Terimakasih telah membuatku jatuh hati, setiap hari.
Pagi ini kuawali dengan melihatmu terpejam.
Bersama suara jam dinding aku melihatmu beristirahat dengan nyenyak, memulihkan tubuhmu lalu memberi ruang pada tubuhmu bernafas.
Aku menyukainya, sangat menyukainya.
Dilanjut dengan satu piring berisi makanan pembuka.
DIsambut dengan cerita akan masa-masa itu, masa dimana aku tak tau kamu menghabiskan waktu dengan cara apa. Dengan cara apa kamu membagi tawa dengan dia yang kau minta pergi untuk berbahagia sendiri.
Lalu, matahari makin tinggi.
Cerita mu semakin tak mampu kau bagi lagi.
Dari bagaimana sampai kenapa, dari peduli jadi tak mau tau.
Setelahnya, kamu melanjutkan pekerjaan mu dan aku menulis ini.
Laki-laki yang ku ceritakan di atas masih di hadapanku, membuka telpone genggamnya dan saling diam denganku.
Seperti biasa. dan aku tak papa.
Aku suka membuka hari bersama denganmu, selalu membuka cerita dan berbagi pikiran.
Mendebatkan sesuatu yang bahkan bukan menjadi kepentingan kita.
Aku selalu berbahagia melihatmu bekerja, bukan karena apa-apa.
Tapi karena aku melihat kamu sangat mencintai pekerjaanmu.
Sayang, jangan terlalu lama bergulat dengan keingin tahuan mu.
Aku tak mau kamu melaju terlalu jauh.
Aku takut kamu terjatuh.
Sayang, menolehlah sedikit. Angkatlah kepalamu, percayalah aku akan menemani mu sampai kau lelah. Jangan takut untuk sendirian terus, kamu harus tau kalau aku bersedia dengan ikhlas hati menemanimu untuk menghabiskan hari dan berganti mati.
Terimakasih telah membuatku jatuh hati, setiap hari.
Bersama suara jam dinding aku melihatmu beristirahat dengan nyenyak, memulihkan tubuhmu lalu memberi ruang pada tubuhmu bernafas.
Aku menyukainya, sangat menyukainya.
Dilanjut dengan satu piring berisi makanan pembuka.
DIsambut dengan cerita akan masa-masa itu, masa dimana aku tak tau kamu menghabiskan waktu dengan cara apa. Dengan cara apa kamu membagi tawa dengan dia yang kau minta pergi untuk berbahagia sendiri.
Lalu, matahari makin tinggi.
Cerita mu semakin tak mampu kau bagi lagi.
Dari bagaimana sampai kenapa, dari peduli jadi tak mau tau.
Setelahnya, kamu melanjutkan pekerjaan mu dan aku menulis ini.
Laki-laki yang ku ceritakan di atas masih di hadapanku, membuka telpone genggamnya dan saling diam denganku.
Seperti biasa. dan aku tak papa.
Aku suka membuka hari bersama denganmu, selalu membuka cerita dan berbagi pikiran.
Mendebatkan sesuatu yang bahkan bukan menjadi kepentingan kita.
Aku selalu berbahagia melihatmu bekerja, bukan karena apa-apa.
Tapi karena aku melihat kamu sangat mencintai pekerjaanmu.
Sayang, jangan terlalu lama bergulat dengan keingin tahuan mu.
Aku tak mau kamu melaju terlalu jauh.
Aku takut kamu terjatuh.
Sayang, menolehlah sedikit. Angkatlah kepalamu, percayalah aku akan menemani mu sampai kau lelah. Jangan takut untuk sendirian terus, kamu harus tau kalau aku bersedia dengan ikhlas hati menemanimu untuk menghabiskan hari dan berganti mati.
Terimakasih telah membuatku jatuh hati, setiap hari.
Comments
Post a Comment