Cinta kedua.

Sore itu, sepulang sekolah aku membuka telphone pintarku. Ku lihat sebuah pesan dari laki-laki itu, Niko namanya. Kami memang sedang dekat beberapa waktu ini, sudah hamper 3bulan kami menjalin hubungan.
“selamat sore kesayangan. Liat keluar deh, aku udah didepan rumah” isi pesan singkatnya
Aku berlari keluar teras kamarku yang ada dilantai dua, aku liat dia sudah ada didepan dan membawa sebuah bouqet mawar merah, aku melempar senyuman manis kepadanya. Ini kebiasaannya yang selalu membuatku tersipu malu setiap harinya. Aku berlari, turun dan menghampirinya diluar. Sesampainya aku dihadapannya dia memandangku penuh hangat, aku memeluknya dan dia membalas pelukanku.
“bunganya ngga mau diambil?” katanya
“mau dong. Sini” jawabku manja
Dia menatapku dan menggenggam tanganku, sembari memberi kecupan hangat dikeningku. Aku mengajakya masuk kerumah, kami bergurau dan menghabiskan waktu berdua. Dia laki-laki yang sangat manis, pandai mengambil hatiku. Ya walaupun kami bukan sepasang kekasih yang utuh, belum ada status dalam hubungan kami. Karna aku dan dia sama sama tau bahwa dia memiliki hubungan dengan wanita lain. Kakak kelasku disekolah, satu angkatan dengan Niko. Namanya Natali, seorang gadis jutek disekolah. Banyak yang tidak menykainya, kata-katanya kasar, terlalu dekat dengan laki-laki yang nakal disekolah. Niko dan dia berpacaran sebelum aku masuk ke sekolah itu. Benar saja, aku adalah seorang siswi kelas 10 dan mereka sudah kelas 12. Aku mengenal Niko bukan karena dia kakak seniorku di SMA tetapi dia adalah teman dari mantan kekasihku dulu sewaktu aku masih duduk dibangku kelas 2 SMP. Dia memang sempat mendekatiku dulu, namun karena aku tak mengerti dengan apa yang dia maksud jadi aku hanya mengangapnya seorang kakak saja tidak lebih. Saat aku duduk di kelas 3 SMP aku dan dia benar-benar tidak berhubungan, setelah aku masuk di SMA yang sama dengannya aku dan dia mulai saling memperhatikan. Terlebih saat kami ada didalam sebuah kepanitiaan sebuah penggalangan dana disekolah. Dari situ kami mulai dekat lagi, dia memberanikan diri meminta pin ku saat selesai malam pengalangan dana. Mulai malam itu kami saling member perhatian satu sama lain dibelakang Natali. Aku menganggap semuanya adalah sebuah kedekatan biasa, tidak lebih sebelum dia mengucapkan perasaannya kepadaku. Aku masih ingat katanya
“sif, aku sayang sama kamu. Dari dulu sih sebenernya, baru belakangan ini aku berani deketin kamu lagi. Aku tau aku salah, aku udah punya pacar. Aku juga ngga bisa bohong aku sayang sama pacarku. Tapi kamu tau kan sikapnya? Beda banget sama kamu. Aku ngga minta kamu bales perasaanku, yang jelas biarin aku bahagiain kamu ya?”
Awalnya aku tak memperdulikannya, malahan aku berusaha menjauhinya. Aku tak mau menjadi pengganggu hubungan orang. Tapi setiap aku mencoba menghindarinya, aku malah semakin tersiksa. Aku mulai terbiasa dengan kehadirannya. Ya akhirnya aku putuskan untuk menjalin hubungan kotor ini dengannya. Dia juga membiarkan aku untuk dekat dengan laki-laki lain, katanya dia juga mau aku merasakan kebahagiaan yang utuh bukan hanya menjadi wanita kedua di hidupnya, namun bagiku menjadi bagian kecil dihidupnya sudah sangat membahagiakan. Aku tetap menunggunya memberikan sebuah keputusan. Aku atau dia!
Sesekali dia membalas pesan dari kekasihnya yang sebenarnya, ya hatiku memang agak kesal tapi ini memang nasib menjadi wanita kedua. Bodoh mungkin aku membiarkan ini semua berjalan seperti ini, tapi aku cinta. Aku menyayanginya, sikapnya membuatku semakin tak dapat mengontrol rasaku untukknya. Dia begitu manis!
Hari berlalu, kami tetap menjalani hubungan ini dengan baik-baik saja. Walaupun sering aku menangis dipeluknya saat melihat dia bermesraan  dengan Natali di sekolah atau di jejaring social. Rasanya ingin sekali aku menjadi sosok Natali yang mendapatkan hal indah dari Niko. Tapi apa daya, aku hanyalah orang ketiga. Bukan menjadi peran utama didalam kisah ini.
