PETRICHOR, NAMANYA #4

Pagi berlalu, siangpun berjalan dengan cepat. Setelah mengantarkan Dika ke bandara, aku kembali kerumah. Diperjalanan aku mendengarkan radio, mengingat masa dulu. Aku pernah membagi kebahagiaan ku melalui radio, ya sebut saja sebagai penyiar. Empat tahun dengan berganti dua station, menyenangkan rasanya berbicara dan memutarkan musik kesukaan pendengar. Mengirimkan pesan cinta atau hanya salam rindu kepada yang terkasih. Berhentilah aku disebuah tempat makan dipinggir jalan, hampir dekat rumah. Aku membungkus makanan,
"Mas, es teh manis tapi agak sepet ya satu." suara laki-laki yang berdiri tepat dibelakangku, aku menoleh sedikit
"Dian" tegurnya, laki-laki yang tak ku harapkan
"Viko..." ucapku terkaget-kaget, aku gugup. tubuhku seakan tidak memiliki tulang, darahku berdesir, pundak, leher hingga kepala bagian belakang tetiba memanas.
"Apa kabar?" sapanya dan menarik kursi di sampingku
"Sama siapa? sendiri? numben mau makan sendiri di luar" tanyanya lagi
Aku tak menjawab apapun pertanyaannya, aku hanya diam, mukaku pucat pasi, seakan riasan diwajahku tidak berfungsi.
"Be?" tanyanya kembali
"Emm, eh iya. sendiri, cuma mau bungkus makan terus pulang kok." jawabku gugup
"Apa kabar?" tanyanya
"Baik. kamu gimana?" tanyaku sembari mencoba menenangkan diri

...
"Dik, ntar kalo tetiba gw ketemu Viko gimana ya?" tanyaku
"Ya ajak ngobrol lah, jangan kayak orang bego cuma diem aja. Tunjukin kalo lo baik-baik aja
"Tapi kan emang gw nggak baik-baik aja kalo urusan sama dia." jawabku
"HEH, gw tau bodo gratis tapi jangan serakah lo ambil semua. Lo nggakpapa kali pura-pura baik-baik aja, orang dia juga baik-baik aja. Ntar kalo dia cerita sama cewek barunya, gengsi dong lo cuma plonga-plongo ketemu dia. Jangan sampai kumat juga penyakitnya!" jelas Dika.
...

"Semakin membaik, sih aku liatnya. Aku? Baik" jawab Viko
"Kamu selalu baik Vik, nggak pernah enggak." balasku sekenanya
Hati ku sesak, aku ingin marah dan berteriak bahwa Viko tidak pernah tau betapa susahnya aku memperbaiki hatiku sendiri, tanpa dia mempertanyakan hidupku sekarang.
"Be, nggak gitu." jelasnya
"Vik, sorry nama gw Dian." potongku, aku tak ingin mendengarkan sebutan itu lagi, terlalu menyakitkan buatku
"Sorry, Di"
"Nggak usah minta maaf, aku tau kamu nggak bisa minta maaf" jawabku ketus
"Vik, sorry gw duluan ya. Makanan gw udah jadi" sahutku meninggalkan Viko
"Di, gw boleh ngobrol sama lo sebentar?" tanyanya
"Nggak hari ini Vik, gw lagi nggak enak badan." Jawabku singkat
"Duluan ya" pamitku dan bergegas menuju mobil Dika yang ku bawa.

Degub jantungku meningkat, aku menangis didalam mobil, memilih untuk mengambil jalan lebih jauh. Aku menyesali pertemuanku dengan Viko tanpa Dika, sepanjang perjalanan aku hanya menangis dan tak tau apa yang terjadi. Pertemuanku dengan Viko yang hanya sebentar ternyata menyulut amarahku, bukan ketenangan atau kenyamanan yang kubayangkan. Bukan ucapan cinta yang masih ku simpan sampai saat ini.

"DIKA GW KETEMU VIKO DI WARUNG MAKAN DEKET RUMAH, ANJINGGGGG" sapaku kepada Dika melalui whatsapp
Dika lama tidak menjawab, aku mencoba menenangkan diriku dan memutuskan pulang ke rumah.

