Aku mau pulang, tapi rumah ini terlalu nyaman.
Beberapa bulan lalu langkahku gontai, mencari kunci rumah yang lupa aku simpan dimana. Menunggu di depan teras dengan pucat dan kedinginan sembari berharap laki-laki ku membukakan pintu lalu aku bisa beristirahat dengan nyaman di dalam rumahku sendiri. Berjam-jam aku menunggu, lalu laki-laki ku membukakan. Aku temui secangkir teh dengan bekas gincu berwarna merah muda menempel dan begitu tipis. Itu cangkirku! Tapi sudah lama aku tak dibuatkan teh hangat lalu bercerita sembari memeluk laki-laki pilihan hatiku. Ini bekas siapa?!
Fikirku, ini adalah laki-laki ku membukakan pintu untuk kerabatnya datang dan bercerita. Aku mempercayainya lebih dari cukup.
Selesai aku merapihkan ruang tamuku aku tak melihat laki-laki ku duduk dengan secangkir teh tarik kesukaannya dan merokok seperti biasa. Dimana dia? Pikirku dia sedang menungguku di dalam kamar dengan sekuntum bunga mawar yang biasa dia siapkan saat aku pulang beraktivitas dan memelukku hangat. Langkahku semangat, membuka pintu kamar dan ku lihat dia tertidur pulas. Tubuhku mendekatinya dan memeluknya sembari berkata "kamu lelah? Apa kabar dengan harimu, sayang?". Dia tak menjawab, hanya menggerakkan tangannya untuk melepas pelukku. Aku lepaskan dan aku duduk di pinggiran ranjang, sempari melihat kamarku yang berantakan dan ku cium aroma parfum lain yang tak ku kenal.
Mataku mulai membaca sesuatu yang tak beres, hatiku berdegup kencang. Sampai berbulan-bulan aku mengalami penolakan oleh kasih yang kita bina.
Hingga pada akhirnya aku memutuskan angkat bicara "di saat aku tak mendampingi susahmu, adakah wanita lain bertamu?" kepalanya menggeleng pertanda tidak. Kami bertengkar hebat! Tidurku tak dipeluknya, keningku tak disambanginya.
Aku memutuskan untuk pergi sebentar, membeli tanaman yang dia suka. Tapi aku bermain terlalu jauh. Di luar hujan, aku kedinginan dan enggan pulang. Sampai akhirnya dia mencariku lewat telpon genggamnya tanpa meminta aku pulang, aku yang merengek meminta untuk dijemput "sayang, aku mau pulang". Dia hanya menjawab "pulanglah sendiri, kamu ingat jalan pulangkan?"
Jawabannya membuatku layu, aku berjalan tanpa tau arah. Tubuhku basah kuyup. Sampai pada kakiku melangkah di rumahku yang tak ku kenal lagi. Halamanku sudah berganti pohon, aku ketuk pintu tak ada yang menjawab, tak tertuliskan pesan apapun. Aku menangis di depan teras dengan luka yang menghantam.
Tangisku mulai padam, dengan baju yang mengering sendiri dan masih menempel di tubuhku. Aku memutuskan untuk pergi, hatiku menjerit sembari kaki melangkah "sayang, bagian hatimu sedang kedinginan di luar. aku melihat sepatu bertali di depan teras kita. itu milik siapa? sampai kamu tak membukakan pintu untuk perempuan yang menyiapkan bajumu untuk pergi menempuh masa depanmu? sayang, wanitamu ingin pulang yang sudah kau kunci rapat.."
Tibalah aku di sebuah gubuk kecil di depan rumah entah siapa pemiliknya..
Seturut dengan menunggu laki-laki ku mengajakku pulang, laki-laki ini menawarkan aku untuk bertamu. Sekedar duduk di depan teras dan menyediakan baju ganti. Setelah aku berganti pakaian, teh hangat dengan manis seleraku sudah ada di atas meja yang letaknya di luar rumah. Sebatang rokok dan teh hangat. Secangkir kopi hitam di temani rokok kesukaannya. Kami berbicara sampai larut, aku menangis dan menggeram. Dia hanya menatap tanpa bersuara dengan tanganku yang digenggamnya. "aku ingin pulang pada rumah yang aku dan laki-lakiku bangun". Dia hanya menoleh pada jam tangannya "beristirahatlah dulu, sudah larut malam. aku ada satu kamar kosong yang bisa kau tempati sampai matahari bangun". Aku mengucap "terima kasih. tapi aku tak bisa membiarkan matahari bangun dengan waktu yang lama. Aku harus pulang. Laki-laki ku menunggu." Dia hanya diam dan masuk ke rumahnya, berganti pakaian, hanya menggunakan pakaian hangat dan celana panjang. Tangannya menggenggam kunci kendaraan dan memberikan aku pakaian hangat miliknya yang lain. "aku antar kamu pulang".
Sampailah aku pada rumahku, belum sempat aku masuk aku dan dia melihat laki-lakiku menggenggam tangan perempuan lain dan mengecup keningnya. Di terasku, di rumah yang sudah tak ku kenali. Dia melaju dan membawaku pulang pada rumahnya. "beristirahatlah dulu disini, sambil menunggu kamu akan pergi kemana. Ada satu kamar kosong, dan takkan ada yang menempatinya."
Satu minggu aku menempati rumah orang lain dengan dua kamar, dia memberikan aku baju baru dan mengajakku merapikan tamannya.
Sampai pada hari itu, rumahnya ramai dengan teman-temannya. Aku tak berani keluar, aku mengunci diri dan kamar ku diketuk pemilik rumah "keluarlah, ada banyak bahagia yang ingin aku kenalkan".
Aku duduk, mendengarkan cerita mereka dan melihat si pemilik rumah bercerita. Tangannya menggenggam tanganku.
Semakin malam, teman-temannya berlalu. Kami meneruskan bercerita di ruang tamu, kepalaku berbaring pada pahanya. "beristirahatlah, banyak tenaga esok yang harus kamu keluarkan". Senyumnya simpu, "aku ingin disini, bersamamu. Agar tak ada sepi dan isak tangis yang kamu rasakan."
"tidurlah di kamarku, kita melewati malam bersama." Entah apa yang membuatku berani menawarka untuk terpejam bersama. Tak ada yang terjadi, hanya tangannya menggenggamku erat samapai matahari terbangun. Sejak saat itu kami selalu mengbiskan malam berdua, aku mulai berani memelukknya sampai pagi, sampai pada akhirnya egoku merujuk untuk menguasai rumah. "aku ingin terlelap di kamarmu. bersamamu." Dia hanya diam dan menuruti. Lama-kelamaan aku tak temui hangatnya. Aku hanya temui tubuhnya disampingku.
Malam berganti, lalu pada satu waktu aku beranjak keluar kamar dan memutuskan tertidur di kamar yang telah dia sediakan. Aku menyadari egoku.
"Maaf jika egoku tak membuatku terlelap hingga nyenyak. Maaf jika aku terlalu memaksa hingga kamu tak mau menatap mata ku dengan hangat. Aku cukup tak tau diri dengan maksud baikmu. Terima kasih atas tempat tinggal yang kamu beri. Terlalu nyaman sampai aku tak mau untuk mencari tempat tinggal baru. Jangan kawatir, aku akan segera pergi dari rumahmu, utarakan itu jika memang itu yang kamu mau. Aku sudah mengemasi semua barangku, aku hanya tinggak keluar dan berjalan pergi. Aku cukup tak tau diri mengartikan baikmu, Tuan."
Fikirku, ini adalah laki-laki ku membukakan pintu untuk kerabatnya datang dan bercerita. Aku mempercayainya lebih dari cukup.
Selesai aku merapihkan ruang tamuku aku tak melihat laki-laki ku duduk dengan secangkir teh tarik kesukaannya dan merokok seperti biasa. Dimana dia? Pikirku dia sedang menungguku di dalam kamar dengan sekuntum bunga mawar yang biasa dia siapkan saat aku pulang beraktivitas dan memelukku hangat. Langkahku semangat, membuka pintu kamar dan ku lihat dia tertidur pulas. Tubuhku mendekatinya dan memeluknya sembari berkata "kamu lelah? Apa kabar dengan harimu, sayang?". Dia tak menjawab, hanya menggerakkan tangannya untuk melepas pelukku. Aku lepaskan dan aku duduk di pinggiran ranjang, sempari melihat kamarku yang berantakan dan ku cium aroma parfum lain yang tak ku kenal.
Mataku mulai membaca sesuatu yang tak beres, hatiku berdegup kencang. Sampai berbulan-bulan aku mengalami penolakan oleh kasih yang kita bina.
Hingga pada akhirnya aku memutuskan angkat bicara "di saat aku tak mendampingi susahmu, adakah wanita lain bertamu?" kepalanya menggeleng pertanda tidak. Kami bertengkar hebat! Tidurku tak dipeluknya, keningku tak disambanginya.
Aku memutuskan untuk pergi sebentar, membeli tanaman yang dia suka. Tapi aku bermain terlalu jauh. Di luar hujan, aku kedinginan dan enggan pulang. Sampai akhirnya dia mencariku lewat telpon genggamnya tanpa meminta aku pulang, aku yang merengek meminta untuk dijemput "sayang, aku mau pulang". Dia hanya menjawab "pulanglah sendiri, kamu ingat jalan pulangkan?"
