Haru, Aku Temukan Kamu Secepat Itu.. (1)
"pusing banget kepala gw anjir" seru ku saat siang itu membuka mata.
"lo kebanyakan minum bodoh!" teriak temanku, namanya Melisa.
Melisa adalah sahabatku, bisa ku beri tittle sebagai adikku. Dia tau aku dari masih menghabiskan uang orang tua, belajar mencari sendiri sampai sekarang. Dia jauh lebih cantik, pintar dan "dewasa" pada waktunya.
"habis haus! teh panas enak deh kayaknya" ucapku seenaknya.
Nama ku Dona, teman-teman lebih sering memanggilku Nona. Karena katanya, aku lebih pantas untuk di panggil seperti panggilan puteri raja. Dengan lebel ini, hampir semua orang menilaikan sebagai perempuan yang tidak bisa berbuat apa-apa tanpa bantuan orang lain. ya.. ya.. anjing menggonggong kafilah tetap berlalu.
Sedikit bercerita, aku seorang anak perempuan kedua dari dua bersaudara. Kakak perempuanku berjarak 4 tahun dengan ku, dia sudah menikah dan ikut beserta suaminya di luar kota sudah punya dua anak dan sudah bahagia bersama hidupnya. Bukan dari keluarga kaya raya, jadi aku harus menerima kenyataan bahwa untuk membeli sepatu sekolah harus menunggu sepatuku rusak sampai nggak bisa dipakai.
"lo anti banget sih sama air putih! malem minum alkohol 90%, bangun siang minta teh panas. kaga sayang sama liver lo?"
"bunyi aja sih lo kayak alaram!" ujarku sembari berjalan menuju galon yang tidak jauh dari tempat tidurku.
"gw ke kantor, lo mau nyelesaiin buku lo dimana?" ucap Melisa tiba-tiba.
"nggak tau, gw di rumah aja apa ya? buntu banget sama ide nih!"
"kan lo habis putus, biasanya cair tuh otak"
"si tai! tapi iya juga ya, kenapa putus kali ini nggak sesakit biasanya." sahut ku
"lo nggak sayang-sayang amat kali!"
"LAH!! sana berangkat. tambah pusing kepala gw dengerin ocehan lo"
"haha duluan ya, sarapan lo di lemari es. ntar lo panasin aja"
"nah gitu! baik sm gw!"
aku tidak bekerja kantoran seperti Melisa, aku hanya menuliskan semua ide di kepalaku dan dijakikan sebuah buku yang akhirnya akan dibaca anak-anak remaja yang sedang bergulat dengan kisah cintanya. Walaupun kisah cintaku belum happy ending setidaknya aku bisa membagikan imajinasiku tentang betapa bahagianya memiliki pasangan hidup yang tidak sempurna tapi mau dan mampu saling menyepurnakan. Aku bukan perempuan yang kalem, bukan juga sebagai perempuan yang bisa menarik hati laki-laki dengan senyum saja. Seadanya, cerewet, tukang galau bahkan untuk beberapa laki-laki aku bisa dibilang berantakan.
Aku konsumsi minuman keras, aku perokok aktif dan hidupku ada di malam hari. Aku merasa otakku bisa berputar dan lebih produktif dimalam hari, dan kalau bukan rokok siapa lagi yang akan menemaniku?
Siang itu hanya ku habiskan dengan tiduran, mendengarkan lagu dan membuka media sosialku. Tiba-tiba handphone ku berbunyi
"Lo dimana?" cabut yuk, mager gw di kantor.
"mel, lo baru 3 jam di kantor udah mager. udah dibilang lo jadi manager gw aja"
"bacot! gw bisa kerja dimana aja, buruan mandi. gw sama temen-temen gw mau ke cafe deket rumah lo. ntar gw share loc" ucapnya dan mematikan telepon.
"si tai nih anak!" ucapku menggumal dan beranjak dari kasur lalu memutuskan untuk mandi.
Seperti biasa, mandi hanya butuh waktu 10 menit tapi jangan tanya untuk bersiap. Aku bisa menghabiskan 30 menit hanya untuk mengatur rambutku, belum berias. Tiba-tiba telpone ku berdering kembali
"udah sejam nyet gw nungguin lo! buruan kesini"
"ngebet amat sih lo, kalem kali. gw lagi siap-siap toh juga cuma 15 menit ini sampek situ. lo sama temen-temen lo kan?"
