Kian (2)

Waktu begitu cepat berjalan, terapiku sudah menemukan titik terang. Perlahan kakiku mulai bisa digerakan, kemajuan yang pesat kata dokter yang telah memfonisku untuk lumpuh total. Katanya karena semangat dan rasa bahagia yang aku rasakan, ya kurang lebih 6bulan aku menjalani terapi dia tetap disampingku bahkan lebih dari yang biasa dia berikan. Dia lebih menjagaku, memperhatikanku, dan lebih menyayangiku. Ya, aku merasakan itu!
"aku merasa bodoh untuk melukaimu" ucapku saat dia memotongkan apel untukku
"kamu memang bodoh dari dulu"jawabnya datar
"maksudnya?"
Dia hanya terdiam dan menyuapi potongan apel yang telah dia kupaskan untukku.
"kamu tau aku mencintaimu?" tanyaku
"aku ragu"
"kenapa?"
"kamu sudah berselingkuh, itu cinta?"
"ya aku tau aku salah. apa tidak bisa untuk berubah? setidaknya aku tidak mengulangi kesalahan itu lagi"
"hanya belum. ingat jangan ke GR an. aku akan pergi setelah kamu sembuh."
"tega?" jawabku sembari mulai merasa ini akan sunggu-sungguh terjadi
"harus."
"kalau begitu aku akan kembali lumpuh dan tak meneruskan terapi"
"kamu ingin melihatku lekas pergi? itu urusanmu, yang jelas aku akan pergi kalau kamu berhenti terapi"
"serba salah berbicara denganmu" ucapku kesal
Dia hanya tersenyum dan bersimpu dihadapanku
"putri kursi roda, sekalipun aku pergi. aku akan membawa semua cintaku untukmu, karena aku mencintaimu lebih dari apa yang kamu tau. tapi cinta tidak cukup, aku butuh memupuk rasa percayaku lagi untukmu" jelasnya dan dia mulai mencium keningku. selalu! selalu itu yang dia lakukan untuk menenangkanku.

Sebulan berlalu terapiku berjalan lancar dan aku kembali berjalan. Pertama kali aku dapat berjalan, yang aku lakukan adalah memeluknya! Ya, memeluknya dan menangis.
"aku sembuh. aku tidak tau harus bahagia atau bersedih." ucapku yang mendekap erat tubuhnya.
"harusnya kau bahagia, kau dapat berjalan sekarang. Kau dapat berjalan sendiri tanpa bantuan ku untuk menuntunmu ataupun mendorong kursi rodamu" jawabnya dengan suara yang bergetar.
"jadi kamu merasa keberatan menuntunku ataupun mendorong kursi rodaku?" ucapku sembari melepas pelukanku dan perlahan berjalan menuju tempat duduk yang tak jauh dari hadapanku.
"kau selalu berfikiran seperti itu!" jawabnya dengan kesal
"bukankah itu yang sebenarnya terjadi?"
"terserah kau saja. aku akan ke Sydney lusa" balasnya
"kau benar-benar akan pergi? kau tak mau pergi dulu bersamaku untuk beberapa waktu sebelum kau pergi? aku sudah bisa berjalan" tanyaku sesak
"aku tak mau lebih berat meninggalkanmu" jawabnya sembari duduk dihadapanku
"kau jahat. kalau begitu kenapa tidak berangkat sekarang saja?" bentakk sembari menahan air mataku.
"kau ingin aku pergi sekarang?" tanyanya
Aku hanya terdiam, air mataku mulai menetes. Aku merasa ada balon gas yang mengembang bebas dan leluasa di dadaku. Sesak!
"kamu akan sering mengirimkan email untukku?" tanyaku dalam tangisanku
"tidak.aku tidak akan menghubungimu.kecuali nanti kalau aku berubah pikiran untuk kembali bersamamu. tapi aku juga tidak yakin kau akan menungguku" jelasnya
"terserah kau saja. aku lelah berdebat denganmu. mau tidak mau akan melewati resiko yang satu ini." ucapku sembari semakin larut dalam tangisanku yang membuatku bertambah sesak!
Dia terdiam lalu memelukku, aku menolak untuk dipeluk. aku membencinya yang selalu membuatku gelisah!
"biarkan aku memelukmu sebelum aku pergi. aku takut kalau aku akan merindukan pelukan hangat mu untukku.Aku mencintaimu Kian! ketahuilah. aku hanya ingin kau dewasa. Aku ingin yang terbaik untukmu. Aku sudah pernah bilang kalau aku akan kembali lagi untukmu!" jelasnya
"jangan tinggalkan aku. tetaplah disini! aku tak mau hidup sendiri tanpa kamu" pintaku
"aku ingin disampingmu. namun kamu sendiri yang membuatku pergi"
"beri kesempatan"
"aku akan beri kesempatan suatu saat nanti.aku berjanji padamu" jawabnya

