Kian (part 1)

Ku tatap kupu-kupu indah itu, terbang bebas mengitari langit yang indah tanpa ada beban dan rasa takut. Kepakan sayanp cantiknya membawanya pergi jauh dari hadapanku. Entah kemana dia terbang, mungkin saja mencari cintanya yang sedang menyusuri awan biru.
Terdiam aku ditepi danau tempat aku berjanji dengan kekasihku. Andri namanya, dia seorang laki-laki yang dingin dengan orang-orang yang tidak dia kenal, namun hatinya sangat lembut. Aku sangat tahu kalau dia sangat mencintaiku. Ini terbukti dengan lamanya kami berpacaran. Sudah hampir 4 tahun kami bersama, suka duka dan tawa canda kami lewati bersama. Pertengkaran dan adu argumenpun sering terjadi. Namun itu tak membuat kami bertengkar hebat dan memutuskan untuk berpisah, namun untuk kami ini semua adalah bumbu yang harusnya memang ada dalam setiap hubungan. 20menit aku menunggunya yang tak kunjung datang, ku lirik jam tangan kesayanganku. jam sudah menunjukkan 17.23. Tidak seperti biasanya dia terlambat datang untuk menemuiku, hatiku mulai gelisah dan aku mulai mengambil HP dan bermaksud untuk menelponnya. Namun saat bersamaan, mataku ditutup dengan dua buat tangan laki-laki yang sudah ku tebak kalau dia Andri, aroma parfumnya sudah membuatku mengenalinya walaupun takku dapati dia di hadapanku.
"gelap ah!" ucapku sedikit bernada manja
"yah, ketauan kan. maaf ya telat" ucapnya sembari membuka mataku dari dekapan tangannya dan dia berikan setangkai mawar putih tepat dihadapanku.
"caranya pinter ya. dibeliin bunga biar engga marah" jawabku tersipu malu dan menerima bunga yang dia belikan
"haha engga kok, aku telat karna nyari bunga itu tadi. maaf ya" jawabnya sembari duduk disebelahku dan sedikit memberantakkan rambutku seperti biasanya.
Aku hanya mengangguk dan tersenyum sembari berkata "terima kasih sayang"
Kami habiskan waktu berdua, bergurau bercerita tentang perkuliahan kami yang berbeda prodi dan fakultas walaupun di satu universitas yang sama. Baru saja kami melangkahkan kaki di perguruan tinggi, walaupun ada sedikit perdebatan diantara kami dengan jurusan yang aku ambil. Dia mengharapkan ku untuk mengambil psikologi bersamanya, namun aku tak mau. Aku bertekat untuk menjadi seorang guru SD seperti mamaku yang sudah meninggalkanku saat aku berada dibangku SMP saat itu. Mau tak mau Andri menerima keputusanku, ya walaupun sampai sekarang masih terasa sekali ketidak sukaannya terhadap prodi yang aku ambil.
Semua berjalan seperti biasa, kami lalui hari-hari dengan penuh suka cita. Aku dan dia selalu bersama, kami berangkat kuliah dan pulangpun berdua walaupun saling menunggu jika kami tak mendapatkan waktu pulang yang sama. Hampir semua mahasiswa baru Psikologi dan PGSD tau tentang hubungan kami. Bahkan Andri sudah memiliki banyak teman laki-laki di prodiku, ya katanya untuk menambah penjagaanku agar tak ada yang berani menggangguku. Andri memang sosok laki-laki yang protectiv alasan yang sangat sederhana katanya "aku engga mau kamu pergi tiggalin aku" setiap kali aku mempertanyakan akan sikapnya.
Suatu hari Andri tak dapat mengantarkan ku pulang karena mendadak dia mengerjakan tugas presentasi yang harus selesai besok pagi dan aku harus melakukan pekerjaan sampinganku selain menjadi mahasiswa. Aku juga seorang foto model. Ya bukan untuk mencari uang, tetapi untuk menyalurkan hobiku. Akhirnya aku pulang sendiri, aku berjalan menyusuri lorong kampus berniat untuk keluar dan mencari taxi. Namun saat yang bersamaan, aku melihat seniorku yang sempat membuatku terpesona saat malam kreatifitas dengan gitar dan lagu yang membuat semua orang merinding. Ya tanpa dipungkiri aku menaruh simpati untuknya, aku mengaguminya seperti teman-temanku yang lain. Mataku memperhatikannya yang berjalan didepanku, namun tiba-tiba dia berhenti dan menoleh kearahku. Dia lemparkan senyuman hangatnya kepadaku sembari menyapaku "Kian belum pulang?"
Darimana dia mengetahui namaku? Aku tak pernah ingat kapan kami berkenalan atau aku menyebut namaku didepannya.
"ini baru mau pulang" jawabku tersipu dan reflek berhenti disampingnya
"naik apa? aku anterin aja ya?" tanyanya membuatku berdegup kencang
"engga usah kak, aku bisa naik taxi kok. duluan ya kak" jawabku sembari melanjutkan langkahku menuju depan kampus dan mencari taxi.
Hampir 30 menit aku menunggu taxi tak ada yang kunjung datang, kulirik jam tanganku.