                                                                                                    ***             
Kami menjalani hubungan ini sudah tepat 1 tahun. Dia dan Natali sudah menjadi seorang mahasiswa di perguruan tingi yang berbeda. Dan sangat bersyukur aku, Natali berkuliah di Surabaya. Berbeda kota danganku dan Niko. Satu bulan sekali dia datang dari Surabaya untuk menemui Niko. Aku tak tau, kenapa sampai saat ini Niko tak memutuskan hubungannya dengan Natali. Padahal sering kali aku tau mereka berdebat dan bertengkar hebat. Aku tak berani menyinggungnya, aku takut malah Niko akan menjauhi ku.
Hari itu, adalah jadwal Natali pulang ke Jakarta untuk menemui Niko. Ya aku harus memberikan waktu untuk kekasih dari pujaanku bersamanya seharian full tanpa ada kesempatan untuk Niko memberi kabar untukku. Entah kebodohan apa yang terjadi, tiba-tiba Natali dan Niko menyambangi rumahku. Aku menemui mereka dengan perasaan takut. Tiba-tiba Natali menampar mukaku dengan keras!
Sangat keras, sakit rasanya. Hingga bibirku sedikit berdarah, Niko hanya diam. Diam ketakutan, dia tak berbuat apa-apa. Aku menangis, aku ketakutan. Natali menghujatku dengan kata-kata kotor, lalu kembali menamparku. Aku hanya diam, aku tak dapat membalas apapun yang keluar dari mulutnya. Aku berharap Niko akan membuat sebuah keputusan dari penantian panjangku. Benar, dia membuat sebuah keputusan
“maafin aku sif, aku pilih Natali. Maafin aku ya” ucapnya tanpa merasa bersalah!
Tau bagaimana rasanya? Rasanya lebih sakit dari tamparan hebat di kedua pipiku yang diberikan oleh Natali. Aku menangis dan masuk kedalam rumah.
2minngu aku terpuruk hebat! Aku tak keluar dari kamar, jangankan untuk makan. Untuk bersekolahpun aku tak mau! Berkali-kali Niko menghubungiku dan menyambangi rumahku seteah kejadian itu. Aku tetap tak mau menemuinya. Aku terlalu membencinya. Cinta kami yang ku anggap akan berakhir bahagia ternyata tidak! Dia melukaiku! Benar-benar melukaiku. Selama ini aku hanyalah menjadi sebuah fantasi pikiran bodohnya. Hubungan romantic yang selalu dia dambakan bersama Natali yang tak pernah bisa dia lakukan karena Natali bukan sosok wanita yang suka dengan hal romantic!
Aku memberanikan diri untuk menatap lagi matahari, walaupun sikap ceria ku berubah menjadi dingin! Dengan siapapun! Aku menjadi tak bersahabat dengan orang-orang disekelilingku. Aku jalani hidupku yang sangat menderita 1 tahun lebih, hingga aku duduk di kelas tiga SMA.
Aku mengikuti les tambahan di luar sekolah, disana aku bertemu dengan banyak sekali teman baru. Banyak laki-laki yang mendekatiku, dengan hal yang konyol hingga romantic sekalipun. Tapi aku tak menggubris mereka, aku tak mau dilukai lagi.
Hingga ku berkenalan dengan Natan, dia juga les ditempat yang sama denganku. Tapi kami berbeda kelas, kebetulan dia jurusan IPS dan aku IPA. Hari itu supir yang biasa menjemputku tak kunjung datang, katanya mobil mendadak mogok dan aku harus menunggu lama. Banyak teman-temanku yang menawarkan untuk mengantarkan ku pulang. Aku menolaknya, aku tak mau membuka kesempatan untuk mereka mendekatiku aku hanya ingin mereka menganggapku sebagai teman saja. Bukan yang berlebihan.
Saat aku menunggu di kantin tempatku les, Natan menghampiriku. Dia duduk disebelahku, aku hanya menoleh dan setelah itu berusaha pergi dari tempat itu. Namun tangannya menarikku
“duduk aja. Gue ngga akan nyulik lo kok. Tenang” ucapnya datar
“apaan sih!” jawabku
“udah ngga usah banyak bawel! Lo sendirian kan? Gue temenin! Lagian udah jam 9 malem juga, kantin horror kata anak-anak. Lo ngga takut sendirian?” balasnya
“masak sih?” jawabku mulai ketakutan dan kembali duduk di kursi yang tadi ku duduki.
