Cita Dua Budaya
Ku
kayuh sepeda kumbang pemberian bapak saat aku lulus dari sekolah menengah atas
dengan peringkat terbaik di desaku. Betapa bangganya bapak saat melihatku
diatas panggung besar disekolah SMA terbaik didesa ku, ya karena hanya ada 2
SMA di desaku. Dengan sekuat tenaga aku mengayuh menyusurin jalan setapak
pinggir sawah dengan dua keranjang penuh sayur dan bumbu masak. Sore ini akan ada
pesta dirumah, pesta menyambut kedatangan Mas Kirman yang pulang dari
pendidikannya di kota. Dia sekarang menjadi seorang Dokter. Menyenangkan
rasanya setelah dia pergi sekian lama dan hanya pulang satu bulan sekali untuk
menengok keluarganya dan aku. Mas Kirman adalah anak dari kepala Dusun, dan tetanggaku
hanya berjarak kebun singkong milik bapak.
Mas
Kirman adalah laki-laki pilihan bapak untuk menjadi pasangan hidupku. Bapak
pernah bilang kalau Mas Kirman lah masa depan terbaik untukku. Ya siapa yang
tidak tertarik dengan Mas Kirman, seorang dokter putra dari Pak Dusun,
laki-laki tampan dan sopan dengan semua orang. Laki-laki idaman semua gadis
didesaku, ya sebuah keberuntungan aku bisa dipinangnya sebulan yang lalu.
“Mas Kirman pulang nanti sore jam
berapa bu?” tanyaku saat menurunkan belanjaan yang ku bawa disepeda kumbangku.
“bapak bilang jam 4 nduk. Sudah
tidak sabar bertemu mas Kirman?” canda ibuku
“ah mboten bu, hanya bertanya”
jawabku
“sekarang mandi dan berdandanlah
yang cantik, beri yang terbaik untuk calon suamimu” ucap ibuku sembari tersenyum
manis.
Calon suami? Apakah benar ini calon
suamiku?
Aneh, seorang wanita desa lulusan
SMA akan bersuamikan seorang dokter ? aku sedikit ragu akan ini semua ya
walaupun sudah ku setujui untuk menjadi istrinya setelah dia selesai sekolah.
***
Rumah sudah mulai ramai, aku tak
tau siapa aja yang datang dan memenuhi rumah mungil bertembokan gedheg anyaman bamboo belakang ruah yang
baru 3hari lalu diganti bapak untuk menyambut kedatangan Mas Kirman. Hatiku
berdegub kencang, kata bapak hari ini akan menjadi hari yang tidak dapat aku
lupakan selama 22tahun ini. Memang masih terlalu muda untuk aku menikah. Namun
apa lagi yang akan aku kerjakan kalau bukan menjadi seorang istri? Aku akan
merawat suami dan rumahku yang akan memberikanku pekerjaan kata ibuku. Walaupun
sebenarnya aku ingin bekerja menjadi seorang kasir disebuah toko di kota,
mungkin saja dari situ aku bisa menjadi seorang pengusaha suatu saat nanti. Namun bapak dan ibu tak pernah
memberikan izin untuk ku.
“Lastri, Mas Kirman sudah datang” panggil
ibuku yang menggangguku termenung di atas kasur.
“inggeh bu sekedap” sahutku
Jantungku semakin berdegub kencang
aku terlihat gugup terlebih saat aku keluar dari kamar dan perlahan mendekati
sumber keramaian diruang depan. Semakin aku mendekat semakin terasa jantungku
tak dapat ku kendalikan. Saat aku memasuki ruang depan dan melihat Mas Kirman
terlihat begitu gagah dengan pakaian mewahnya, kemeja lengan panjang yang dia
gulung lengannya dan memakai celana kain dengan sepatu orang kantoran. Wajahnya
terlihat bersih lebih putih dan tentu saja bertambah tampan. Aku hanya member
senyuman kecil dan menunduk. Aku tak tau apa yang harus aku lakukan.
“wah begitu cantiknya pak calon
mantu kita” ucap Bu Ratmi, ibu Mas Karmin
“itu lho le calon istri mu, beruntung kamu mendapatkan kembang desa secantik
ini” tambahnya lagi
Mas Kirman hanya tersenyum kecil
dan melihatku begitu hangat.