"duh udah jam 3 lagi. telat nih" omelku sendiri karena ketakutan akan terlambat sampai dilokasi pemotretan yang lumayan jauh dari kampus.
"bareng aku aja dek" ucap seseorang yang membuatku kaget bukan kepalang
"yaampun kak, bikin kaget beneran" jawabku dengan wajah yang sudah berantakan
"sory sory. kamu keburu-buru banget ya? tampangnya bingung banget sih" tanyanya
"iya nih kak, ada kerjaan jam stgh 4 tapi jam segini belum dapet taxi" jawabku kebingungan
"makanya bareng aku aja yuk, aku anterin" tawarannya untuk kesekian kalinya
Aku hanya terdiam, namun tangannya menarikku menuju mobilnya yang tak begitu jauh dari tempatku menunggu
"dari pada telat?" ucapnya singkat sembari membukakan pintu mobil untukku
"makasi" jawabku.
Dia mengantarkan ku hingga samapi tempat tujuan ku dengan selamat dan tanpa dia menggangguku sedikitpun. Kami hanya berbincang basa-basi ya tak begitu penting.
Waktu terus berjalan, dan Andri tak mengetahui sedikitpun tentang Kak Doni. Seiring berjalannya waktu, aku dan Andri sama-sama sibuk dan kami sedikit jauh. Entah sebenarnya yang terjadi ini, namun difikiranku hanya karna tugas kami yang sangat banyak dan sangat menyita waktu menyebabkan kami terkesan agak jauh. Yang biasanya dia mengantar jemput sekarang tidak seperti dulu lagi, bahkan dikampus pun kami jarang sekali bertemu.
Semua berjalan begitu saja dan tanpa diduga kedekatanku dengan kak Doni semakin berlanjut. Aku dan dia sering bertemu, bertegur sapa saling melempar senyuman dan dia sering menghampiriku saat aku sedang makan bersama teman-temanku di kantin. Diluar area perkuliahan dia juga sering menghubungiku, dia menelpone dan mengirim pesan singkat kepadaku.
Dari sinilah semuanya menjadi jauh lebih berbeda, kesalahanku yang menanggapi Doni lebih jauh dan kehadirannya mengisi hariku yang kosong akibat hubunganku yang semakin menjauh.
Sikap Doni jauh lebih menyenangkan, denganku, dengan semua orang bahkan dengan teman-temanku pun dia juga sangat terbuka. Berbeda dengan Andri, perlahan aku mulai menyukai Doni. Secara fisik memang dia jauh lebih tampan dari Andri dan tak ada yang kurang dari dirinya. Aku mulai tergoda, aku mulai berfikir bagaimana kalau aku menjadikannya kekasih gelapku dibelakang Andri. Aku membutuhkan perhatian dari seseorang yang sudah tak diberikan Andri, aku juga berfikir ahwa Andri juga sudah mulai memiliki kekasih baru. Dan benar, 3bulan perkenalanku dengan Doni akhirnya kamipun menjalin kasih diam-diam dibelakang Andri. Hubungan yang menyenangkan dengannya, dia selalu memanjakanku dengan barang-barang mewah dan buaian-buaiannya yang sangat membuatku merasa menjadi seorang yang spesial!
Tanpa kusadari, aku sedikit melupakan Andri, ya walaupun kami masih pergi berdua seminggu sekali atau bahkan dua minggu sekali. Sesempatnya kami bertemu dan aku juga tidak berusaha untuk mencari celah kami bertemu, saat dia mnegajakku pergi ya aku turuti. Terkadang aku mencari seribu alasan untuk tidak pergi dengan Andri dan memilih untuk pergi bersama Doni. Doni tau tentang Andri dan dia tak memasalahkan apapun, dia bahkan membiarkan aku untuk menjalani hubungan seperti ini dengan Andri. Dia pernah bilang "selagi kamu bisa bahagia kenapa engga? asal kalau lagi sama aku jangan bahas dia ya?" terkesan konyol namaun ini yang terjadi. Ku nikmati hubungan ini, benar-benar ku nikmati! Aku dicintai dua laki-laki yang juga aku cintai. Ya walaupun entah bagaimana aku bisa menjalani hubungan ini dengan membagi hati yang sangat tidak adil.
Hingga malam itu datang, aku dan Doni bertengkar hebat karena dia mengkhianatiku. Egois memang kalau aku marah atas sikapnya. Aku dan dia memang berkomitmen untuk tidak membatasi siapapun untuk menjalin kasih dengan dia ataupun aku, namun yang membuat aku marah adalah dia berbohong dan berpura-pura setia.
"kenapa jadi nyalahin aku? bukannya kamu juga punya Andri kan?" ucapnya kasar
"dari awal kamu tau aku dan Andri memang sepasang kekasih dan kita pernah membahasnya dulu! Dan sepertinya kamu tak keberatan"
"lantas kalau kamu bisa mendapatkan dua cinta, aku tak boleh? aku memberimu izin untuk merasakan cintaku dan cintanya!"
"aku tak melarangmu untuk berbagi cinta! Namun katakan sejujurnya denganku. Aku tidak suka kamu membohongi ku!"
