Awal Cerita Cinta


"ih males banget deh sumpah! sok keren banget sih ya, emang putus sama lo terus gw mati gitu? Ish ngimpi!" ucapku menggumal saat aku membaca pesan singkat dari buaya darat itu.

Hallo, kenalin aku Gishel Candra seorang gadis feminin dengan gaya judes dan galak. Sebenarnya bukan begitu sifat asliku sebelum aku bertemu dengan cowok sadis bernama Irwan Sanjaya. Dia kakak seniorku saat SMA, laki-laki keren, dengan band famousnya disekolah. Kami menjalani hubungan cukup lama, semenjak aku duduk di bangku SMA hingga awal kelas 12. Dua bulan lalu, aku memergokinya sedang berduaan dengan seorang wanita cantik disebuah tempat makan, disitulah hubungan kami berakhir. Sering kali aku mendengar rumor Irwan adalah seorang buaya darat dan sebenarnya aku pun sering memergokinya merayu wanita lain entah dengan segala tipu daya yang dia punya sehingga membuatku kembali mempercayainya. Tapi untuk sekarang tidak lagi. Aku lebih memilihnya pergi jauh dari kehidupanku sekarang.

"Shel! Gishel!! ih ni anak, liat tuh Irwan pacarnya baru lagi!" tegur Iget sahabatku.
"apa sih? Bodo amat ah, enggak penting" ucapku
"lo gak gengsi Shel? Irwannya aja udah punya kecengan baru, lo kapan nyusul?" sambung Kristin
"terus maksud lo? gw harus cari kecengan buat panas-panasin Irwan? ih ogah!! kasihan cowoknya cuma buat pelampiasan doang, Lagian gw mau fokus UN kawaaaaa!" jawabku kesal
"ya bukan gitu Shel. maksud kita, kapan lo mau move on?!" kata Kristin
"kapan-kapan kalo udah ketemu pangeran ganteng!" jawabku ketus

Aku mulai memikirkan apa yang diucapkan kedua sahabatku, kuambli minuman yang sudah ada dimeja cafe didepanku sembari aku melamun. Tiba-tiba aku mendengar seseorang menyapaku
"hay Shel. gimana kabar?" ucap seorang laki-laki yang mengagetkanku
"Irwan? Hey, baik kok" jawabku aneh
"oh bagus deh, eh ini kenalin. Dia Riska pacarku. Sayang ini Gishel" ucapnya memperkenalkan kekasih barunya.
"hey, Gishel" jawabku sembari memperkenalkan kedua sahabatku tadi
"oiya cowok lo mana Shel?" tanya Irwan mengagetkanku
"oh cowok gw? em dia.. diakan anak Bandung, jadi ya di Bandung sekarang" ucapku meyakinkan Irwan
"asli gw kenapa sih?! ngomong apa gw?!!! mampus deh gw" ucapku dalam hati.
"oh LDR ya? hehe, enggak takut diselingkuhin?" ejek Irwan
"enggak juga sih, Jakarta Bandung enggak jauh-jauh banget kok. enggak kok, cowok gw enggak playboy kayak...." belum selesai aku bicara tiba-tiba Kristin menarikku
"Gishel, kita kan ada janji sama orang salon. Udah jamnya nih, yuuuk"
"Irwan, Riska duluan yaaa" pamit Iget sebari mengajakku pergi

Mereka mengajakku pergi dari hadapan Irwan dan kekaihnya itu. Kedua teman-temanku habis-habisan memarahiku atas ucapanku yang terlontar begitu saja didepan Irwan tadi. Akhirnya mereka mengajakku untuk pergi ke Bandung, mencari seseorang yang cocok untukku diajak kerjasama.

Esok harinya aku dan kedua sahabatku menuju Bandung, karena Bandung adalah tanah kelahiranku dan baru SMA kemarin aku pindah ke Jakarta sehinggak aku hafal dengan jalan menuju Bandung. Kebetulan ini adalah waktu liburan akhir smester ganjil sehinggak aku dan teman-temanku dapat sembari berlibur di kota Kembang itu. Sesampainya kami diBandung, kami langsung menyambangi mall, cafe, dan tempat-tempat nongkrong anak muda Bandung. Namun taksatupun ada laki-laki yang mampu membuatku meliriknya. Sudah tiga hari berlalu, kedua sahabtaku malahan mendapatkan kenalan sendiri dan aku tetap tak mendapatkan sosok laki-laki yang bisa aku pamerkan didepan Irwan.
Hingga siang itu aku putuskan untuk berjalan-jalan sendiri disebuah mall yang dulu sering kusambangi saat aku masih tinggal di Bandung. Saat aku berjalan dengan melihat sekeliling ku dengan baju-baju yang membuatku fresh, tiba-tiba seseorang menabrakku