Hari ini berjallan seperti apa yang
sudah ada dibenakku, tepat. Mas Kirman dan keluarga besarnya datang untuk
memberikan cincin. Kata orang kota ini namanya pertunangan, tapi menurutku ini
hanya sebuah pertanda bahwa Mas Kirman akan menikahiku waktu dekat ini. Menang
niatnya seperti itu, namun kata Pak Dirman neton kami tidak baik untuk menikah
dalam waktu dekat ini, katanya tepat 1 tahun lagi adalah waktu yang baik. Kami
menyetujui saja, karena intinya kami tidak mau terjadi apa-apa dalam pernikahan
kami nanti
Mulai saat itu Mas Kirman sering
datang kerumah dan sekedar mengajakku makan bakso di dekat kantor kelurahan,
sebenarya aku malu dengan tetangga kalau aku sering terlihat jalan bersamanya.
Ya walaupun dia adalah calon suamiku tetapikan masih calon. Aku tidak mau
mendengar omongan tidak enak dari orang desaku tentang kami, terlebih banyak
hati para gadis yang tersakiti akibat Mas Kirman meminangku.
Lima bulan berjalan dengan biasa,
aku mulai terbiasa akan sikap Mas Kirman yang selalu datang kerumah dan
mengajakku pergi walaupun aku masih tidak begitu suka. Hubungan kami mulai
menemukan hal yang cocok, banyak hal yang bisa kami bicarakan. Mas Kirman juga
baik, dia sangat sopan kepadaku. Dia lebih banyak mendengarkan aku dari pada
bercerita, sikapnya jauh lebih dewasa. Ya mungkin karena dia terpaut denganku
5tahun labih tua.
Namun semuanya berubah ketika
kedatangan Bang Boris, seorang mahasiswa bersuku Batak didesaku. Dia sedang
melakukan KKN katanya, aku mengenalnya dari Mas Kirman karena dia tinggal
dirumah Mas Kirman. Orang yang sangat menyenangkan, ramah dan sangat humoris.
Perkenalan kami yang sudah berjalan 2 bulan ternyata membuat kedekatan kami
semakin jauh, ya aku mulai menyimpan rasa oleh orang batak satu ini. Dia jauh
lebih menyenangkan dibanding Mas Kirman, namun aku tau aku salah. Aku menyimpan
rasa untuk orang lain, aku mengkhianati calon suamiku yang sebentar lagi akan
resmi menjadi suamiku. Dayung bersambut, Bang Boris ternyata juga menyimpan
rasa untukku.
“aku suka kepadamu dek Lastri”
ucapnya mengagetkanku
Aku hanya terdiam dan menunduk, aku
tak mengerti apa yang terjadi. Kenapa aku bisa menjadi sejahat ini. Aku tak
dapat membohongi perasaan ku namun aku juga tak dapat menyakiti hati bapak, ibu
dan Mas Karmin. Terlebih persiapan pernikahanku sudah mendekati sempurna.
“abang tau dek Lastri pasti akn
menolak abang dan tetap menikah dengan Dokter Kirman” ucapnya menambahi.
“maafkan Lastri bang, Lastri akan
menjadi istri Mas Kirman kurang dari enam bulan lagi.” Balasku
Dia hanya menghela nafas, nafas
kekecewaan yang aku tau hatinya pasti sakit. Aku tau, amat sangat tau rasanya
karna aku juga merasakan hal yang sama.
“kalau aku melamarmu?” ucapnya
“Bang Boris, jangan memperburuk
keadaan. Bapak dan Ibu akan marah besar dan Mas Kirman juga akan memusuhi Bang
Boris”
“apakah aku perduli?” balasnya
“aku akan datang besok malam dan
melamarmu, sebelum kau menikah kau masih berhak menentukan siapa calon
pasanganmu” balasnya
“jangan nekat, aku tidak menyetujui
permintaanmu. Aku tak ka bisa membuat orang tuaku terluka” jawabku tegas dan
meninggalkannya.
