aku saja. pisaunya biar aku yang menjalankan.

wangi tubuhmu tak pernah terlupa.
saat wajahku berada tanpa jarak dengan dadamu.
saat tanganmu bermuara di punggungku
saat bibirmu melekat pada keningku.
saat mataku terpejam seakan tak mau detik mengganggu.

ribuan alasan datang untuk merasakan itu lagi
dari lupa sampai akhirnya rindu yang terucap
hembusan nafasmu yang sengajaku tatap
aku tak mau melewatkan kamu untuk berbicara keras dan lantang

saat matamu memandang tanpa arti yang selalu ku artikan aku ada di sepercik pikiranmu
saat senyummu terhembas, aku tak mau sedikitmu lalat membuat itu berhenti
saat pejaman matamu didepan wajaku dan menyapu pikiranku
saat belaian jarimu mengurai lembaran rambut lepekku

saat ini itu adalah banyak hal yang melintas dalam benakku
aku tak mau berpisah pada kehangatan yang aku rasakan
walaupun entah itu sengaja hangat atau biasa yang kau berikan.
aku tenggelam..
aku enggan pergi, walaupun angin menarikku jauh

aku tak bisa berada dalam hangat dan luka banyak hati
aku tak mau hati terbelah karna hal indah untukku
aku tak bisa biarkan jantungku berubah detaknya saat jauh

tapi aku mau mencoba
aku mau melukai rasaku sendiri
aku tak ingin siapapun merusak hatiku, biar aku saja yang menusukan pisau pada hati yang sedang berbunga.

nanti, saat semuanya sudah berubah biasa aja aku akan kembali menjadi anak-anak di bahumu.
cukup dibahumu, karna aku tau..
aku akan kembali lagi begitu mudah saat aroma tubuhmu melekat lagi pada benak dan merayu hatiku untuk bertekuk lutut.

Comments

Popular Posts