"Aku tak pernah mau tau tentang kamu dan Andri. Kenapa kamu mau tau tentang aku dan dia?"
"kamu..."
Pertengkaran hebat terjadi dan kami mengalami kecelakaan hebat pula. Entah apa yang terjadi, yang aku tahu adalah aku terkapar dirumah sakit dengan banyak kabel-kabel warna-warni terpasang didadaku, infus, oksigen! Saat mataku terbuka, yang aku lihat hanya ruangan kosong yang menjijikan! Rumah sakit yang paling aku benci.Tiba-tiba ada sosok laki-laki yang memasuki ruanganku dan memandangku tajam. Ya itu Andri, dia mendekatiku berjalan dengan berat dan menatapku. Kenapa Andri yang ada disini? Kalau begitu Doni mana. Aku takut Andri mengetahui kejahatanku kepadanya.
"kamu udah bangun?" sapanya sembari mencium keningku dan duduk disebelahku sembari menggenggam tanganku
Aku takut untuk berkata-kata, terlebih lagi aku merasa masih sangat lemas dengan keadaanku. Aku hanya melempar senyum dan mengusap rambut kekasihku.
"aku tahu semuanya" ucapnya sembari tetap menggenggam tanganku
"maksudnya?" tanyaku ketakutan
"aku tahu hubunganmu dengan Doni laki-laki bajingan itu." ucapnya
"Andri maafin aku, aku hanya..."
"aku mencintaimu lebih yang kamu tahu dan kamu rasakan. Aku memaafkanmu dan akan menjagamu sampai kamu sembuh" jawabnya tegas dengan mata memerah
"sampai aku sembuh? lalu kamu akan meninggalkanku begitu saja saat aku sudah kembali pulih?" tanyaku
"iya" jawabnya singkat
Entah apa yang aku rasa, namun ini sangat membuatku terluka lebih dan lebih! Rasanya ada balon besar didadaku yang mengembang dan menghambatku untuk bernafas. Air mataku menetes, hatiku hancur. Penyesalanku memuncak dan aku ingin tak akan sembuh dari kejadian ini.
"aku tahu aku berbuat salah dan itu sangat melukai perasaanmu. Namun apakah sudah tidak ada kesempatan untuk ku membenahi kesalahan ini?" tanyaku sembari menangis sesak
"jangan menangis. Aku bukan tak mencintaimu, aku memang terluka. sangat terluka kalau kamu tahu. Kesetiaanku selama ini ternyata kau balas seperti ini. Aku hanya ingin membuatmu bertanggung jawab dengan apa yang kamu lakukan." ucapnya sembari mengusap air mataku dan jarak wajah kami hanya ada 6centimeter, nafas beratnya terasa diwajahku. Dia mengecup keningku dan pergi meninggalkan aku keluar dari kamar untuk memanggil tim medis.
Hari berlalu, ternyata dokter mendiaknosa aku mengalami kelumpuhan permanen di kaki ku akibat benturan keras saat kecelakaan itu. Bisa dibayangkan, betapa sakitnya hatiku saat ini. Aku kehilangan semuanya, semuanya! Karierku, kekasihku dan kakiku. Ini hanya karna cinta sesaat yang aku rasakan, godaan setan yang aku turuti!
Pagi itu dengan kaki baruku, ya kursi roda aku duduk ditaman rumah sakit sendirian, aku melamun dan melihat indahnya pagi. Kulihat sepasang burung terbang melayang dan terus berkicau. Kapan aku bisa mengikuti mereka, berlari dan bernyanyi seperti dulu dengan keadaan normal! Tiba-tiba Andri menggetkanku dengan kedatangannya. Dia mendapatiku menangis lagi pagi itu, entah setelah tabrakan maut itu aku berapa kali menangis. Kantung pada mataku mungkin sudah seperti kantung yang dibawa santa saat membagikan hadiah dihari natal.
"jangan sedih! Kamu bisa sembuh kok, aku udah minta dokter untuk melakukan terapi. Walaupun kata mereka percuma, aku tetap akan mencobanya" terangnya
Aku hanya tersenyum. Bukan kaki ku yang aku tangisi, aku menangisi kebodohanku melukaimu sayang.
"kenapa semakin merengut wajahmu sayang? terlihat tidak secantik biasanya."ucapnya menggoda
"aku takpapa tak memiliki kaki untuk berjalan. Aku tak mau sembuh"ucapku
"kenapa?"
"Karena jika aku sembuh, itu tandanya aku harus kehilangan kamu" jawabku sembari menatap matanya
Dia hanya menunduk dan mencium tanganku
"dengar sayang, aku hanya ingin yang terbaik untuk kamu"
"yang terbaik untuk aku hanya menjalani ini dengamu dan aku tak memiliki kaki tak masalah" ucapku mantab
"aku tak mau repot mengurus wanita bekursi roda. ayo kita mulai terapinya" ucapnya ketus dan mendorong kursi rodaku pergi untuk terapi.

Comments

  1. BUUUN LANJUTIN CERITANYAAA DONG :""))) MENYENTUH BANGET SUMPAH :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts