Aku Tetap Disini (Cerpen)

langit senja bersama kicauan burung menyapaku, dibawah langit yang mulai menguning dia genggam tanganku dengan erat. mata kita tertuju pada sang mentari yang akan segera beristirahat.
"aku suka awal pertemuan kita" ucapnya sembari mengusap tanganku
Aku hanya tersipu malu, ya benar ini adalah kali pertamanya aku betemu denganya setelah sekian lama aku tak melihatnya lagi. Beno, laki-laki riang dengan seribu banyolannya. Tak menyangka akhirnya aku bisa bertemu dengannya lagi setelah sekian lama tak berjumpa, dia bukan orang asing makanya aku mau menanggapinya. Dia kakak tingkatku saat SMP, kami tak pernah bertegur sapa atau berbicara. Aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan, memperhatikan gerak geriknya dengan gerombolannya. Ya maklum lah dia dan teman-temannya adalah pujaan banyak wanita diangkatanku. Mimpi rasanya sekaramg dia bisa duduk disebelahku dan menggenggam tanganku yang aku yakin bahwa ini akan terjadi sementara saja.
Belum terlalu lama, sekitar 2bulan kami dekat ya walaupun hanya melalui pesan singkat tetapi cukup banyak yang kami bicarakan, kami saling memberi perhatian yang sederhana dan ya boleh dibilang PDKT.
"pulang yuk" ucapku sembari melirik jam tangannya, sudah hampir 3jam kami disini dan bergurau. Aku tak mau terlalu larut dalam situasi ini.
Dia hanya menatapku yang bersandar dikursi itu, aku membalas tatapannya tajam dan berakhir pada kecupan mesra yang dia berikan dibibirku dan aku membalasnya. Serasa hari itu banyak bidadari yang membawaku terbang keangkasa, tangannya semakin erat menggenggam tanganku. Aku mulai tersadar dan menyudahinya, ku usap tepi bibirnya dengan jariku sembari menatapnya. Dia tersenyum manis, dan terlihat sangat bahagia. Aku hanya menunduk dan terdiam, aku tak berani melanjutkan tatapan matanya.
"kenapa?" tanyanya sembari mengangkat dahuku dengan lembut pertanda memintaku kembali menatap matanya.
"engga kok, pulang yuk" ucapku gugup sembari membuang muka melihat sekitar.
"haha" tawanya geli
aku berdiri dan beranjak meninggalkan dia, namun tanganya meraihku, aku menoleh dan dia tersenyum
"makasih ya buat hari ini" ucapnya.
aku hanya mengangguk dan terlihat sangat malu. mungkin saat itu mukaku seperti udang rebus atau sejenisnya. Yang jelas mungkin dia tertawa terbahak bahak melihat mukaku.
Aku berjalan mendahuluinya dan dia mengikuti ku dari belakang, hingga sampai diparkiran dan dia membawa ku pilang dengan motor kesayangannya. Aku menyukai saat saat seperti ini, aku bisa memeluknya dari belakang. Ya walaupun hanya menjadi mimpi karna aku tak mempunyai nyali.
Semuanya berjalan dengan indah hampir 3bulan kami menjalani hubungan tanpa status tetapi sangat membahagiakan, sikapnya, tingkahnya, banyolannya, perhatiannya dan caranya memperlakukanku. Aku menyukainya! Dia membantu menutup luka masalaluku, aku bahagia bersamanya walaupun tak ada status hubungan yang jelas, dan ini hanya kami berdua yang tau. Dan beberapa sahabat baikku yang aku percaya, kecupan itu semakin sering kami lakukan. Layaknya sepasang kekasih! Mungkin terlalu murahan, tetapi aku mencintainya untukku tak ada salahnya. Status hanya akan memberi jurang pemisah antara kami berdua, yang jelas dia tetap disampingku aku sudah sangat bahagia. Ya walaupun terkadang ada rasa ingin memiliki dan memberi tau dunia bahwa dia milikku. Namun apa daya, aku hanya wanita yang bisa menunggu tanpa berani memulai. Semua baik-baik saja hingga aku berani menceritakan kegagalan hubunganku dengan masalaluku, semuanya aku ceritakan tanpa kecuali. Aku tak mau ada yang aku tutup tutupi darinya, aku ingin dia menerima ku apa adanya.
Aku tau mungkin aku merusak kebahagian kami dengan membicarakan sesuatu yang melukaiku lagi, namun kapan lagi untuk aku berbagi tentang masalaluku, aku tak memaksanya untuk mendengarkan atau mengerti. Aku juga tak bermaksud untuk melukainya, bagiku masalalu adalah pembelajaran untuk meraih masa depan yang lebih baik bersama Beno. Namun mungkin dia tak dapat menerima semuanya, dia berubah. Dia menjadi dingin, sesekali datang dan sesekali pergi. Aku kehilangannya, sangat kehilangannya.
Namun kegigihan hatiku untuk menerimanya dan menunggunya. Beberapa bulan aku merasakan hancur lagi, sempat aku menyalahkan masalaluku, kenapa harus bersamanya dulu, kenapa harus mengenalnya dan mencintainya.

Malam ku lalui sendiri tanpa ada ucapan selamat malam lagi darinya, sesekali dia mengucapkan dan terus hilang ditelan bumi. Beberapa teman baikku berusaha membuatku kembali bergairah untuk melalui hari dengan mengenalkan teman laki-lakinya untukku, namun tak ada yang bisa mengambil hatiku. Hanya Beno yang ada diotakku, perlakuannya yang selalu aku ingat! Bahkan isi pesan singkatnya saja aku masih hafal. Padahal sudah ratusan pesan yang kami kirimkan. Tangisan dan amarahku menumpuk, sasarannya hanyalah kanfas! Aku menggambar dan terus meneteskan air mataku! Atau nyanyian senduku disetiap lamunan ku diiringi derasnya air hujan yang menemaniku.
Hari itu, hari paling menyakitkan. Aku bersama beberapa temanku sedang makan malam disebuah cafe dan ternyata aku bertemu dengannya, jas hitam, kaos t-shirt dan sepatu andalannya. Sangat tampan! Aku tersenyum melihatnya dari kejauhan, dia membawa bouqet bunga yang indah aku semakin mendekatinya dan aku melihan seorang wanita yang sangat cantik sangat amat cantik mengenakan dress tanpa lengan berwarna soft pink, dengan rambut ikalnya  terurai bebas tanpa aling aling apapun. Beno menggenggam tanganya dan mengutarakan isi hatinya, aku mendengarkannya dan melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Aku hampir mati lemas dibuatnya, jantungku sesak dan mataku mulai mengeluarkan air mata. Aku berjalan mundur dan duduk disebuah kursi denga teman-temanku yang diam seribu bahasa sembari membelaiku berusaha menenangkanku. Aku tak mau mengganggu kebahagiaannya malam ini, dayung bersambut wanita itu menerimanya dengan senang hati. Mereka berdua resmi berpacaran tepat didepan mataku malam ini. Aku menangis dan terluka, aku juga sadar dia tak tau akan keberadaanku. Kalau dia tau mungkin dia akan mengurungkan niatnya untuk mengutarakan isi hatinya dengan wanita lain. Sorak sorai orang-orang melihat Beno dan kekasihnya berpelukan mengiringi kepedihanku.
"Pulang aja yuk Del?" ajak temanku
Aku hanya menggelengkan kepala "aku mau memberi selamat" ucapku sesak
"iya tapi bukan sekarang waktunya" balas Bianka
"engga" jawabku sembari beranjak dari kursiku dan menghapus air mataku dan mendekati arah Beno
"hay kak, cie selamat ya?" ucapku sembari tersenyum lebar
Beno menatapku kaget, dia bingung akan keberadaanku mungkin.
"hay kenapa bengong? selamat ya?" tambahku sembari menjulurkan tangan
"iya makasih ya Della, udah dari tadi?" ucapnya sedikit gugup
"haha iya aku liat kok tadi kaka nembaknya, jadi ini kak:"ucapku bergaya tak tau apapa
"hey, Rifka." sembari menjabat tanganku
"selamay ya, beruntung pacaran sm kak beno!" ucapku
"oya aku pulang dulu ya? kalian enjoy aja deh. Bye" ucapku tertawa riang dan meinggalkan mereka
Aku berbalik badan dan air mataku yang aku tahan kembali bercucuran dan memilih untuk pergi dari cafe itu. Aku mengendarai motor kesayanganku dan memilih untuk mengelilingi kota ini, namun entah kenapa aku menjadi kearah taman kota. Tempat pertama yang mempertemukanku dengannya, aku duduk di kursi taman yang sama seperti dulu. Mengingat dan menyesali semuanya. Cukup lama aku terteman sepi dan air mata ditempat itu. Cukup tenang sekarang perasaanku dan aku memutuskan untuk kembali kerumahku, dan ternyata aku melihat Beno sudah ada didepan rumah.
"ngapain kak? masuk gih" ucapku tanpa da masalah apapun
Dia menikutiku hingga sampai diruang tengah rumahku, tempat biasa kami berbincang menghabiskan waktu berdua jika tak ada tujuan untuk pergi.
"Della, aku mau jelasin"
"masalah tadi? haha gakusah kak, aku ikut seneng" ucapku
"Aku tau aku salah, tapi..."
"emang lebih baik kaya gini kan kak?Kamu denga hidupmu dan aku dengan hidupku? Gapapa" ucapku menahan air mata
"maafin aku" ucapnya sembari meraih tanganku, namun aku segera menarik tanganku dan mengusap air mataku. Dia memelukku dengan erat, maksudnya ingin menenangkanku. Namun yang terjadi aku malah semakin menangis, cukup lama aku didekapnya. Namun setelah aku merasa cukup aku melepaskan pelukannya dan berdiri.
"mulai sekarang, kamu pergi dama dia tanpa peduliin aku. Gak usah mikiri aku gimana-gimana. aku coba buat kuat kak, aku sayang sama kamu dan aku pengen kamu bahagia. Gakusah mikirin aku! Nanti kalau kamu kerasa butuhin aku, dateng aja kesini. Aku bakal ada buat kamu. Tapi tolong, jangan liatin kemesraan km sama dia didepan aku" ucapku
"Della...."
"kapanpun kamu berubah pikiran atau kamu butuhin aku. Aku bakal tetep ada buat kamu. Aku setia nunggu kamu balik, tapi kalau suatu saat nanti ada yang bisa mengambil perhatianku dan membuat aku bisa berpalin, maaf aku bakal ikut pergi dari cerita kita" ucapku dan meninggalkannya sendiri.

Cintaku tak berharap kamu disini, untukku dan mengarungi waktu bersamaku. Pergilah dengan dia yang lebih sempurna dan dapat memberikanmu kebahagiaan yang abadi. Aku mencintaimu, hingga aku dapat menemukan dia. Tapi jangan takut, semua kenangan kita akan tertata rapi dirak yang indah. Datanglah jika kamu menangis dan pergilan jika kamu bahagia. Aku tetap disini.....

Comments

Popular Posts