***

7tahun berlalu setelah kepergiannya, dan belum pernah aku tau tentang keberadannya. Yang ku tau dari sepupunya, sekarang dia sudah bekerja disebuah perusahaan di Sedney. Namun sepupu Andri tidak mau memberi tahu lebih jelasnya.Ya, aku tahu mungkin ini permintaan Andri dan aku tahu Andri akan marah besar kalau Siska membocorkan semuanya.
Sekarang aku telah bekerja disebuah Sekolah Dasar berbasis Internasional dikotaku, karena orang tua ku sedikit memiliki saham di yayasan itu aku dengan mudahnya menjadi bagian dari sekolah itu. Ya, aku tahu kemampuanku tak secemerlang dulu sebelum kecelakaan itu terjadi. Banyak temanku membujukku untuk membuka diri dan selalu berkata "belum tentu dia setia disana" namun aku bersikeras. Dia telah berjanji untuk kembali untukku, aku percaya dia takkan pernah berbohong dan mengkhianati ku.
Malam ini aku dan teman-teman semasa SMA telah berjanji untuk bertemu disebuah caffe. Ya boleh dibilang reunian kecil-kecilan.
"bagaimana dengan Andri? sudah ada kabar?" tanya salah satu sahabatku
Aku hanya menggeleng dan meminum minuman yang ada didepanku.
"aku dengar dia..."
"Kian itu Andri" ucap Vika
Aku menoleh dan benar itu Andri, dia nampak berbeda. jauh berbeda dari yang dulu. Sekarang dia berpakaian rapi, dia jauh lebih berseih dan benar dia tampak tampan! Aku bahagia melihatnya, aku bangkit dari tempat dudukku dan menuju arahnya namun tangan Vika menahanku
"tunggu" ucapnya
"kenapa" jawabku tersentak
Mereka hanya terdiam dan melihat arah Andri. Ternyata andri bersama seorang wanita. Kakiku mendadak lemah, jantungku terasa berhenti berdetah dan mataku mulai pedih. Aku merasakan tertimpa sebuah tembok besar. Aku kembali duduk dan memperhatikan mereka dari kejauhan, aku melihatnya bergurau mesra bersama wanita itu. Dia takkan mungkin melakukan belaian dirambut seorang wanita tanpa ada hubungan khusus. Ya, aku mengenalnya lebih dari 10tahun. Semua sahabatku menenangkanku, aku tak mampu menahan air mataku yang terus berlinangan. Aku merasa menjadi wanita paling tersiksa didunia, apakah mungkin seperti ini rasanya jika akan mati? Mungkin Andri bisa begitu mudah melupakan janjinya untukku?
"ayo pulang" pintaku kepada semua teman-temanku
Akhirnya aku dan mereka pulang, mau tak mau kami harus melewati Andri dan kekasih barunya. Dan ternyata Andri mengenaliku, ya dia memanggil namaku "kian?"  Aku berusaha menahan mukaku untuk menoleh, aku tak mau menatapnya namun hatiku menyuruh otakku untuk menoleh dihadapan dia.
"ya?" jawabku berusaha menutupi semua perasaanku
"Masih ingat aku?" tanyanya semabri berdiri dan mengulurkan tangannya.
Aku terdiam, dan berpura-pura untuk berfikir. Aku tahu suasana malam itu sangat menyebalkan, aku juga tau teman-temanku takut aku akan mati ditempat. Namun aku berusaha mengendalikan diri dan memilih berpura-pura lupa
"maaf anda siapa?" tanyaku
Aku lihat raut mukanya berubah, aku tau dia merasa kecewa dengan ucapanku
"Andri"jawabnya singkat
Mungkin teman-temanku tau aku kehabisan akal untuk memutus obrolan yag sudah dia awali dengan menyapaku. Mereka mengoceh dengan segala macam kata-kata yang entah aku tahu apa yang mereka katakan, aku masih merasa sangat bodoh bisa berdiri dihadapan Andri.
"sayang?" panggil wanita itu yang merasa tidak kami perdulikan
"oiya ini Sinta, dia..." ucap Andri terputus
"kami sudah bertunangan 6bulan lalau di Sedney. Hay, Sinta" ucapnya sembari tersenyum lebar tanpa memperdulikan sekitar yang agak tidak nyaman dengan ucapannya
Ya singkatnya kami berkenalan, aku menjabat tangannya dengan hangat walaupun hatiku dingin! sangat dingin