Aku terdiam dan terus memikirkan
apa yang Bang Boris ucapkan, aku tau kalau aku tak merespon dia dari dulu ini
tak akan menjadi boomerang. Aku akan tetap menyimpan rasaku ini dan tetap
menikah dengan Mas Kirman terlebih aku tak membuat orang tua ku terluka.
Aku menagis dalam derasnya hujan mala
mini, hanya mengunci diri di kamar dan terus menyesali semua ini. Aku tau aku
begitu bodoh, pernukahanku sudah ada didepan mata, namun aku malah membuyarkan
semuanya. Walaupun aku tak berniat untuk memiliki Bang Boris. Aku tak bisa
menyimpan ini dari Mas Kirman, mau tak mau aku akan jujur sebelum Bang Boris
mengatakannya ini.
Paginya aku menemui Mas Kirman,
kebetualan Mas Kirman memintaku untuk menemaninya ke kota untuk membeli
keperluannya. Dijalan aku hanya diam dan mencoba menata apa yang harus aku katakan
nanti. Aku takut akan melukainya, sesampainya disebuah toko besar aku
menemaninya membeli perlengkapan yang dia maksud. Setelah itu aku diajaknya
makan ditempat yang mewah untukku, seperti biasa kami berbincang entah apa yang
kami bicarakan namun tidak ada habisnya semua obrolanku dengannya.
“mas, Lastri ingin mengatakan
sesuatu” ucapku tampak ketakutan
“apa dik??” jawabnya
“Maafkan Lasrti mas, Lastri tau
Lastri salah.” Ucapku ragu
“ada apa dengan kamu dik?”
“Bang Boris akan melamar Lastri
nanti malam” ucapku dengan irama jantungku yang berdegub kencang
“lalu?” tanyanya
“Mas Kirman tidak marah?” tanyaku
“tidak.” Balasnya santai dan
tersenyum
“Boris sudah membicarakan ini
denganku, dia telah meminta izin untuk meminangmu aku tak dapat melarang. Ini
haknya untuk mengutarakan niat baiknya. Semua ada di kamu Lasrti, jika kamu
mencintainya Mas akan ikhlas melepaskanmu walaupun Mas akan terluka.” Terusnya
“begitu mas? Tidak Lastri akan
tetap menikah dengan Mas Kirman” jawabku singkat, aku sangat takut menyakiti
Mas Kirman yang telah mencintaiku sepenuh hatinya, dia rela melepaskan ku
bahagia dengan orang lain walaupun dia terluka.
“dik, kamu mencintai Boris?” tanyanya.
Pertanyaan yang selalu aku
takutkan, aku begitu terluka akan pertanyaannya
“jujur saja dik, aku tak akan
marah, aku akan menghormati perasaanmu” ucapnya
“Lasrti mengaguminya Mas. Maafkan
Lastri, namun Lastri tak ada keinginan untuk menjadi istrinya.” Ucapku
memberanikan diri
Mas Kirman hanya tersenyum dan
menenggak the hangat yang dia pesan.
“Mas marah?” tanyaku
“tidak, selama ini Mas tak pernah
tau akan perasaanmu dik. Mas juga tidak tau Lastri mencintai Mas atau hanya
menjaga perasaan bapak dan ibu.” Ucapnya
Aku menunduk, aku tak tau harus
menjawab apa. Aku merasa dia adalah masa depanku dan akupun mencintai Boris.
“emm.. Lastri..” ucapku gugup
“Lastri tidak mencintai Mas
Kirman?”
“Bukan begitu Mas, jujur saja. Mas
Kirman adalak laki-laki baik dan menjadi idaman semua wanita. Mas Kirman adalah
sosok suami yang baik. Lastri menyadari itu Mas.” Jawabku
“idaman semua wanita terkecuali
Lastri? Mas juga merasa Lastri adalah sosok istri yang mas mau. Lasti wanita
baik dan tidak macam-macam” ucapnya membuatku semakin merasa bersalah
“Lastri mencintai Mas Kirman?”
tanyanya
“iya Mas” jawabku dengan berani.
Entah apa yang aku ucapkan ini benar atau salah, yang jelas aku merasakan
nyaman saat berada disebelahnya.