Jawabannya membuatku layu, aku berjalan tanpa tau arah. Tubuhku basah kuyup. Sampai pada kakiku melangkah di rumahku yang tak ku kenal lagi. Halamanku sudah berganti pohon, aku ketuk pintu tak ada yang menjawab, tak tertuliskan pesan apapun. Aku menangis di depan teras dengan luka yang menghantam.
Tangisku mulai padam, dengan baju yang mengering sendiri dan masih menempel di tubuhku. Aku memutuskan untuk pergi, hatiku menjerit sembari kaki melangkah "sayang, bagian hatimu sedang kedinginan di luar. aku melihat sepatu bertali di depan teras kita. itu milik siapa? sampai kamu tak membukakan pintu untuk perempuan yang menyiapkan bajumu untuk pergi menempuh masa depanmu? sayang, wanitamu ingin pulang yang sudah kau kunci rapat.."
Tibalah aku di sebuah gubuk kecil di depan rumah entah siapa pemiliknya..
Seturut dengan menunggu laki-laki ku mengajakku pulang, laki-laki ini menawarkan aku untuk bertamu. Sekedar duduk di depan teras dan menyediakan baju ganti. Setelah aku berganti pakaian, teh hangat dengan manis seleraku sudah ada di atas meja yang letaknya di luar rumah. Sebatang rokok dan teh hangat. Secangkir kopi hitam di temani rokok kesukaannya. Kami berbicara sampai larut, aku menangis dan menggeram. Dia hanya menatap tanpa bersuara dengan tanganku yang digenggamnya. "aku ingin pulang pada rumah yang aku dan laki-lakiku bangun". Dia hanya menoleh pada jam tangannya "beristirahatlah dulu, sudah larut malam. aku ada satu kamar kosong yang bisa kau tempati sampai matahari bangun". Aku mengucap "terima kasih. tapi aku tak bisa membiarkan matahari bangun dengan waktu yang lama. Aku harus pulang. Laki-laki ku menunggu." Dia hanya diam dan masuk ke rumahnya, berganti pakaian, hanya menggunakan pakaian hangat dan celana panjang. Tangannya menggenggam kunci kendaraan dan memberikan aku pakaian hangat miliknya yang lain. "aku antar kamu pulang".
Sampailah aku pada rumahku, belum sempat aku masuk aku dan dia melihat laki-lakiku menggenggam tangan perempuan lain dan mengecup keningnya. Di terasku, di rumah yang sudah tak ku kenali. Dia melaju dan membawaku pulang pada rumahnya. "beristirahatlah dulu disini, sambil menunggu kamu akan pergi kemana. Ada satu kamar kosong, dan takkan ada yang menempatinya."
Satu minggu aku menempati rumah orang lain dengan dua kamar, dia memberikan aku baju baru dan mengajakku merapikan tamannya.
Sampai pada hari itu, rumahnya ramai dengan teman-temannya. Aku tak berani keluar, aku mengunci diri dan kamar ku diketuk pemilik rumah "keluarlah, ada banyak bahagia yang ingin aku kenalkan".
Aku duduk, mendengarkan cerita mereka dan melihat si pemilik rumah bercerita. Tangannya menggenggam tanganku.
Semakin malam, teman-temannya berlalu. Kami meneruskan bercerita di ruang tamu, kepalaku berbaring pada pahanya. "beristirahatlah, banyak tenaga esok yang harus kamu keluarkan". Senyumnya simpu, "aku ingin disini, bersamamu. Agar tak ada sepi dan isak tangis yang kamu rasakan."
"tidurlah di kamarku, kita melewati malam bersama." Entah apa yang membuatku berani menawarka untuk terpejam bersama. Tak ada yang terjadi, hanya tangannya menggenggamku erat samapai matahari terbangun. Sejak saat itu kami selalu mengbiskan malam berdua, aku mulai berani memelukknya sampai pagi, sampai pada akhirnya egoku merujuk untuk menguasai rumah. "aku ingin terlelap di kamarmu. bersamamu." Dia hanya diam dan menuruti. Lama-kelamaan aku tak temui hangatnya. Aku hanya temui tubuhnya disampingku.
Malam berganti, lalu pada satu waktu aku beranjak keluar kamar dan memutuskan tertidur di kamar yang telah dia sediakan. Aku menyadari egoku.
"Maaf jika egoku tak membuatku terlelap hingga nyenyak. Maaf jika aku terlalu memaksa hingga kamu tak mau menatap mata ku dengan hangat. Aku cukup tak tau diri dengan maksud baikmu. Terima kasih atas tempat tinggal yang kamu beri. Terlalu nyaman sampai aku tak mau untuk mencari tempat tinggal baru. Jangan kawatir, aku akan segera pergi dari rumahmu, utarakan itu jika memang itu yang kamu mau. Aku sudah mengemasi semua barangku, aku hanya tinggak keluar dan berjalan pergi. Aku cukup tak tau diri mengartikan baikmu, Tuan."
Comments
Post a Comment