"gw laper anjir, kalo ada lo kan lo yang bayar" jawabnya dengan tertawa
"setan ya lo! iya bentar lg gw otw"
ku lanjutkan bersiap, lalu ku pergi menyusul sahabatku yang sangat aku sayangi dan menyebalkan itu.
Sesampainya di tempat kami menentukan janji, aku langsung menemukan Melisa bersama teman-temannya. Sekitar tujuh orang, tiga diantaranya aku sudah mengenalnya. Dari semua temannya yang belum aku kenal, ada satu yang mencuri pandanganku "anjir, manis bener senyumnya" ucapku dalam hati.
"lama amat sih Nona Putri ini" sahut Bima, teman Melisa yang sudah ku kenal sebelumnya
"hehe, sorry namanya juga Nona kan ya?" jawabku enteng sambil mengambil kursi di sebelah Melisa.
"guys, kenalin ini temen gw. Namanya Dona, lo panggil Nona aja biar akrab. Anaknya baik, baru putus. kalo ada yang mau deketin lewatnya gw dulu, ok?" teriak Melisa mengenalkan diriku di depan teman-temannya.
Namanya Doni, laki-laki pemilik senyum manis itu. Aku suka melihanya tertawa, manis sekali. Ditambah postur tubuhnya yang tinggi dan pas lah untuk dipeluk. Sebatas itu ketertarikan ku dengan dia, tidak untuk lebih.
Aku sudah tidak mempercayai komitmen, apa lagi pacaran. HAH! Sangat menghabiskan waktu, usiaku sebentar lagi sudah sepertempat abad, malas untuk membuang-buang waktu.
"Mel, temen lo cakep" seruku menggoda Melisa
"yang mana? Doni? sikat! Jomblo juga" jawabnya
"numben lo bolehin?"
"baik anaknya, nggakpapa. tapi jangan lo rusak, produk langka"
"lah si bengsek. gw kan baik-baik"
"bodo amat Nak!" jawab Melisa ketus
Akhirnya kami melanjutkan pekerjaan kami masing-masing, aku kembali menyelesaikan beberapa draf yang harus ku kerjakan karena deadline buku ku terbit tinggal 7bulan lagi, belum masuk editor dan ilustrasi gambar cover. Tiba-tiba ada leptop kesayanganku mati..
"anjing! mati lagi" teriakku emosi
"kenapa?" sahut Melisa
"nggak ngerti tiba-tiba mati, taik dealine gw. ke save nggak ya?" sahutku panik
"kenapa sih?" tanya Doni tiba-tiba dan menghampiriku
"Mati leptop gw, kerjaan gw belum gw save" jelasku singkat
"coba gw liat" ujarnya sambil menggeser kursi Dita, teman Melisa yang belum lama pulang karena harus bertemu dengan clientnya.
Lama dia mengotak-atik leptop ku, aku hanya memperhatikan dengan cemas. Aku takut file ku menghilang semua.
"udah nih, masih bisa ke tolong file lo. lo backup deh daripada ilang semua duit lo" ujar Doni sambil memeluk lenganku.
"Yaampun Don, thankyou banget ya. Kalo nggak ada lo, kelar hidup gw" sahutku lega
"Halah, modus lo Don. Pake pagang lengen Nona" sahut Bima
Dia hanya tersenyum kecil, aku baru menyadari bahwa dia sempat memeluk lengan ku.
Beberapa waktu aku melanjutkan pekerjaanku, tapi tiba-tiba terbesit betapa manisnya senyum laki-laki itu, iya Doni. Mata ku mencuri padang padanya, danternyata dia juga sedang memperhatikan ku, kami sempat beradu mata sebentar lalu aku melempar senyum.
"anjing, gw deg-degan" teriak ku dalam hati.
"udah Nak, selesaiin kerjaan lo!" tambahku dalam hati.
..waktu sudah berlalu, tiba-tiba sudah jam 9 malam.
"cabut yuk capek gw" teriak Melisa, memecahkan konsentrasiku
"nih, balik duluan. gw masih panas otaknya" sahutku menggeser kunci mobil dan rumah
"kalian balik mana? tempat Nona aja yuk" ajak Melisa kepada teman-temannya.