2minggu setelah kejadian itu berlalu aku mendapatkan bouqet bunga mawar setiap harinya. Banyak kata-kata cinta yang tertulis tanpa ada nama pengirimnya. Tak ku pedulikan sama sekali tentang bunga-bunga itu, yang aku lakukan hanya menangis setelah pulang bekerja hingga malam tiba dan aku tertidur. Hari itu, aku pulang dari sekolah dan aku beristirahat didepan televisi untuk bersantai, aku ingin mencoba menghibur diri. Dan seperti biasa tepat pukul 15.00 bel berbunyi. Ku langkahkan kakiku menuju pintu depan, pasti ini pengantar bunga yang biasanya datang. Namun ternyata bukan, ini beda.
"permisi dengan Nona Kian?" tanyanya
"iya maaf ada apa ya?"
"saya hanya ingin mengantarkan paket ini." ucapnya sembari memberikan aku sebuah kotak
"terima kasih" jawabku sembari menerima dan menandatangani bukti pengantaran.
Hatiku bertanya, siapa yang memverikan hadia ini. Ku kembali didepan telefisi dan duduk. Berusaha sabar dan tenang untuk membuka kiriman itu. Ku buka perlahan dan ternyata adalah satu set perhiasan emas putih. Gila orang ini, dia mengantarkan barang semahal ini hayan dengan pengiriman kilat? Bagaimana kalau tidak sampai ditangannku. Ku membalik kotak itu dan ku temukan sebuah undangan.
Undangan apa ini? Ku buka undangan itu, hatiku berdegub kencang. Aku berharap bukan dari Andri!
Namun ternyata, ini memang dari Andri. didalamnya hanya terdapat nama Andri dan keluarganya tanpa ada nama pasangannya. Aku tak mengerti, separu hati aku merasa lega, Andri tidak akan menikahi wanita itu untuk waktu dekat ini setidaknya. Ku lihat sepucuk kertas, terlalu kuno menurutku untuk menulis surat. Dia bisa kan mengirin email atau semacamnya untnkku?
Dear, kian
Selamat sore. Lama tidak berjumpa
Aku sangat yakin, kamu tidak semudah itu melupakan aku
 dan kejadian di caffe itu hanya sandiwara saja. benarkan?
Ini oleh-olehku untukmu, seharusnya sekotak cincin pertunangan namun...
Aku tidak tau harus memulai darimana, yang jelas aku ingin meminta maaf kepadamu
Aku berjanji untuk kembali padamu dulu, namun aku mlah datang bersama wanita laim.
Aku tau kau sangat terluka saat dia mengatakan kami telah bertunangan.
Tapi itu semua salah, dia hanya seorang wanita yang sedang dekat denganku.
Aku tak akan munafik, dia kekasihku. Namun aku tak ada sedikitpun niat menikahinya
Aku kirimkan undangan ini untukmu, bagus bukan?
Aku tau kita memiliki selera yang sama dalam hal seperti ini.
Dan aku yakin kamu pasti suka!
Kian, aku ingin meminta suatu hal.
Maukah nama kamu menjadi pengisi dalam kolom pengantin wanita diundangan itu?
Aku mencintaimu dan percaya, aku telah memutuskan hubunganku dengan dia.
Mau kah kau menikah denganku?
coba kau keluar rumah setelah membaca surat ini. Aku menunggumu!