"awww" kataku sedikit membentak
"sory, sory gw gak...."
"Gishel?" ucap laki-laki itu
"Dika?" jawabku kaget

Iya dia sahabatku dari kecil sejak TK sampai SMP kami bersama-sama namun saat pertengahan kelas 9 kami berpisah, kedua orang tuanya memaksanya untuk meneruskan sekolahnya di Singapore dan aku melanjutkan sekolah ku ke Jakarta. Dia mengajakku kesebuah tempat makan di mall itu, kami berbincang tentang pengalaman kami yang kurang lebih 3tahun tidak bertemu. Dia laki-laki tampan, seorang penyanyi juga sepertiku. Dulu kami pernah bergabung dalam grup vokal bersama. Dia lucu dan penuh dengan banyolan yang membuatku tertawa disampingnya. Sebenarnya dia sosok laki-laki yang mesra dan selalu menjaga wanita yang ada disampingnya, namun entah apa yang terjadi aku tak melihat banyolan dan sikap mesranya sekarang. Tiba-tiba seorang wanita mungil menghampiri kami berdua

"Dika? sama siapa?" ucap wanita ungil itu dengan ketus
"Ini Ghisel, Gishel ini Marsya" jawab Dika sambil memperkenalkan aku dengan wanita itu.
Aku mencoba menggulurkan tanganku, namun dia tak mau menjabat tanganku. sepertinya dia sedikit membenciku. Siapa wanita ini? Tanyaku dalam hati
"Lo siapanya Dika?" tanya Marsya sedikit membentak
"gw..." belu selesai aku menjawab pertanyaan Marsya tiba-tiba Dika memotong ucapanku
"Dia pacar gw, orang Jakarta. tapi lagi liburan di Bandung" jawab Dika yang mengagetkanku, tangannya merangkul pinggangku dan sedikit mencubitku seakan dia menyuruhku mengiyakan ucapanya tadi.
"iyaaa, gw pacarnya Dika" jawabku
"ini pacar lo? lo yakin Dik?" sahut Marsya
"kenapa? ada yang salah?" jawab Dika dan Marsya pun langsung pergi meninggalkan kami.

Sesaat setelah Marsya tak terlihat didepan ata kami berdua, aku melirik Dika
"lo kenapa sih shel? ngeliatin gw gitu banget" jawabnya yang mulai risih dengan lirikanku
"iya maaf maaf, habis gw sebel sih ada cewek ganjen gitu. maaf ya shel" sambungnya
"dan kalo jadi tambah ribet gara-gara ulah lo gimana?" jawabku santai
"ayoo lah shel, bantuin gw ngehindarin tu ceweek" ucap Dika memohon
"oke tapi ada syaratnya" jawabku.
Setelah itu aku menjelaskan apa yang menyebabkan aku kembali ke Bandung untuk beberapa hari ini. Aku menawarkan Dika sebuah sandiwara yang sepertinya cukup hebat.
"gimana? deal? lo bantu gw, gw bantu lo"
"oke" jawab Dika

Kami merencanakan apa saja yang harus kami lakukan untuk membuat Marsya dan Irwan lenyap dari kehidupan kami. Jalan pertama adalah jejaring sosial!
Kami menujukan kemesraan kami di jejaring sosial aku tulis di twitterku “ my lovely boy @dikaramadhan Ô„(ˆˆԅ)” dan sebaliknya. Dikapun menunjukan acount twitternya  my lovely girl @gishelcandra Ô„(ˆˆԅ)” kami meang sengaja memasang hal yang sama di profil kami.
“shel, upload foto yok” ajaknya.
“yaudah upload aja gih” jawabku polos
“ya sama elu lah oneng” jawabnya.
“oh ngajakin gw? Yaudah yuk. Foto box aja ya?” ajakku
Kami menuju tempat foto box dimall itu, banyak foto yang kami hasilkan hari itu belum ada 30menit sudah hampir 20 foto yang kami hasilkan. Setelah puas kami berfoto Dika mengajakku ke sebuah tempat makan diluar mall, tempat aku dan Dika sering nongkrong saat SMP dulu.
“mampir sini dulu ya shel, upload nih foto dulu ya?” ucap Dika sembari menggandengku yang baru saja turun dari mobilnya.
“iyaaaaa” jawabku singkat
Kami berbagi tugas, dia upload di Facebook dan aku upload si twitter
“yaampun Dika, liat nih yang mention gw buanyak buanget! Nih liat nih “kak @gishelcandra pacarnya kak @dikaramadhan yang baru ya? Cantik banget” yaampun Dika fans lo banyak banget” ucapku kaget
“jawab apa ini? Yang mana dulu?” tambahku bingung.
“udah cuekin aja dulu, entar kalo sempet yang enggak kelelep lagi dibalesin” ucap Dika sembari tertawa
“yaampun Dika, gw lupa lo artis youtube ya? Yaampun” jawabku mengejeknya
“sialan lo! Ababil. Haha” jawabnya.
Dia memberiku garis besar gimana jawab mention ataupun comen dijejaring sosial ku dari fans-fansnya yang tergabung di Dikanizer. Seperti apa yang kubilang tadi, dia emang seorang penyanyi sama sepertiku namun bedanya dia lebih eksis karena dia memang berjiwa seorang entertan sejati. Kami terus berbincang-bincang dari a sampai z. Aku ulai merasa lelah, karena ternyata sedah pukul 3 sore. Aku mengajak Dika pulang dan Dikapun mengantarjanku pulang kerumahku di Bandung.
Sesampainya dirumah, ternyata teman-temanku sudah menungguku didalam.
“Gishel!! Darimana aja sih lo?” tanya mereka bersamaan
“pulang sama siapa tadi?” tambah Iget.
“cowok ya? Ganteng gak?” sahut Kristin
“ini kalian kenapa sih ya? Ribet banget deh, bawel!” ucapku
“ih Gishel!!! Siapa dia? Jangan mentang-mentang ini tanah air lo ya bisa pergi sama cowok seenaknya!” jawab Kristin menanggapiku dan menyenggol tasku  yang terbuka, foto-foto hasil fotobox aku dan Dika pun jatuh berhamburan di lantai
“tu kan jatoh! Kalian nih aha ngebet banget” ucapku sambil mengabil foto-foto yang berserakan.
“Shel, ini siapa? Mesra banget! Ehyaampun ganteng banget shel!” ucap Iget yang merebut foto itu dari tanganku.
“tuhkan Gishel busuk, enggak mau cerita sama kita” sambung Iget
“gimana mau cerita orang kalian bawelnya setengah mati gitu!” jawab ku
Akhirnya aku menceritakan semua kejadian yang terjadi tadi siang yang membuatku pergi seharian. Teman-temanku yang sangat bahagia dengan kabar itu engajakku untuk erayakan kesuksesan ini disebuah cafe malam nanti, sebenarnya aku lelah tapi ya sudahlah apa boleh buat ini cara mereka menuangkan kegembiraan atas keberhasilan ku mendapatkan “pacar” yang hanya sekedar sandiwara.
Malam itu kami bersiap kesebuah cafe entah siapa yang menuntunku untuk membuka lemari pakainaku dan mengambil sebuah rok mini hitan dan sebuah kemeja tanpa lengan dan berwarna pink soft. Rambut coklatku yang ikal kubiarkan terurai begitu saja, aku mulai memoles wajahku dengan taburan bedak tipis dan lipsglos pink muda yang menghiasi bibir mungilku. Sepatu wedges warna krem yang membuatku menutupi tubuhku yang tidak terlalu tinggi ini semakin membuatku percaya diri. Aku melangkahkan kakiku turuk dari lantai dua, menuju tempat teman-temanku menungguku.
“Gishel? Cantik banget lo. Udah lama gw gak liat elu sekece ini. Ha ha, efek jatuh cinta ya shel?” sapa Kristin yang selalu memperhatikan penampilanku itu
“ah apaan sih kalian ini. Udah yuk berangkat!” jawabku
Kami berangkat menuju cafe yang kami maksud, Iget menyetir mobil mungilku berwarna putih itu dengan kencang yang selalu membuat ku dan Kristin jantungan. Sesampainya dicafe itu, aku melihat mobil hitam sport milik Dika. Segera aku mengambil HP ku dan mengirimkan sebuah pesan untuk Dika
*GishelCandra ♥
“Dika lagi di Paris Cafe ya? Gishel liat mobil Dika diluar. Haha, enjoy ya “pacar” (‾‾) “
*DikaRamadhan ♥
“Iya nih sayang. Yaudah sini gabung aja \(´`)/ sini sini “ balasnya yang baru aku buka saat masuk ke cafe itu.
Aku hanya tersenyum melihat balasan sms Dika tak sempat ku membalasnya, Iget dan Kristin mengajakku kegrombolan anak muda Bandung dan ternyata mereka adalah kenalan Iget dan Kristin.
“hey!” sapa Iget kepada segerombolan anak muda itu
“heyyy” jawab mereka
Mereka saling bertegur sapa, tiba-tiba Dika datang dari arah kamar mandi dan menyapaku yang sedang berkenalan dengan teman-teman baru Iget dan Kristin.
“sayang?” sapa Dika mengagetkanku
“Lo kenal Dik sama temennya Iget?” ucap salah satu sehabat Dika
“ini cewek gw yang baru broo” jawab Dika merangkulku dan mencium keningku
Hah? Apa ini, dia mencium keningku didepan banyak orang yang ada diCafe ini? Tuhan, Dika benar-benar gila.
Dika mengajakku duduk disampingnya, tanganku digengamnya terus tanpa pernah dilepaskannya. Kami bergurau habis-habisan hingga seorang yang ada diatas panggung kecil ditengah-tengah Cafe itu memanggil nama Dika untuk maju keatas panggung.
“bentar ya” ucapnya berpamitan kepadaku
Untuk apa Dika dipanggil disana? Baru kusadari tempat yang kami tempati ini spesial dibanding tempat-tempat yang lain.
Terdengar teriakan cewek-cewek ABG yang mengelu-elukan nama Dika yang telah memenuhi depan panggung tempat Dika berdiri.
“haloo semua, malam ini spesial banget buat Dika. Karena banyak banget Dikanizer yang tetep setia dukug Dika disini, dan yang lebih bikin Dika seneng lagi. Ada cewek cantik yang akhirnya bisa temenin Dika manggung malam ini. Oke lagu pertama untuk kalian semua dan spesial buat Gishel “Marry You” “
“aaaaaaaaa kak Dika, we heart you” teriak fans Dika yang rata-rata cewek ABG.
“cieeee so sweeeet ih Dikanya ke Gishel” ejek teman-teman yang membuatku semakin tersipu