...
"Be, aku mau rumah ini." Ucapku kepada Viko saat melewati sebuah rumah kecil dengan halaman yang luas.
"KPR berdua aja yuk be" balasnya
"Lah, ntar kalo ada apa-apa sama hubungan kita gimana? belum nikah udah harta gono-gini aja" sahutku sembari tertawa
"Kan kalo udah ada rumah jadi mikir kalo mau putus, sayang uang KPRnya kan?" balasnya
"Jadi yang bikin berat mau putus gara-gara rumah doang? bukan karena sayang?" tanyaku menggoda
"ya kan mikirnya jadi dua kali kalo ada tanggungan rumah" jelasnya sekenanya
...

Aku membuka pintu gerbang, berdiri dihadapan rumah yang sudah ku beli setengah tahun lalu dari tabungan usahaku dan pekerjaanku. Rumah ini yang ku sebut selalu setiap aku dan Viko melewati rumah ini. Aku tidak mau memiliki rumah besar, tapi aku ingin memiliki rumah dengan halaman yang besar. Dan sekarang, rumah ini sudah ku beli sendiri, tanpa Viko. Air mataku terus menetes deras, aku hanya sendiri, tidak bergerak, menangis mengingat semua kenangan manis bersama Viko.
"Dika." ucapku tiba-tiba, aku merasa sesak lebih dalam dihatiku.
Aku bergegas menuju mobil mengambil Handphone, aku melihat 7 panggilan tak terjawab.
"terus gimana?"
"Di? angkat telpone gw!!"
"Di, are you ok?"
"Heh nyet jangan bikin gw panik!"
Pesannya yang ku masuk di whatsapp ku, aku bergegas meneleponnya.

"Dika.." sapaku lemas
"Di, are you ok? lo dimana sekarang? anjing kenapa pas gw jauh sih?" jawabnya dengan banyak pertanyaan.
"I'm fine Dik. Gw udah di depan rumah." jawabku
"nggak. lo nggak fine" ucapnya
"Dik, gw kenapa sih masih marah aja sama Viko?" tanyaku tanpa memperdulikan ungkapan Dika
"Kenapa-kenapa?" tanyanya mereda
"Gw ketemu Viko marah-marah"
"Lo beneran marah-marah?" tanyanya
"ya enggak sih, sengak aja gw nanggepin Dia. Benci rasanya, kayak nggak ada apa-apa, kayak semua baik-baik aja. sedih gw Dik" jawabku kesal
"terus?"
"ya gw terus pamit balik." jelasku
"terus?"
"lo terus-terus aja deh, kayak tukang parkir lo!" jawabku kesal
"ya kan gw mau denger cerita lo dulu"
"yaudah cuma gitu aja."
"terus lo sekarang gimana?"
"nggak tau, kosong. kayak mau marah nggak bisa"
"tapi lo nangis kan?"
"ya nangislah gilak!"
"di depan dia?"
"enggak"
"bagus. lo sekarang masuk rumah, mandi, makan terus tidur. cepet!" pinta Dika
"menurut lo gw bisa tidur habis ketemu Viko?" bentakku
"percaya sama gw, kalo lo nggak bisa tidur, lo telpone gw." balas Dika.. 

Ku mantab kan lagi kaki mu masuk ke halaman rumah ku. Masih di dalam mobil Dika, aku duduk diam di belakang stir mobil. 

...
"Be, kalo punya halaman luas gini kan kita bisa nanem-nanem sayuran. Jadi kalo aku laper tengah malem, kamu bisa masakin aku" ucapnya sembari berbaring di pangkuan ku. 
"gofood aja, Be kalo laper tengah malem. Males beberes ya" 
sahutku yang asik scroll media sosial ku untuk mencari rumah idaman kita berdua. 
"kan kamu nggak akan tega be kasih aku makanan gofood doang" candanya sembari menarik tangan ku dan menciumnya dengan mesra. 
... 

Kalau saja, dulu aku tak pernah membiarkan Viko pergi.. Mungkin, rumah ini akan menjadi tempat paling indah. Aku mewujudkan cita-citanya, menanam tanaman hidroponic di bantu oleh sahabatku Dika. Menambah ayunan dan kursi santai di taman, tujuannya agar Viko bisa bekerja dengan suasana setenanf mungkin...

"Vik, kalo lo di waktu yang sama nggak ngebiarin gw pergi.. Mungkin gw akan memaafkan lo dan tetap menjalankan pernikahan kita...." 

Comments

Popular Posts