Lagi-lagi aku tak kuasa menahan air mataku, aku tak tau harus berbuat apa. Dan entah apa yang harus menjawab apa.
Aku berlari membuka pintu rumahku, ya benar dia sudah berasama keluarganya dan keluargaku. Semua sahabat-sahabatku tanpa ada satupun yang absen. Mataku terbelalak saat melihat taman rumahku dipenuhi dengan tabuan mawar merah penih membuat jantung hati. Aku yakin ini hanyta mimpi, ku cubit lenganku dan "aww" sakit sekai!
"kautidak sedang bermimpi kian!" ucapnya sembari tersenyum kecil
"permainan apa yang telah kau lakukan?" jawabku 
"kau pergi begitu lama meninggalkanku, kau datang bersama wanita lain dan sekarang kau melamarku" sambungku
"aku menepati janjiku"
"tapi kau membuatku ragu!" ucapku sinis
"ragu? ragu itu menunggu 7 tahun tanpa memiliki kekasih dan berharap dipersunting oleh pangeran yang ada di sedney?" ucapnya mnegejekku
Sontak tawa semua orang yang ada disana memecah kesunyian
"jangan ke GR an! aku hanya ingin tau betapa kamu bisa menepati janjimu" balasku
"aku menepatinya dan aku melamarmu. jika kamu tak mau, aku akan segera melamar wanita yang kemarin" jawabnya menggoda
"siapa yang bilang aku menolakmu?" jawabku
"berarti?" 
Aku berlari, aku meraihnya dan memeluknya! Kehangatan cintanya yang aku rasakan hilang selama 7tahun perpisahan kami.
"dia pernah memelukmu seerat ini?" tanyaku
"mungkin" ucapnya tak peduli
"Aku mencintaimu"
"aku juga sangat mencintaimu Kian"
"maafkan aku jika..."
"sssst! tak ada yang perlu meminta maaf, kita awali semua mulai dari awal. Aku akan menjadi suamimu dan kamu akn menjadi istriku! Berjanjilah untuk setia dan tetap bersamaku?" ucapnya sembari menatap mataku
" aku akan hidup dalam cinta dan kasih sayangmu Andri. Aku berjanji akn menjadi milikmu seutuhnya." balasku
ciuman hangat mendarat dibibirku darinya. Ya akhirnya kami bersama, walaupun banyak rintangan yang membuat kami harus bersabar dan berusaha memupuk rasa cinta kami. Namun toh pada akhirnya Tuhan mempersatukan kami dalam janji suci pernikahan yang kami berdua idamkan, semua sangat indah dan Tuhan tau apa yang aku butuhkan, AKu membutuhkan cintanya, kesabaran dan kesetiaannya. 
Terima kasih Tuhan kau kembalikan dia dan menuntunnya memintaku menjadi istrinya...

Comments

Popular Posts