Karma baik menunggu Semesta pulang, bukankah Semesta yang harusnya menunggu kepulangan ?

Sebelumnya tidak ada yang aneh, terasa biasa saja tapi menurutku semakin indah.
Bumi bersahabat kepadaku sepertinya.
Membiarkan aku berbahagia dengan karma baik yang mulai aku tanam sejak lama.
Seakan semuanya terjawab..

Angin tak begitu kencang, tapi cukup mampu membuatku terasa sejuk.
Udara tak begitu panas, tapi cukup membuatku bangun dengan segar.
Bintang tak begitu banyak, tapi cukup untukku berhenti sejenak dan ingin membuat malam semakin panjang.
Air tak begitu deras mengalir, tapi cukup untukku menghilangkan dahaga.
Aku senang dengan pemberian semesta, semuanya tak berlebihan dan terasa cukup.

Tapi akhir-akhir ini, malam terasa lebih dingin.
Entah ada bintang atau tidak tapi untukku terasa sangat gelap.
Entah apa yang terjadi atau hanya perasaanku saja.
Tidak semuanya hilang, hanya saja banyak yang berubah.
Angin meniupku hingga mataku kemasukan debu.
Udara membuatku tak mau bangun, aku semakin banyak membutuhka air.
Persediaan air melimpah, tapi bukan air ini yang aku mau untuk membasuh lelahku.

Mungkin aku kurang bersyukur, mungkin semesta memberikanku porsi yang sama hanya saja kemauanku semakin tinggi.
Atau mungkin semesta membaginya dengan karma baru yang nampaknya lebih membutuhkan semuanya.
Atau mungkin semesta lebih tertari pada karma baru.
Mungkin semesta ingin tau. apakah karma baru ini lebih indah.

Yasudah, banyak kemungkinan yang akan terjadi saat keraguan mulai muncul.
Aku sudah tidak mau banyak meminta dan mengharapkan semesta memberikanku hal yang lebih, bahkan aku tidak terlalu yakin semesta akan memberikanku hal yang sama seperti beberapa minggu lalu.
Semua serba mungkin, karena aku tidak menanyakan apa-apa pada semesta.
Mungkin saatnya sekarang aku diam, menunggu semesta memberi karma baik lagi atau mungkin akan kenyataan buruk yang terjadi.

Aku sadar, bukan hanya aku yang butuh kehidupan.
Semestapun butuh hidup dengan bahagia yang dia temukan sendiri di benih karma baik yang sedang berusaha ditanam.
Apapun itu, jikalau semesta mau itu aku tak mau banyak bertingkah.

Teruntuk semesta yang ku pilih untuk memberiku kehidupan,
Aku yang memilih untuk hidup dengan banyak resiko yang harus aku tempuh, semesta tak hanya punyaku saja..
Aku yang banyak menaruh rasa nyaman pada semesta yang selalu memberikan apa yang aku butuhkan dengan porsinya..
Aku bersyukur, pernah memilih mu untukku tinggal beberapa waktu..
Aku akan tetap hidup di semestamu, tapi kali ini biarkan aku yang menikmati hidup tanpa terus berlari atau mengemis..
Aku cukup dengan kebaikan dan kebahagiaan yang selama ini ada..


Comments

Popular Posts