Dika menyanyikan lagu kesukaanku dengan indah dan membuatku semakin tersipu saat melihatnya melemparkan senyum indahnya dari atas panggung. Hatiku bergetar hebat. Dika menyanyikan 3 buah lagu yang indah dan sangat menghibur semua yang ada disini. Dika turun dari atas panggung dan dia menghampiri kami ditempat yang tadi, dia berdiri didepanku, mengulurkan tangannya yang berniat menggengam tanganku. Aku menegrti maksudnya, aku meraih tangannya dan menggenggam erat tangannya, dia membelai rambutku dan segeralah dia mencium keningku untuk kedua kalinya dan duduk disebelahku. Jujur aku tak menyangka perlakuan Dika sejauh ini, aku menyukai perlakuan Dika kepadaku, aku dibuatnya seperti orang yang paling beruntung didunia. Aku tersenyum malu dan mulai terbawa suasana mersra yang dibuat Dika. Ku sandarkan kepalaku dipundaknya, kita merangkulku dan membelai rambutku sembari bergurau dengan teman-teman yang lain. Tiba-tiba saat aku berniat kekamar mandi ada seserang yang menarik tanganku dan menaparku dengan keras
“awww” teriakku
“eh lo apa-apan sih!” bentak Dika dan memelukku
Ternyata wanita itu Marsya.
“gw enek liat nih cewek keganjenan sama elu Dik, gw perhatiin kalian dari tadi. Nih cewek bikin gw gregetan!” bentak Marsya
“lo enggak ada hak ya buat cemburu sama siapa aja! lo bukan siapa-siapa gw! Ngerti?! Gw peringatin lagi ya sama lo, kalo ampek lo nyakitin calon tunangan gw lagi, gw gak segen-segen bikin perhitungan buat lo!! Ngerti?!” bentak Dika dengan nada yang mulai terbawa emosi
“Dika udah biarin aja” ucapku
Dika menarik tanganku untuk pergi meninggalkan Marsya dan teman-teman yang lain.
“Dika, gw masih sayang sama lo?! Gw gak relalo jalan sama cewek lain!!” teriak Marsya yang membuatku kaget.
“apa?” ucapku
“cewek gila, udah biarin aja!!” ucap Dika yang mulai terbawa emosinya.
Dia mengajakku menuju parkiran mobil dan ternyata disana Dika sudah ditunggu oleh Dikanizer, fans-fans Dika yang bermaksud untuk berfoto dan meinta tanda tangan Dika.
“kak Dika, foto bareng boleh kak?” ucap salah satu cewek itu yang sepertinya aku kenal.
“lho, kak Gishel?” ucap fans Dika kaget.
“iya ini Gishel, kamu kenal? Jadi fotonya? Yuk sini foto” Sapa Dika
“iya kak, kak gishel pacarnya kak Dika yang baru ya?” tanyannya
“iya sayang” jawabku sembari tersenyum kepadanya.
Cewek itu adalah adik kelasku yang sempat digosibkan sebagai selingkuhan Irwan saat Irwan masih menjalin kasih denganku. Dika meladeni fans-fansnya dengan sanagt lembut dan ramah walaupun masih tersimpan rasa jengkel akan kejadian tadi dicafe.
“udah semuakan? Dika pulang dulu ya? Kalian jangan malem-malem pulangnya, ati-ati ya? Makasih udah dateng malam ini, besok seru-seruan lagiya?” ucap Dika penuh perhatian. Dia memang sosok yang hebat, aku tak tau bahwa Dika begitu perhatiannya kepada fans-fansnya.
Aku dan Dika lalu menuju mobil kami aku mendengar bisik-bisik fansnya
“pacarnya kak Dika cantik banget ya? Gilak cocok banget” ucap mereka yang ternyata didegar oleh Dika pula. Dika langsung menggandengku.
Didalam mobil aku hanya diam, sejujurnya aku mulai nyaman dengan perlakuan Dika terhadapku. Perlakuan seperti ini yang selalu aku dambakan dan ternyata sekarang aku dapatkan dari “pacar pura-puraku”
“shel, maafin Dika ya?” ucap Dika
“buat?” balasku polos
“kejadian Marsya tadi nampar Gishel”
“Marsya siapa sih Dik?” jawabku
“fans fanatik” jawabnya singkat
“enggak mungkin deh Dik, cewek ampek kayak gitu tadi” jawabku
“percaya deh sama Dika, dia bukan siapa-siapa kok” ucapnya gugup
“Dika masih mau terusin bohongin Gishel? Gishel kenal dika enggak Cuma sebulan dua bula lho” balasku memojokannya.
Dika hanya terdiam, aku tau Dika sedang menyimpan rahasia besar dariku. Tapi apa?  Aku selalu bertanya-tanya siapa Marsya dari kami pertama bertemu