“haha, cantik-cantik penakut ya lo?” tawanya mengesalkan
“lo bohongin gue ya?” jawabku jengkel
“haha, engga kok. Belum pulang kenapa?” tanyanya
“belom dijemput” jawabku.
Ya mulai malam itu dia membuatku sedikit tertawa, singkatnya kami dekat. Dia mengantarkan ku pulang malam itu. Hidupku kembali berwarna dengan kehadirannya. Pesan singkat yang dia kirimkan untukku
“morning bawel! sekolah gue jemput anter ya? Jam 6 gue sampek rumah lo! Ngga ada penolakan pokoknya”
“morning galak! Ih maksa banget sih. Haha, yaudah gue tunggu ya?! Telat gue tinggal :D “ balasku
Beberapa kali dia mengantar dan menjemputku, kami semakin dekat. Walaupun jarang bertemu, sekalipun ditempat les. Namun setiap hari kami saling berkirim pesan, hingga dijejarin social.
“ night bawel ! @syifaanada “
Banyak yang mengira kami menjalin hubungan, jujur aku mulai menyukainya. Kehadirannya bagaikan oksigen baru dalam hidupku. Dia mungkin erbeda dengan Niko, yang selalu datang dengan bunga mawar atau kata-kata puitisnya. Dia datang dengan senyuman manisnya, dan sikap sopannya yang tak menyentuhku dengan berlebihan. Seingatku baru 3kali dia menggandeng tanganku sejak 6bulan perkenalan kami.
Malam itu, aku sedang menghabiskan waktu bersamanya. Liburan setelah Ujian Nasional sangat panjang, dia mengajakku untuk berlibur di Bali, dan kami akhirnya berangkat berdua kesana. Malam yang panjang, ditepi pantai kami memandangi langit, bintang bertaburan seakan mengerti apa yang kurasakan mala mini.
“kita ada di satu tempat yang sama, dibawah langit yang sama dan sama-sama memandangi bintang. Tapi, apa kita sedang memandang bintang yang sama dari sekian ribu bintang yang ada di atas kita?” tanyanya.
“aku suka bintang itu” jawabku sembari menunjuk sebuah bintang tepat dihadapanku.
Dia meraih telunjukku dan menatapku.
“kenapa?” sahutku
“kita menyukai bintang yang sama” jawabnya
Aku hanya diam. Aku tak mengerti akan perubahan sikapnya. Biasanya dia sangat menyukai candaan, tiba-tiba saja dia berubah menjadi sangat serius.
“apa kita punya rasa yang sama pula?” tanyanya.
“Natan, aku ngga faham” jawabku meyakinkan hatiku bahwa ini adalah sebuah lelucon
“aku sayang sama kamu” ucapnya.
Mataku mulai memanas, tetesan air mataku mulai berjatuhan. Aku ingat saat itu, saat Niko menyatakan perasaannya kepadaku. Aku semakin larut! Aku takut Natan akan menyakitiku seperti Niko, aku rak siap untuk terluka.
“kamu kenapa?” tanyanya sembari memelukku.
Aku hanya diam, diapun juga. Tak banyak ucapan yang keluar dari mulutnya, dia hanya mendekapku dan membelai rambutku. Sesekali dia mencium rambutku yang terurai. Pelukannya damai, dekapnya hangat! Belaiannya penuh cinta, kecupannya tulus. Aku tak ingin pergi dari pelukan ini, selamanya! Belum pernah aku rasakan semua ini, perlakuannya yang indah! Tuhan, apakah aku salah jatuh cinta lagi? Natankah yang kamu kirimkan untukku? Akankah dia melukaiku lagi?
“aku takut…………” ucapku sesak
“Cerita lama terulang lagi?” tanyanya
Aku mengangguk, sembari menghapuskan air mataku.
“aku memang tak bisa menjanjikan kamu bakal bahagia terus tanpa menangis menjalani hubungan denganku. Tapi semoga, aku tak akan membuatmu menjadi wanita yang menyesal bersamaku” jawabnya sembari membantuku menghapuskan air mataku.
“kamu janji?” tanyaku
“aku tak mau banyak janji. Aku takut aku melukaimu dengan janjiku, tapi aku berusaha.” Jawabnya
Aku langsung mendekapnya! Erat sangat erat!
“aku juga sayang sama kamu Natan.” Jawabku.
Saat itulah aku mulai temukan bintang baru ku Natan, seorang anak yang sangat humoris. Tingkah lakunya yang konyol membatuku bangkit! Aku hanya bisa berharap, aka nada sebuah cahaya terang yang mengawalku dengannya. Bersama angin yang sejukkan langkahku dan dia. Tuhan akan selalu memberikan jalan yang indah untuk setiap insannya. Ya, aku percaya itu.

Comments

Popular Posts