KETAKUTAN
Ketakutan akan selalu menjadi boomerang dalam semua langkah
yang pernah kita lalui. Saat kita merasakan jatuh dan merasakan sakitnya saat
itu juga kita takut untuk memulai hal yang baru.
Ketakutan bukan jalan terbaik untuk tidak merasakan
kesakitan. Justru ketakutan akan selalu membayang-bayangi kesakitan it uterus
menerus. Tanpa disadari, saat kita merasa takut lukapun akan terasa sangat
perih. Contohnya, saat seseorang mengalami sebuah kecelakaan yang menyebabkan
bagian tubuhnya mengalami luka parah, dia akan merasa ketakutan saat diminta
untuk menaiki kendaraan yang sama yang menyababkan dia terluka. Butuh waktu
lama untuk mengembalikan ketakutan itu menjadi sebuah masa dimana kita harus
mengerti hal itu adalah sebuah proses untuk berhati-hati.
Mungkin ketakutan bisa juga di katakana trauma. Trauma
terjadi karena ada sebuah hal yang tidak mengenakkan yang membuat kita tak mau
merasakan hal yang sama. Termasuk CINTA
Perasaan cinta sebenarnya sudah sangat kita pahami.
Perkenalan, sifatnya sangat mudah ditebak. Dimulai dari saling memperhatikan,
merasa tertarik dan berkenalan. Perkenalan sering disebut masa PDKT atau
pendekatan. Masa ini adalah proses pengenalan lebih dalam satu sama lain,
biasanya akan di idi dengan semua hal baik yang sebenarnya memang dia miliki
atau menjadi orang lain agar mendapat perhatian pasangan. Setelah masa PDKT
barulah masuk ke masa “pacaran” atau kata orang bisa juga masa penjajakan
sebelum terjalinnya hubungan yang serius atau pernikahan. Di masa ini akan
berbeda dengan masa PDKT, ibarat parpol PDKT adalah masa kampanye seseorang
untuk mengumbar janji-janji yang indah dan terkesan sangat mudah untuk
direalisasikan. Percaya atau tidak memang itu yang terjadi. Masuk kedalam masa
pacaran, semakin dekat dan semakin terikat dengan sebuah “komitmen” biasanya
komitmen orang pacaran itu “saling jaga perasaan, terbuka, menjaga komunikasi,
setia dan selalu menjadikan satu-satunya” ya apapun kata-katanya yang jelas
intinya seperti itu. Tidak susah untuk di tebak dan bodohnya selalu terperangkap
dalam komitmen yang pasti akan di langgar salah satunya. Awal pacaran akan
manis, melewati bulan-bulan pertama akan terasa kehangatan. Setelah itu mulai
ada konflik-konflik kecil yang membuat satu sama lain merasa ada perubahan.
Bukan perubahan sebenarnya, tapi itulah sifat asli yang dimiliki oleh pasangan
kita. Banyak pasangan yang memilih untuk mengakhiri hubungan itu dengan alas an
“udah ngga cocok, dia berubah, dia udah beda” itu adalah alas an yang
menggambarkan bahwa sebenarnya dia tidak mampu menerima apa adanya sikap dan
sifat pasangannya. Itu yang menyebabkan hubungan akan terjalin hanya untuk
beberapa bulan saja, atau terkesan sebentar. Dan sebagian pasangan bisa
bertahan dengan keadaan itu, karena mereka mampu mengalahkan egonya untuk menerima
kekurangan satu sama lain.
Ketakutan untuk membangun adalah sebuah konsep yang salah.
Apapun hasilnya, yang akan merubahnya adalah diri kamu sendiri. Lepas dari
keegoisan pribadi. Kegagalan sebuah hubungan bukan sebagai alas an untuk tidak
membangun hubungan lagi. Untuk menjadi berhasil kita harus melewati kegagalan.
Memang tak mudah, tapi mau tak mau itu proses….
Comments
Post a Comment