“Temenin Dika bentar ya Shel?” ucapnya tiba-tiba
Aku hanya mengangguk, dia bawa aku kesebuah danau yang indah. Ini tempat dimana terakhit Dika berpamitan kepadaku saat dia akan pergi ke Singapore, aku tau tempat ini adalah tempat Dika membuang semua kepenatan yang dia rasakan. Tempatnya indah, dah sangat menakjubkan.
Dika mengajakku ketepian danau, aku tak tau apa yang sedang Dika rasakan sekarang. Tiba-tiba Dika mengagetkanku dengan pernyataannya
“Marsya itu tunangannya Dika, 1tahun lalu” ucapnya tak memperdulikanku yang ada dibelakangnya
“apa? Jadi Marsya nampar Gishel karna gishel udah ngerusak hubungan kalian? Dika kenapa engggak cerita? Gishel enggak enak sama Marsya!! Gishel tau perasaan Masys pasti sakit benget. Kok Dika tega sih? Gishel gak nyangka” ucapku kaget dan sedikit bernada tinggi
“Marsya yang jahat sama Dika duluan!! Marsya khianatin Dika sama Kian, sepupu Dika yang ada diSingapore! Marsya hamil anaknya Kian” ucapnya, terdengan suaranya bergetar.
Aku merasakan betapa bodohnya aku bisa membentak Dika dan menyalahkan Dika begitu saja tanpa tau apa yang Dika rasakan.
Aku memeluk Dika dari belakang, aku sandarkan kepalaku dipunggungnya
“maafin gishel ya Dika? Gishel enggak maksud bikin Dika sedih” ucapku
“iya gapapa kok, Dika yang harusnya mintak maaf ke Gishel. Dika bawa-bawa Gishel dimasalah Dika” ucapnya sembari memeluk tanganku yang mekingkar ditubuhnya.
Aku lepaskan pelukanku itu dan berpindah kedepan tubuh Gilang, aku mengusap air mata yang menetes dipipi Dika
“Dika jangan sedih ya? Gishel disini kok buat Dika” ucapku. Tiba-tiba Dika memeluk tubuhku.
“Dika, kalo Dika tau. Gishel suka perlakuan Dika seperti ini” ucapku dalam hati
“makasih ya Shel kamu udah nenangin aku” ucap Dika.
Aku tak menyangka malam ini begitu berbeda dengan hari biasanya. Begitu romantis, indah dan nyaman ada dipelukan Dika. aku melepaskan pelukan itu, dia menatapku , aku hanya tersenyum.
“udah ah galaunya, yuk pulang. Dingin nih” ucapku menutupi rasa malu ini karena tatapan Dika.
“bentar lagi ya? Nih pake biar enggak dingin” katanya sembari memberikan jasnya kepadaku.
Dia mengajakku duduk disebuah bangku taman. Ku sandarkan kepalaku tepat di pundaknya, kami berdua hanya terdiam.
“dika” ucapku
“ya?” jawabnya
“ngantuk” balasku maja
“ih ni anak kebo banget sih. Sini tidur disini dulu” ucapnya sebari menepuk pahanya. Aku rebahkan kepalaku dipangkuannya. Tak terasa aku tertidu dipangkuannya, tiba-tiba Dika membangunkanku.
“kok udah sampek rumah?” jawabku kaget
“iyaa tadi mau bnagunin lo kayak kebo sih. Enggak berubah!!” ucapnya
“brisik” sembari aku membuka pintu mobilnya
“Dika, pintunya enggak mau dibuka” ujarku
“emang” jawabnya sembari turun dari mobil dan segera membukakan pintu mobilnya untukku
“makasih”
“udah gih pulang sana, keburu pagi, entar dicariin tante Rika lagi” ucapku
“ngusir nih ceritanya? Oiya hampir lupa, besok gw jemput jam 10 ya? Mama mau ketemu lo, kangen katanya” jawab Dika
“oke deh, on time ya? Awas telat! Haha”
“yaudah gw pulang dulu ya?”
“eh bentar ini jasnya. Sini Gishel pakein” jawablu sembari mengenakan Jas hitamnya ditubuhnya yang gagah itu.
“nah gini kan keren” ucapku
“baru tau Dika keren? Haha, udah ya pulang dulu, selamat malam Gishel” ucapnya sembari mencium keningku (lagi)
“iyaaaa” jawabku
Aku menunggu Dika hingga tak terlihat lagi dari depan rumahku, baru aku masuk kedalam rumahku yang sudah sepi.
Aku menuju kekamarku, segera ku berganti pakaian ku. Selesai berganti pakaian aku duduk didepan cerin meja riasku sembari membersihkan make pu dari wajahku, aku mengingat kejadian indah hari ini, Dika sahabatku yang ternyata mempunyai sisi yang berbeda. Aku mulai senyum-senyum didepan cermin itu.
Aku rebahkan tuuhku ke kasur empukku, saat aku mau memejamkan mataku, Hp ku bergetar ternyata itu Dika
*DikaRamadhan ♥
“Thanks ya Shel udah nemenin Dika ngegalau. Kamu cantk banget malam ini. Haha. Buruan tidur! Besok gw jemput jam 10 lho ya? Nite “pacar” ♥ you ({}) “
*GishelCandra ♥
“iya sama2 Dika sayang. Enggak boleh galau-galau lagi ya? Kamu juga cepet bobo gih, telat jempu awas ya. Haha dasar bocah ♥ you too “pacar” ({})”
*DikaRamadhan ♥
“iyaaa cantik. Have a nice dream sayang \(ˇˇ)/ *bighugs”
*Gishelcandra ♥
“ iyaaaa ganteng. Have a nice dream too, impin Gishel ya? ƪ(˘˘)┐ ƪ(˘˘)ʃ ┌(˘˘)ʃ haha xxo”
Pesan terakhir yang kau kirimkan kepada “pacar”ku tersayang dan aku memutuskan untuk tidur.
Keesokan harinya aku bangun lebih siang dari pada biasanya 08.30 aku baru terbangun, itu juga karena sms yang masuk di hpku
*Kristin
“Artis!!! Kita jalan dulu ya sama anak-anak, lo sih dibangunin susah jadi kita tinggal deh. Bye Cantik, haha (3) “
*GishelCandra ♥
“ih jahat kan ya ditinggal2. Yaudah deh, lagian entar gw juga mau jalan kok sma Dika. biak-baik ya kucel, jangan macem2, haha”
Setelah aku engirimkan pesan singkat itu, aku lalu bergegas mandi dan bersiap. Kuambil dress rajutan berwarna putih dengan lengan panjang dan panjangnya 3cm diatas lututku. Seperti biasa, rambutku ku biarkan terurai, kupoles wajahku seperti biasa. Kuambil pump shoes hitamku dan segera ku kenakan, aku ambil tas jinjing yang selaras dengan baju yang ku kenakan. Aku tata barang wajib yang harusku bawa. Saat kuliah jam yang ada ditanganku, ternyara sudah pukul 09.57. segera aku turun dan aku duduk disofa ruang tamuku. Baru saja aku duduk, bel rumahku sudah berbunyi, segera kubuka pintu dan sudah ada pangeran tampan didepan pintu rumahku.
“selamat pagi sayang” ucapnya menyapaku
“haha, apaan sih Dika nih. On time banget sih?” balasku
“haha, telat 3menit nih” ucapnya
“berarti dapet hukuman ini ya? Udah telat 3menit. Haha”
“apa hukumannya?”
“ajakin gw hunting foto besok. Haha”
“oke siap Cuma gitu doangkan? Apa sih yang enggak buat kamu” rayunya
“dih, gobal. Udah yuk jalan” ucapku sembari menggandengnya.
Kami pergi menuju sebuah tempat makan yang tidak jauh dari rumahku. Sesampainya disana, kami meliat tanate Rika sedang bersama Marsya.
“Dika, ada nenek lampir”
“tenang ini diluar dugaan” ucap Dika sembari merangkulku dan terus berjalan kearah mereka
“pagi tante Rika” sapaku kepada mama Dika yang sebenarnya juga sahabat mamaku saat SMA dulu
“nah, ini tante yang ngerebut Dika dari Marsya. Engggak tau diri banget kan ya?” sentak Marsya tiba-tiba.
“Lo ngomong apa sama nyokap gw?” sahut Dika
“Dika udah jangn bikin ribut ah” ucapku menenagkan Dika yang kembali terbakar emosinya
“Ini yang kamu maksud Marsya? Marsya, tante kira kamu ini baik. Ternyata enggak, tante kenal baik siapa Gishel dan keluarganya. Tante kecewa sama kamu!” ucap mama Dika
“tapi tante..”
“sudah!  Bisa kamu tinggalkan kami disini?” sela tante Rika
Marsya akhirnya eninggalkan kami. Kami bertiga lalu berbicara banyak, tante bercerita tentang kesibukannya beberapa hari ini dan Tante Rika mulai membuka masa lalu ku dan Dika saat masih kecil. tante Dika bukan seorang yang kolot, dia seorang yang baik dan mengerti dunia anak muda, ya mungkin karena pekerjaannya dibidang fashion dan cafe-cafe anak muda menuntutnya untuk mengerti gejolak kaum muda sekarang.
“oiya, Dika lupa ya cerita sama mama?”
“cerita apa sih mah?”
“Marysa kalian pacaran?” tanya Tante Rika sembari mlempar senyum ingin taunya
“haha...”
“iya mah, kita pacaran. Baru hari ini rencananya Dika cerita sama mama, sekalian didepan Gishel.”
“tuh, akhirnya juga pacaran. Dulu mau dijodohin pake nolak.” Jawab mama Dika
Tiba-tiba HP Tante Rika berdering, tante Rika mengangkat telponenya dan setelah itu dia meninggalkan kami.
“Dika, apaan sih! Kenapa enggak jujur aja sama Tante Rika? Kan entar jadi ribet. Ah Dika mah” ucapku
“enggak ah, entar kalo gw bilang jujur. Gw suruh balik lagi sama Marsya gimana?”
“jangan!” ucapku sedikit membentak
“tuh kan, Gishelnya cemburu! Haha”
“ih apa sih ya? Enggak kok” ucapku malu
“jujur aja sayang” katanya sembari merangkulku
“engak kok ye. Entar kalo kamu balik sama Marsya yang bantuin Gishel siapa?”
“oh gitu?!”
“ih si ganteng marah” ucapku menggodanya
“hemm”
“ih maaf deh sayang” jawabku merayu
“cium dulu baru dimaafin”
“ogah!” jawabku
“yaudah”
Entah kenapa aku takut saat dia benra-benar marah kepadaku, aku mencium pipinya dan saat bersamaan dia menoleh, bibirku tapat mendarat di samping bibirnya. Segeraku lepaskan ciuman itu dan ku segera menarik tangannya untuk mengajaknya pulang.
“iya bentar-bentar, sabar sakit ini tangannya” ucapnya saat aku menariknya
Dia mengajakku kesebuah taman untuk melihat lokasi tempat dia membayar hukumannya untuk menemaniku hunting foto. Dia menggandeng tanganku, kami berjalan berputar-putar.
“Dika, 2hari lagi Gishel pulang keJakarta”
“kok cepet?”
“kan senin udah asuk sekolah”
“yah, terus kita juga udahan pacarannya?”
“terserah Dika aja.” ucapku yang sedikit kecewa mendengar ucapan Dika
Tiba-tiba Dika menghentikan langkah kami, dia menggengam erat tanganku dan manetapku tajam.
“Dika kenapa sih ngeliatin Gishel gitu?” jantungku berdegup kencang tak karuan.
“Makasih ya Gishel udah jadi “pacar” pura-pura Dika? tapi maaf ya shel, Dika enggak bisa lanjutin sandiwara ini” ucapnya
Sakit rasanya, entah kenapa dadaku terasa sesak. Mataku mulai berkaca-kaca, entah apa yang kurasakan seharusnya aku tak boleh seperti ini. Cepat atau lambat sandiwara ini akan berakhir. Tapi kenapa harus secepat ini?
“iya sama2 ya Dika. pulang yuk, Gishel capek” ucapku sembari melangkah meninggalkan Dika
“Gishel! Dika tau Gishel kecewa sama Dika!” teriaknya sambil menghentikan langkahku
Aku hanya terdiam, tak berani kubalikan badanku karena air mataku menetes deras. Aku sadar, aku mulai mencintainya. Seseorang yang selalu menjadi tempatku berkeluh kesah dulu sekarang aku ternyata menyimpan rasa yang berbeda. Aku mengharapkan dia tetap disampingku sebagai kekasihku. Caranya menyapaku, memperhatikanku dan menjagaku amat ku dambakan selama ini. Namun itu semua hanya harapanku belaka, dia hanya mengangapku sebagai sahabat! Harusnya aku tau, sikapnya ini hanya sebagai bumbu sandiwara kami yang sudah kami rencanakan. Hanya saja bodohnya aku membuat perasaanku menjadi berantakan sendiri. Dika, Gishel sayang sama Dika
“Gishel! Dika sayang sama Gishel, jangan tinggalin Dika lagi” ucapnya yang mengagetkanku
Aku membalikan badanku dan berlari mendekap erat tubuh Dika.
“Dika Jahat!!” ujarku
“Maafin Dika. dika enggak mau Gishel punya pacar lagi diJakarta. Dika pengen Gishel jadi pacar Dika beneran, enggak Cuma sandiwara doang!” jelas Dika sembari memeluk erat tubuhku yang terjatuh didadanya yang bidang.
“Gishel juga sayang sama Dika” ucapku lirih
“Gishel mau gak jadi pacar Dika?” tanyanya sembari mengusap air mataku
Aku hanya menganggukan kepalaku, untuk kesekian kalinya dia mengecup keningku dan memelukku erat.
Mulai saat itu kami resmi menjadi sepasang kekasih.cinta yang berawal dari persahabatan dan sandiwara semata. Sosok laki-laki yang aku harapkan selama ini, ternyata dia adalah sahabatku sendiri. Hubungan kami berjalan sangat mulus, ya walaupun perbedaan perbedaan pemikiran kami terkadang membuat kami berdua cekcok, tapi akhirnya kami mampu menghadapinya. Kami menjalani pacaran jarak jauh sampai kami menyelesaikan Sekolah Menengah Atas kami, setelah itu aku kembali keBandung dan kuliah disana.
Tak pernah ku lihat sosok Irwan lagi setelah terahkir kali dia menghadiri pesta ulang tahunku tang sangat spesial. Dika, kekasihku mengirimkan sebuah bouqet bunga bertuluska “ Happy Birthday my wordl, Gishel Candra from : Dika Ramadhan. I Love You” dan menitipkan 100 mawar merah lewat tamu undangan ku, ditambah dengan video foto-foto kenangan kami sejak kami masih kecil hingga sekarang dan sebuah cincin berlian yang indah.
Dika, terima ksih sudah menjadi pelengkap hidup Gishel. Kebersamaan kita terasa sempurna saat kepercayaan yang kita jaga hingga sekarang ini. Cinta yang berawal dari sandiwara sekarang telah menjadi nyata dikehidupan kita. I Love You Dika Ramadhan...

Comments

Post a Comment

Popular Posts