“kalau begitu, menikahlah dengan
Boris” ucapnya dengan suara bergetar
“maksud Mas Kirman?” tanyaku
“Lastri, menikhalah dengan orang
yang kau cinta dan mencintaimu. Kamu mencintai Boris! Mas Kirman tau akan hal
ini, benar-benar tau. Walaupun cinta yang Mas berikan lebih besar dari Boris.”
Terangnya
“tidak mas. Bapak dan ibu tak
mungkin setuju”
“Mas Kirman akan menunggu dik
Lastri.” Ucapnya singkat tanpa aku tau maksudnya.
Setelah pembicaraan itu kami
menyantap makanan yang ada didepan dami dan memutuskan untuk pulang. Ternyata
dirumah Mas Boris sudah disana dan berbincang dengan bapak. Ya benar Mas Boris
melamarku didepan bapak dan ibu.
“Lastri, Kirman duduk sini. Bapak
mau bicara” kata bapak
Kami berdua duduk bersebelahan dan
berhadapan dengan Bang Boris.
“ada apa pak?” Tanya Mas Kirman
“Mas Boris baru saja mengutarakan
keinginannya menikahi Lasrti. Namun bapak menolaknya.” Ucap bapak terang-terangan.
“kenapa pak?” Tanya Mas Kirman
“Lastri dan Boris itu berbeda.
Budaya, bahasa, adat semua berbeda dan Lastri akn menikah dengan nak Kirman”
jelas bapak
“bukankah menyatukan perbedaan itu
lebih baik pak?” jelas Mas Kirman
“nak Kirman tidak keberatan Lastri
dilamar orang lain?” balas bpak
“tidak. Asalkan itu yang terbaik
untuk Lasrti Kirman tidak keberatan.
Kirman akan memberikan apapun agar Lastri bahagia pak. Termasuk perasaan saya
sendiri pak” ucapnya sembari menggenggam tanganku, dia tau aku pasti sangat
terpukul dan sakit akan ini semua. Dia berusaha menenangkanku denga
tindakan-tindakan dan kata-katanya walaupun aku tau sekali kalau dia sangat
terluka
“Lastri tidak pernah memohon kepada
bapak sebelumnya. Lastri minta izin untuk mencoba mengenal Mas Boris pak.”
Ucapku sembari berlinangan air mata. Demi jagad raya, aku sangat bingung akan
keadaan ini aku tak tau apa yang akhirnya membuatku memberanikan diri untuk
berbicara seperti ini kepada bapak.
“kau menerima lamaranku?” tanya
bang boris
Aku tak menjawab dan hanya diam
menunduk.
“saya juga ikut memohon pak,
berikan kepercayaan untuk Lastri memilih jalan hidupnya” pinta Mas Kirman yang
menahan air matanya.
“Lihat nok betapa Kirman mencintaimu? Kamu tega melukai perasaannya?”
jawab bapak.
Lagi-lagi aku tak dapat berkata
apa-apa aku hanya menangis, dadaku semakin sesak seakan ada balon yang
mengembang didadaku.
“dia hanya memberanikan diri untuk
mengutarakan isi hatinya pak” jawab Mas Kirman
“nok, kamu mencintai Boris? Tanya
ibu dengan lembut
Aku bersimpu dan memohon ampun
dilutut ibuku
“maafkan Lastri bu, maafkan Lastri
yang telah mengecewakan ibu” ucapku
“tidak nduk, ibu akan mendukung
pilihanmu” ucap ibu
“baiklah. Aku akan merest hubungan
kalian, pernikahan akan terlaksana tepat pada pernihakan Kirman dan Lastri yang
sudah ditentukan” ucap bapak
Tangisku berubah menjadi haru, aku
bersujud dikaki bapak dan berterima kasih atas kesempatan yang telah bapak
berikan kepadaku. Aku juga meminta maaf kepada Mas Kirman akan apa yang telah
aku lakukan kepadanya.
Singkatnya pernikahan kami
terlaksana dengan adat jawa dan seminggu berikutnya dirayakan dengan adat Batak
tempat kelahiran Bang Bokir.
Tidak ada yang tidak mungkin,
karena budaya apapun yang ada tak ada yang buruk, bagiku menyatukan dua budaya
yang berbeda bukan hal yang salah tetapi akan terus menjadikan semuanya lebih
beragam dan saling memahami satu sama lain
Comments
Post a Comment