"sabi sih, yuk!" ucap Bima.
"Lo ntar baik gimana? tanya Rido, teman baik Melisa di kantor yang tentu aku kenal baik.
"gampang, ada ojek online" sahutku sekenanya sambil menghidupkan sebatang rokok kesukaan ku.
"ntar sama gw nggakpapa, kalian duluan aja." Jawab Doni, yang berhasil memevahkan konsentrasiku.
"nitip ya? gw capek banget asli" sahut Melisa
"iya, gw anter sampek kamar biar aman" jawab Doni
"bisa-bisa lo aja Don, sekalian nginep aja sih lo juga" sahut Bima
"ntarlah gampang" ucap Doni sambil melempar senyum manisnya
"Nak, bayarin dulu ya? gw belum gajian" tambah Melisa
"bacot. nih, sekalian punya anak-anak nggakpapa." balasku sambil memberikan dompetku ke Melisa
"thank you ayang aku" balas Melisa yang bergegas pergi ke kasir.
"yuk guys, cabut. Nak, Don kita duluan ya?" ucap Melisa sembari memberikan dompetku.
"iya take care ya, kamar atas pake aja" jawabku
"bye.." Ucap Melisa, Bima dan Rido meninggalkan kami berdua.
Aku sedikit gugup karena ditinggal berdua dengan Doni, "mati gw ngobrolin apa" ujarku dalam hati.
"sini kali don, jauh amat kayak orang musuhan" ucapku kepada Doni berusaha memecahkan suasana
"iyaa, bentar" sahutnya sambil menenteng leptopnya.
Dia duduk di sampingku persis, membereskan tempat untuk menaruh semua barangnya.
"lo ngerjain apa sih?" tanyanya
"gw suka dongeng. kerjaan gw ngedongengin orang lewat tulisan"jawabku.
Dari obrolan itu, kami akhirnya bercerita dari A sampai ke Z, sembari memperkenalkan diri masing-masing. Banyak hal yang kami bagi berdua. Kami cepat akrab, tanggannya di taruhnya ke sandaran kursiku. Dari jam 9 malam sampai jam 2 pagi kami bercerita, melupakan pekerjaan. Kami berhenti bercerita karena Melisa menelpone ku menanyakan kapan aku pulang. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang ke rumahku, Doni tidak hanya mengantarkan ku, dia ikut menginap bersama anak-anak yang lain.
Sesampainya kami di rumah, Semuanya sudah tidur, akhirnya aku dan Doni memutuskan untuk melanjtkan perbincangan kami di teras belakang ditemani dengan 2 botol beer. Teras belakang memang aku set senyaman mungkin bahkan kadang anak-anak sering tidur disana, tidak begitu dingin karena memang ada bantal besar disana dan lantai di lapisi kasur tipis.
Terlalu cepat mungkin tapi ini lucu, aku secepat itu percaya kepadanya sampai aku memperayakan diriku untuk menyenderkan kepalaku di pundaknya, tangannya menggenggam erat tanganku. Kami bercerita tentang masa lalu kami, tentang beberapa kisah yang menurut kami sangat susah di lupakan.
"Don, gw ngantuk" ujarku
"yaudah masuk kamar sana tidur." jawabnya sembari mengusap rambut pajangku
"lo mau nyusulin anak-anak di atas?" tanyaku
"gw disini aja, gampang" balasnya sambil tersenyum
"yaudah, gw disini juga" jawabku seakan tak mau melewatkan malam tanpanya.
"ambil selimut sana, ntar lo kedinginan" ucapnya sambil melepas tangannya pada pundakku
Aku bergegas mengambil selimut di kamarku, Melisa sudah tertidur pulas di kasur ku.Aku kembali keteras belakang dengan membawa selimut tebal kesayanganku.
Malam itu, kami habiskan waktu untuk berdua, aku tertidur dipelukkannya. Kepalaku beralaskan tangannya. Semalamam dia memelukku tanpa menyentuh atau berusaha berbuat kurang ajar padaku.
Diciumnya rambutku, dipeluknya tubuhku seakan tak boleh angin membuatku kedinginan. Aku suka perlakuannya, aku suka hangat peluknya, aku rasa aku mulai jatuh hati. Secepat itu

Comments
Post a Comment