Surat Penawaran Untuk kamu, Laki-laki pendaki gunung.

Kamu suka kan mendaki gunung? atau berjalan-jalan menemukan sebuah keindahan baru. Aku ada penawaran untukmu.
Aku mau menawarkan perjalanan kepadamu, sebuah perjalanan yang sering kau lakukan. Sedikit berbeda karena aku ikut dalam perjalanan mu. Mengarahkan ku untuk ikut dengan aturan mu dan menyelinapkan aturan ku untuk menentukan jalan, sedikit saja. Tidak banyak.
Perjalanan ini bukan bahagia sebagai tujuan, tapi mati. Ya, aku bersedia untuk mati dengan cincin di jari manisku darimu.
Aku tidak akan menjanjikan atau menerima janjimu untuk terus berbahagia dan berpura-pura tidak apa-apa. Aku akan banyak mengeluh saat jalan yang kamu pilih akan membuatku terluka, entah luka sayatan di kaki ku atau bahkan menjadi patah tulang. Aku akan menangis saat lelah atau merasa sakit dibagian tubuhku saat ranting menggoreskan luka yang pasti akan berbekas. Tapi tenang, aku tidak akan mengganggumu untuk menentukan pilihan jalan mana yang akan kamu ambil, sepenuhnya aku mempercayakan mu untuk mengatur strategi perjalanan ini. Aku tidak akan mengganggumu, sama sekali. 
Ambillah jalan yang akan kamu ambil untuk membawaku menuju bahagia yang kita sepakati. Aku tak masalah dengan banyak konsekuensi, menginjak batu, berjalan di atas tanah becek sehabis hujan malam tadi, atau bahkan harus terluka karena ilalang-ilalang di sekitaran jalan yang kamu mau. Bukan jadi masalah bagiku, asal tanganmu tak lupa untuk menggandengku, asal itu kita lakukan untuk kita, bukan hanya aku dan kamu. Tapi, perkara menyiapkan segelas kopi dan makanan apa yang akan kita santap bersama saat di pos pemberhentian itu adalah urusanku. Percayakan saja, aku adalah koki hebat untuk mu. Setidaknya Mie Instan yang akan ku sediakan tidak hanya kuah yang asin dengan mie yang terlalu lembek, akan ku sediakan Mie Instan sesuai dengan selera mu, mungkin akan ku tambah sedikit bumbu agar kamu selalu rindu dengan Mie Instan buatanku. Jangan takut kamu akan mati kelaparan, aku cukup jago untuk menggorengan kerupuk dengan pas, tidak gosong dan bisa menjadi teman makan kita.
Untuk tempat berteduh, aku tak kan memaksamu untuk mencarikan kamar dengan kasur yang empuk seperti di hotel mewah, atau penginapan kecil dengan satu dipan dan kamar mandi dengan ember dan gayung. Cukup tenda yang kita bawa untuk melindungi kita dalam hujan atau dingin sang malam. Asal kamu tidak lupa untuk memelukku dalam tidur kita malam ini. Aku bukan laki-laki yang bisa kamu diamkan saja dengan keadaan percaya bahwa aku kuat, kamu harus tetap ingat bahwa aku perempuan dengan banyak butuh untuk kamu perlakukan dengan baik. Nanti, kita bicarakan lagi tentang ini.
Aku tau, ini tidak akan mudah untuk mu. Terutama kamu harus mendaki dengan seorang perempuan yang belum pernah mendaki gunung sama sekali, perempuan yang sangat malas untuk melakukan hal yang melelahkan dan tak tau apa senangnya dari kegiatan itu. Sekali lagi, aku tidak menjanjikan sesuatu untukmu tenang menuntunku menuju puncak bahagia kita. Tapi setidaknya, aku sudah cukup berpengalaman untuk tidak menuntut dan mengeluh dengan strategi menuju puncak itu. Aku bersedia menjadi temanmu berbicara di sepanjang perjalanan, aku bersedia menjadi teman mu untuk marah dan menangis. Beberapa temanku berkata bahwa aku adalah pendengar yang baik, setidaknya mendengarkan saja. Kalau misal aku tidak bisa memberi balasan, aku masih bisa mendengarkan mu.
Jangan berfikir macam-macam, cukup fokus pada jalan. Mendongaklah saat diperlukan, jangan terlalu lama untuk melihat langit. Ingatlah bahwa kita sedang dalam perjalanan, lihatlah jalan yang akan kita tempuh. Jangan pikirkan aku akan terluka atau berdarah. Lindungi dirimu sendiri dulu, jangan pikirkan lukaku. Bukan karena aku memiliki hati yang besar, tapi percayalah saat keadaan mu baik-baik saja, kamu akan bisa sangat cepat menolongku dan mengobati lukaku. Setidaknya lebih tenang untuk menentukan jalan menuju rumah penduduk untuk memberikan obat merah di lukaku.
Jika kamu lelah, atau berniat untuk menyudahi perndakian ini. Katakanlah, Pos pemberhentian ke dua dengan tinggi 2.400m pun kalau kamu lelah, aku tak apa. Jangan tiba-tiba mendaki sendiri, atau turun menuju jalan pulang. Katakan kepadaku, sampaikan lelahmu! Apapun yang akan kamu katakan untuk memberhentikan pendakian bersamaku akan ku terima, walaupun akan banyak yang coba ku pelajari untuk mengerti dan mengikhlaskan lalu berdamai. Setidaknya, pendakian kita akan menjadi sebuah cerita yang asik untuk ku dan kamu nantinya, bukan hanya sebuah penyesalan untuk menyelesaikan dengan cara pengecut sepertiku. Aku menginginkan belajar menjadi pemberani darimu.  

Begitu penawaranku, kalau ada yang perlu kamu tambahkan atau kamu ingin untuk di ubah katakan saja. Biar kita buat surat perjanjian dengan tandatangan diatas materai.
Yang ku inginkan dari perjalanan ini adalah saat salah satu diantara kita mati dan tergores di hati kita "inilah perjalanan yang paling indah, tentang aku dan kamu. memberi bukti bahwa tujuan kita berproses adalah mati dengan cincin kawin masih terpasang dijari manismu"
 

Comments

Popular Posts