"Kasih itu lemah lembut, sabar, sederhana. Kasih itu murah hati, rela menderita"
"Kasih itu lemah lembut, sabar, sederhana. Kasih itu murah hati, rela menderita"
sepenggal dari nyanyian gereja yang pernah aku dengar..
Lemah lembut, sabar dan sederhana. lalu murah hati dan rela menderita.
banyak hal yang perlu di rasakan..
Pada kasih yang lemah lembut, darimana datangnya lemah lembut dari semua suara lantang yang tercipta antara tawa dan canda?
Pada kasih yang sabar, darimana datangnya sabar pada hati yang rapuh lalu cepat layu?
Pada kasih yang sederhana, darimana datangnya kesederhanaan pada diri yang selalu berusaha memberi lebih untuk hati yang di idamkan?
Lalu,
Pada kasih yang murah hati, darimana datangnya saat hati yang selalu ingin berbalas?
Pada kasih yang rela menderita, darimana datangnya rela menderita pada bahagia yang diidamkan?
Mataku menatap kosong pada dinding di temani lagu sendu yang terdengar.
Kepalaku mulai membuat skenario yang entah baik atau buruk untuk hati yang mulai kokoh.
Apa baiknya aku melaju dengan banyak peluh atau berhenti dengan banyak tanya yang masih merajuk untuk berjalan?
Sedikit merusak keadaan dengan mengingat dengan pisau yang hampur ku buang, tapi malah ku genggam erat lagi.
Mendengar banyak suara bentakan saya aku layu, bagaimana hatiku berperang pada iya atau tidak?
Aku mengerti, tapi ternyata egoku membuatku ingin di mengerti lebih.
Aku tau, tapi tau ku membuat aku ingin menangis dan mati.
Kalau kata banyak orang "berhentilah saat ragu lebih penuh di banding mau"
Harus berhenti sedini ini? Harus berhenti saat banyak kemungkinan yang aku terka sendiri?
BODOH!
"iya, aku bodoh dan perasa. lalu menangis saat rasa dan terkaanku menang"
Beberapa hari ini sujud ku terputus, lalu tenang sedikit menghilang.
Berpulang pada iya atau tidak.
Teruntuk semesta,
Malam ini aku sedang mengayuh sampan ku di tengah sungai yang alirannya tenang tapi angin menusuk kulitku hingga tulang. Semesta, bukankah aku kau ciptakan dengan banyak tusukan angin dan deburan ombak? Mengapa aku selalu mengeluh atas hal sama?
Kalaupun aku belum mampu kau berikan pujian lain atas keberhasilanku berperang pada dingin dan gelap, kenapa kau berikan aku hal yang persis pernah aku alami.
Semesta, bolehkah aku berjauhan pada ragu, biar lemah lembut, sabar dan sederhana. lalu murah hati dan rela menderita bisa berkawan denganku?
Teruntuk Hati yang sedang ku puja,
Jika hatimu sekeras itu, setidaknya aku berhasil membuatnya sedikit melunak dengan wajah yang tak menarik, pribadi yang tak dewasa dan menyenangkan.
Jika saatnya kamu akan pergi dan melangkah dengan tangan wanita lain, entah siapapun itu..
kamu tau hati siapa yang akan terluka dan menangis tersendu.
kamu tau mata siapa yang tak mampu menatapmu layaknya dulu.
tapi kamu juga tau, siapa yang paling mengasihimu dengan lemah lembut, sabar, dan sederhana lalu murah hati dan rela berkorban..
tetapi, jika memang harapan ini bertemu kamu tau betapa aku akan mendampingi mu sesederhana itu.
Comments
Post a Comment