertunda karena patah ku tak tertahan.
"bagaimana hidupmu sekarang?" tanyanya.
"jauh lebih baik dari sebelumnya. kamu?"
"bagus! aku? baik. seperti biasa"
kami melanjutkan perbincangan, hanya saling membagi kehidupan.
Namun ada sesuatu yang berbeda, entah apa yang membuatku sembuh.
"aku sudah selesai dengan perempuan itu, sekarang aku menjalin hubungan dengan perempuan yang pernah mengirimkan bekal waktu itu"
Senyumku mengembang, dia berani membuka hati dengan berkomitmen.
"oh ya?" tanyaku.
Dia melanjutkan cerita hidupnya, menendang batu yang dia anggap kerikil. Menggali lubang besar yang dia kira hanya sebuah kubangan kecil.
"maafin aku" katanya lirih. kali pertama aku mendengar permintaan maaf keluar dari mulutnya.
"aku tau, waktu itu sangat menyakitkan untukmu. aku tidak bisa membiarkan kamu terluka terlalu lama denganku" lanjutnya
"it's ok. semua sudah terjadi dan sekarang aku sudah tidak terluka." jawabku
"aku merindukan mu" jawabnya
"terimakasih" sambil ku memberikan senyum simpul
"kamu tidak merindukan ku?" tanyanya
"aku pernah mati karena mencintaimu, aku pernah kehilangan nafas karena merindukanmu. aku pernah tidak mau menatap matahari karena takut meningatmu" balasku
Dia hanya diam, cukup lama kami tidak melanjutkan pembicaraan itu.
"kamu tidak salah saat itu, aku yang tidak bisa menerima tulus hatimu" tiba-tiba dia memecah keheningan.
"kamu banyak memberi buku, terimakasih sudah menjadi tempat belajarku"


Saat itu aku tau ternyata memaafkan dia begitu mudah, karena hatiku sembuh. Bukan hadirnya yang membuatku sembuh, tapi dia bawa obatnya.
Menjawab semua pertanyaan bodohku yang selama ini tidak pernah terjawab.
Aku memaafkannya dengan ikhlas, bukan karena aku masih mencintainya. Tapi karena aku sudah memaafkan diriku sendiri untuk menerima hadiah Tuhan; Patah Hati.

Comments

Popular Posts