silahkan bergulat, yang pasti aku masih mau berusaha.
"Jawabannya datang dan menunggu waktu yang baik."
"nikmati saja, asal kamu bahagia."
"yang membuatmu terluka adalah prasangka."
"diam! tinggal menunggu keberanian, untuk pergi atau memastikan."
Terlalu banyak suara yang berputar dalam otakku, membawaku pergi dalam duniaku sendiri.
Mulai dari.. "ya sudah, jalani saja. asal sama sama bahagia dan semua akan tetap baik-baik saja" atau "ini apa? hanya sebatas pelukan dan ciuman. lalu? yasudah. selesai" bahkan sampai "dia menaruh harapan yang sama. hanya belum waktunya untuk semua dipastikan dan di bicarakan."
Aku terbiasa hidup dengan api, sayangnya aku tak siap menerima luka bakar atau asap sekalipun. Terbiasa menerka-nerka yang sebenarnya cukup untuk ditanyakan.
Bagaimana rasanya menjadikan diri dan hati bermusuhan?
Aku bertengkar dengan nyawaku sendiri, menyatukan ego dan hati.
Terlalu sensitif katanya, tapi beberapa kali aku coba untuk menguatkan hati sendiri ternyata memang hatiku terlalu menyebalkan.
Tusukan jarumpun kurasa sebagai cambukan pedang yang tipis namun tajam.
Dari sekian luka yang kurasakan sendiri, sampai puluhan bahagia yang aku rasakan saat menghabiskan waktu untuk tertawa bersamamu bahkan saat tubuh kita menyatu dengan hangatnya.
Semua terjadi karna..."aku menyayangimu, tanpa tau apa yang aku tunggu. tanpa menyadari apa yang akan terjadi nanti. yang jelas, aku masih mengusahakan hatimu tau bahwa aku benar-benar hidup dalam setiap detiknya tatapanmu."
Comments
Post a Comment